Kamis 4 Oktober 2012 merupakan hari yang gak akan terlupakan bagi gw. Hari itu Indy mulai mogok menyusu secara mendadak. Malam sebelumnya dia mulai menolak, gw mencoba menyusuinya, tapi dia terus menangis. Nyokap gw menyimpulkan dia lapar, kemudian disuapi bubur, setelah itu dia tertidur.
Semalaman dia tidak menyusu sama sekali. Gw masih gak menyangka bahwa dia mogok menyusu. Hari itu kebetulan gw masih nggak masuk krn masih gak enak badan. Setelah mandi pagi dan sarapan, biasanya Indy mengantuk kemudian minta menyusu, seperti biasa kebiasaannya sebelum tidur. Namun saat gw mencoba menyusuinya dia memberontak dan mulai menangis keras menolak. Gw terpukul sekali. Seperti biasa ortu gw menggendongnya utk menenangkannya.
Indy memang tenang. Tapi gw yg mulai nggak tenang. Gak biasa2nya Indy tiba2 mogok menyusu. Biasanya bagi Indy empeng is the best, seheboh apapun menangis kalo gw jejelin empeng dia akan terdiam, dan menghisap dalam2 dengan nikmat, sambil matanya merem melek keenakan mulai tertidur atau kedep2 melihat ke arah gw, sekeliling, sambil mungkin berkata "Tiada benda lain yang seenak empeng Mama!"
Jumat 5 Oktober hal yang sama masih berlangsung. Gw mulai limbung. Gak tahan gw mulai sering menangis. Padahal masih ada Luna yang butuh perhatian gw. Gw sedih, kecewa, galau, gak semangat. Gw yg sedang gak enak badan gak mungkin istirahat doang memikirkan kemalangan ini walaupun ingin.
Sabtu 6 Oktober keadaan belum berubah. Indy masih menangis jika melihat gw membuka baju ingin menyodorkan empengnya. Dia mau digendong gw, tetapi jika posisinya seperti ingin disusui, dia segera menangis. Gw makin merasa teraniaya, terbuang dan merasa tidak dibutuhkan. Sakiiiiitt sekali rasanya. Gw mulai membaca2 Gayatri Mantram, membisikkan ke telinga Indy bahwa gw ingin dia mau menyusu ke gw lagi. Gw mencari2 bahan bacaan tentang hal ini. Akhirnya menemukan 2 cerita yang cukup membesarkan hati gw, tentang anak yg mengalami breast refusal di usia sekitar 1 tahun namun akhirnya kemudian mau menyusu kembali. Harapan gw mulai pulih...
Minggu 7 Oktober Indy masih mogok menyusu. Sejak dia mengalami breast refusal ini, dalam sehari hampir 4x gw mulai memompa ASI supaya produksi terus terjaga. Sehari dapat 2-3 botol, lumayanlah. Dukungan dalam menghadapi ini bukan main minimnya. Nyokap gw berkata bhw mestinya gw bersyukur Indy mau menyapih dirinya sendiri daripada nanti susah menyapihnya. Gw dg keras kepala tidak mau mengakui bahwa Indy menyapih dirinya sendiri, walaupun dia mogok menyusu. Dan banyak kata2 lain yang rasanya makin menghancurkan hati gw (ASI sudah nggak bagus, gizinya kurang, mesti ditambah susu sambung, dll) padahal memberi ASI kepada Indy selama 2 tahun sudah gw canangkan sejak gw hamil.
Senin 8 Oktober belum ada perubahan berarti. Indy masih batuk grok-grok dan masih menangis tiap gw sodorkan payudara. Gw bener2 hancur mental...gw mulai sering menangis, dan untuk pertama kalinya gw mulai curhat ke papanya anak2 (sejak 5 bulan lalu gw berusaha keliatan tegar di mata dia). Tidak banyak kalimat penghiburan yg dikatakan, selain bahwa gw harus menghargai keinginan anak2 apapun itu dan tidak memaksakan kehendak. Mungkin Indy memang sedang tidak ingin menyusu dulu. Gw makin nangis dengernya. Gw sama sekali nggak siap kalo Indy menyapih dini. Gw masih ingin menikmati momen2 menakjubkan berduaan ketika menyusui dia. Sebut gw lebay krn cuma gara2 ditolak nenen aja gw bisa demikian hancur. Tapi demikianlah yg gw rasakan sekarang. Saat ini gw gak tau harus berbuat apalagi supaya Indy kembali mau menyusu, selain berdoa dan berharap mukjizat Tuhan...
Minggu, 07 Oktober 2012
Sampai kapan hal ini terjadi???
Senin, 30 Januari 2012
Cerita singkat ~ Perkenalan
Perkenalan diriku ini, yang mempunyai panggilan singkat Tha (karena mayoritas semua memanggil gw dengan sebutan Tha).
Seorang Mama dengan 3 anak yang semuanya perempuan, bekerja sebagai abdi negara di instansi pemerintah yang kantornya di seberang Monas.
Doyan makan makanan enak, benci duren, timun, tauge (gw nyebutnya kecambah), tapi badan gak pernah gemuk sampai punya anak.
Anak tengah, diapit kakak perempuan dan adik laki2 yg badannya sudah jelas pasti lebih besar dan tinggi dariku sehingga lebih sering dianggap kakak gw!
Mempunyai darah Bali dari bapak dan Jawa dari mama, tapi nggak bisa berbahasa Bali sama sekali! Dan punya suami yang juga orang Bali totok aseli yang herannya juga tidak bisa berbicara bahasa Bali!
Inilah cerita2 gw yg ingin gw ungkapkan, tentang apa saja, tentang anakku, hidupku, pekerjaanku, keluargaku, cita2ku, galauku, dan lain-lain.
Inilah cerita Tha Nyoco, Tha nya Nyoco, Nyoco nya Tha (Nyoco itu nama panggilan sayang suamiku sejak masih pacaran).
Kamis, 12 Januari 2012
Keuangan Keluarga dan Dana Pendidikan
Sebenernya tergolong telat, krn gw baru aware dg keuangan keluarga setelah 4 tahun married. Hahaha, bayangkan! Kemane aje loe selama ini?!! Berkeluarga dg gaya koboi kayak gw (kamu disana, aku disini) memang menjadikan kami berdua, sampai saat ini, gak tau penghasilan masing2, pengeluaran masing2. Ah gile lo, kok bisa? Nah itu dia, gw juga bingung, kok bisa ya?
Sebelum menikah, kami berdua mendiskusikan bbrp hal yg akan menjadi konsekuensi pernikahan. Dan kesepakatan kami antara lain, gw tetap bisa bekerja tp posisi gw adalah komplementer, dalam artian bukan berarti penghasilan gw hak gw doang tapi bisa berpengaruh thdp kebutuhan keluarga kecil kami. Walau demikian suami akan sebisa mungkin memenuhi kebutuhan gw dan anak2 kami kelak. Dan pengelolaan penghasilan diserahkan masing2, dalam artian gw ngelola penghasilan gw sendiri, suami juga demikian.
Waktu masih serumah, praktis semua pengeluaran selama berjalan sama suami adalah pengeluaran dia. Gw cuma keluar duit klo gw lagi jalan sendiri, misal pulang kantor mampir belanja, nah itu gw yg bayar. Demikian juga ongkos dan makan gw di kantor, berasal dari gaji gw. Suami gak kasih gw semacam uang pegangan utk operasional. Kami berdua masing2 punya tanggung jawab lain juga, seperti gw yg membayar pengeluaran rutin rumah ortu utk bayar listrik dan telpon, demikian juga suami.
Semua berjalan sampai akhirnya lahir anak pertama, Luna. Biaya kontrol kandungan dan melahirkan jelas tanggungan suami dong, secara dia dapat ganti dari kantornya. Demikian juga biaya imunisasi. Karena gw stay di rumah ortu gw dan suami stay di rumah ortunya, sedangkan Luna adalah peminum sufor, tentu ada biaya yang LUMAYAN BANYAK harus dikeluarkan setiap bulan. 3 bulan magabut (kan cuti hamil, jadi cuma dapet gaji thok dong, tunjangan kagak bo, wkt itu sistemnya kalo cuti nggak dapat tunjangan) gaji gw lumayan terkuras beli perkakas bayi macam diapers dll (untungnya Luna pake popok jadi pake diapers klo lg diajak keluar aja). Karena masa2 ini hubungan gw masih panas2nya (bukan panas arti sensual ya :P tapi lg "Siaga I" atau "Awas" klo ikutin status gunung berapi) gw gak minta duit sama suami. Gengsi ceritanya! Tapi kobol2 juga lama2. Dan akhirnya memang suami memberikan salah 1 kartu ATMnya utk gw bawa, yang sejak itu diperuntukkan utk biaya operasional gw dan Luna. Jadi tiap bulan abis gajian dia transfer sejumlah sekian utk kebutuhan Luna (dan gue). Nah baru deh keuangan gw longgar kembali, gak sesek napas.
Berada dalam kondisi yang tidak menentu membuat gw berpikiran, bahwa apapun yang terjadi gw tidak boleh 100% tergantung siapapun, gw harus siap mental dan finansial klo sesuatu yg terburuk terjadi (waktu itu hubungan kami cukup buruk utk ukuran suami istri), dan terutama gw harus bisa survive, selain utk diri sendiri juga utk anak gw in case terjadi hal yg tidak diinginkan (oh yeah, gw pun merasakan hal ini dan bisa mengerti dan memahami mengapa artis2 itu gampang sekali bercerai, stlh gw merasakan momen2 dimana kami berdua bener2 tidak bisa memahami satu sama lain, pdhal dah jalan bareng 6,5 tahun lamanya).
Nasihat nyokap gw di sini adalah: gak boleh boros sama duit! Maka gw pun mencari cara gimana supaya kelak gw bisa menyekolahkan anak gw, gimana dg duit yg ditransfer rutin sama suami itu gak lenyap begitu aja tp bisa gw sisihkan untuk dana pendidikannya kelak. Kalo utk kebutuhan hidup sih gw masih bisa penuhi.
Karena gw gak punya bayangan sama sekali ttg pengelolaan duit ini, secara sederhana gw hanya ikut tabungan rencana dari bank plat merah terbesar setelah gw dilamar dg jumlah setoran bulanan 200rb. Ketika jatuh tempo (gw ikut thn 2007 dg jatuh tempo 2 tahun) gw perpanjang lagi sampai tahun 2014 dg jumlah setoran tetap, sesuai dengan perkiraan umur Luna masuk SD (6 tahun). Gw percaya klo cuma nabung doang gak bakalan kekejar dana pendidikan Luna krn ada inflasi dsb. Maka gw pun tertarik dg asuransi pendidikan.
Waktu itu gw sama sekali gak tau produk2 utk perencanaan dana pendidikan. Yg sering gw denger adalah asuransi pendidikan. Tp cara kerjanya kayak apa juga gw gak tau. Kebetulan teman akrab orangtua kami adalah agen asuransi cap kuning. Dia menawarkan produk asuransi investasi (yg kemudian gw tau namanya unitlink). Krn gw ga tau spesifik produknya, gw iya2in aja, gw percaya sepenuhnya. Walau gw agak bingung, soale setau gw asuransi pendidikan itu biasanya di ilustrasi ada gambarannya klo umur anak 4 thn dapat berapa, 6 thn dpt berapa, 12 thn, 15 thn, 18 thn.
Singkat kata akhirnya polis gw keluar, bulan Januari 2009, tertanggung adalah gw dg ahli waris Luna. Uang Pertanggungan 100jt, premi 400rb per bulan, masa pembayaran selama 10thn. Dilengkapi dengan rider kesehatan dan waiver. Wah, gw ga tau deh istilah2nya saat itu, yg gw minta cuma spy klo masuk RS bisa klaim ganti biaya. Karena pikir gw, biasanya anak kecil kan pasti sering sakit2, siapa tau aja harus masuk RS.
Di saat bersamaan, temen atasan gw di kantor juga prospek gw utk ikutan asuransi pendidikan dari perusahaan warna hijau. Gw liat di ilustrasinya, tnyata yg seperti itu yg (tadinya) gw inginkan, bener2 asuransi pendidikan. Jadi di umur2 masuk tingkatan sekolah kita mendapatkan dana sekian. Asuransi itu sama juga jenisnya, unitlink, menggabungkan asurans dan investasi. Setelah revisi premi karena gw hny sanggup 4jt per tahun, maka dibuatlah ilustrasi, sampai akhirnya gw setuju dan polis dibuat. Saat itu Maret 2009. Jadi gw memiliki 2 polis unitlink. Tertanggung gw, UP 15jt, premi 4jt15rb per tahun yg dibayar semesteran, ridernya ADDB. Di polis sih gw liat masa pembayaran terus menerus... Gw pikir, ya sudahlah ntar kan bisa nego lagi spy masa bayarnya cukup 10 tahun aja.
Untuk kedua produk diatas, gw sama sekali gak ikut menentukan akan dimasukkan kemana saja dana investasinya. Unitlink cap kuning 50% saham 50% dana berimbang, unitlink hijau 100% saham. Ini yg menentukan para agen, gw sama sekali gak tau apa itu masuk ke saham apa itu dana berimbang. Sekilas aja gw pelajari polisnya, tp gw tetep gak tau maknanya apa (gw baca polisnya sampai habis lho).
Jadi total gw memiliki 2 polis unitlink, 1 tabungan rencana, deposito berjangka dan tabungan biasa. Dalam hati gw berpikir, setiap melihat gambaran ilustrasi di polis2 itu, wah enak banget ya cuma bayar sekian di masa depan duit kita bisa berkembang jadi sekian ratus juta. Gw pun sempat berpikir utk diversifikasi aset dg membuat unitlink lagi di bank pemerintah. Namun akhirnya gw batalin rencana itu krn gw mikir gimana bayar preminya ntar.
Sebelum menikah, kami berdua mendiskusikan bbrp hal yg akan menjadi konsekuensi pernikahan. Dan kesepakatan kami antara lain, gw tetap bisa bekerja tp posisi gw adalah komplementer, dalam artian bukan berarti penghasilan gw hak gw doang tapi bisa berpengaruh thdp kebutuhan keluarga kecil kami. Walau demikian suami akan sebisa mungkin memenuhi kebutuhan gw dan anak2 kami kelak. Dan pengelolaan penghasilan diserahkan masing2, dalam artian gw ngelola penghasilan gw sendiri, suami juga demikian.
Waktu masih serumah, praktis semua pengeluaran selama berjalan sama suami adalah pengeluaran dia. Gw cuma keluar duit klo gw lagi jalan sendiri, misal pulang kantor mampir belanja, nah itu gw yg bayar. Demikian juga ongkos dan makan gw di kantor, berasal dari gaji gw. Suami gak kasih gw semacam uang pegangan utk operasional. Kami berdua masing2 punya tanggung jawab lain juga, seperti gw yg membayar pengeluaran rutin rumah ortu utk bayar listrik dan telpon, demikian juga suami.
Semua berjalan sampai akhirnya lahir anak pertama, Luna. Biaya kontrol kandungan dan melahirkan jelas tanggungan suami dong, secara dia dapat ganti dari kantornya. Demikian juga biaya imunisasi. Karena gw stay di rumah ortu gw dan suami stay di rumah ortunya, sedangkan Luna adalah peminum sufor, tentu ada biaya yang LUMAYAN BANYAK harus dikeluarkan setiap bulan. 3 bulan magabut (kan cuti hamil, jadi cuma dapet gaji thok dong, tunjangan kagak bo, wkt itu sistemnya kalo cuti nggak dapat tunjangan) gaji gw lumayan terkuras beli perkakas bayi macam diapers dll (untungnya Luna pake popok jadi pake diapers klo lg diajak keluar aja). Karena masa2 ini hubungan gw masih panas2nya (bukan panas arti sensual ya :P tapi lg "Siaga I" atau "Awas" klo ikutin status gunung berapi) gw gak minta duit sama suami. Gengsi ceritanya! Tapi kobol2 juga lama2. Dan akhirnya memang suami memberikan salah 1 kartu ATMnya utk gw bawa, yang sejak itu diperuntukkan utk biaya operasional gw dan Luna. Jadi tiap bulan abis gajian dia transfer sejumlah sekian utk kebutuhan Luna (dan gue). Nah baru deh keuangan gw longgar kembali, gak sesek napas.
Berada dalam kondisi yang tidak menentu membuat gw berpikiran, bahwa apapun yang terjadi gw tidak boleh 100% tergantung siapapun, gw harus siap mental dan finansial klo sesuatu yg terburuk terjadi (waktu itu hubungan kami cukup buruk utk ukuran suami istri), dan terutama gw harus bisa survive, selain utk diri sendiri juga utk anak gw in case terjadi hal yg tidak diinginkan (oh yeah, gw pun merasakan hal ini dan bisa mengerti dan memahami mengapa artis2 itu gampang sekali bercerai, stlh gw merasakan momen2 dimana kami berdua bener2 tidak bisa memahami satu sama lain, pdhal dah jalan bareng 6,5 tahun lamanya).
Nasihat nyokap gw di sini adalah: gak boleh boros sama duit! Maka gw pun mencari cara gimana supaya kelak gw bisa menyekolahkan anak gw, gimana dg duit yg ditransfer rutin sama suami itu gak lenyap begitu aja tp bisa gw sisihkan untuk dana pendidikannya kelak. Kalo utk kebutuhan hidup sih gw masih bisa penuhi.
Karena gw gak punya bayangan sama sekali ttg pengelolaan duit ini, secara sederhana gw hanya ikut tabungan rencana dari bank plat merah terbesar setelah gw dilamar dg jumlah setoran bulanan 200rb. Ketika jatuh tempo (gw ikut thn 2007 dg jatuh tempo 2 tahun) gw perpanjang lagi sampai tahun 2014 dg jumlah setoran tetap, sesuai dengan perkiraan umur Luna masuk SD (6 tahun). Gw percaya klo cuma nabung doang gak bakalan kekejar dana pendidikan Luna krn ada inflasi dsb. Maka gw pun tertarik dg asuransi pendidikan.
Waktu itu gw sama sekali gak tau produk2 utk perencanaan dana pendidikan. Yg sering gw denger adalah asuransi pendidikan. Tp cara kerjanya kayak apa juga gw gak tau. Kebetulan teman akrab orangtua kami adalah agen asuransi cap kuning. Dia menawarkan produk asuransi investasi (yg kemudian gw tau namanya unitlink). Krn gw ga tau spesifik produknya, gw iya2in aja, gw percaya sepenuhnya. Walau gw agak bingung, soale setau gw asuransi pendidikan itu biasanya di ilustrasi ada gambarannya klo umur anak 4 thn dapat berapa, 6 thn dpt berapa, 12 thn, 15 thn, 18 thn.
Singkat kata akhirnya polis gw keluar, bulan Januari 2009, tertanggung adalah gw dg ahli waris Luna. Uang Pertanggungan 100jt, premi 400rb per bulan, masa pembayaran selama 10thn. Dilengkapi dengan rider kesehatan dan waiver. Wah, gw ga tau deh istilah2nya saat itu, yg gw minta cuma spy klo masuk RS bisa klaim ganti biaya. Karena pikir gw, biasanya anak kecil kan pasti sering sakit2, siapa tau aja harus masuk RS.
Di saat bersamaan, temen atasan gw di kantor juga prospek gw utk ikutan asuransi pendidikan dari perusahaan warna hijau. Gw liat di ilustrasinya, tnyata yg seperti itu yg (tadinya) gw inginkan, bener2 asuransi pendidikan. Jadi di umur2 masuk tingkatan sekolah kita mendapatkan dana sekian. Asuransi itu sama juga jenisnya, unitlink, menggabungkan asurans dan investasi. Setelah revisi premi karena gw hny sanggup 4jt per tahun, maka dibuatlah ilustrasi, sampai akhirnya gw setuju dan polis dibuat. Saat itu Maret 2009. Jadi gw memiliki 2 polis unitlink. Tertanggung gw, UP 15jt, premi 4jt15rb per tahun yg dibayar semesteran, ridernya ADDB. Di polis sih gw liat masa pembayaran terus menerus... Gw pikir, ya sudahlah ntar kan bisa nego lagi spy masa bayarnya cukup 10 tahun aja.
Untuk kedua produk diatas, gw sama sekali gak ikut menentukan akan dimasukkan kemana saja dana investasinya. Unitlink cap kuning 50% saham 50% dana berimbang, unitlink hijau 100% saham. Ini yg menentukan para agen, gw sama sekali gak tau apa itu masuk ke saham apa itu dana berimbang. Sekilas aja gw pelajari polisnya, tp gw tetep gak tau maknanya apa (gw baca polisnya sampai habis lho).
Jadi total gw memiliki 2 polis unitlink, 1 tabungan rencana, deposito berjangka dan tabungan biasa. Dalam hati gw berpikir, setiap melihat gambaran ilustrasi di polis2 itu, wah enak banget ya cuma bayar sekian di masa depan duit kita bisa berkembang jadi sekian ratus juta. Gw pun sempat berpikir utk diversifikasi aset dg membuat unitlink lagi di bank pemerintah. Namun akhirnya gw batalin rencana itu krn gw mikir gimana bayar preminya ntar.
Selasa, 10 Januari 2012
Pengalaman Menyusui (Part 2)
Lanjutan tulisan sebelumnya di sini, kali ini tentang proses menyusui Indira. Sewaktu tau hamil yg gak disangka-sangka, gw lebih intens mencari tentang bagaimana supaya perjalanan menyusui gw bisa lancar gak seperti Luna dulu. Sekali lagi, pengetahuan yg gw dapat dari AIMI sangat, sangat membantu gw, banyak, banyak sekali malah (thanks ibu2 AIMI, I owe u a lot!). Gw gak ikutan milisnya krn gw pemalas baca email yg segambreng2 di inbox email (jangankan email dr milis, email kerjaan aja sering gak gw buka :P). Gw follow twitter AIMI di @aimi_asi.
Eh taunya Januari 2011 gw hamil. HPHT 25 Desember 2010, sebulan setelahnya udah gak dapet lagi. Curiga sih hamil krn pas masa subur suami sempet kelepasan >.< (gw gak pake KB apapun selain hitungan kalender aja). Tepat di hari gw dilantik promosi jabatan, sehabis itu gw tes pake tespack n yes the result is positive!
Ya, gw mencari banyak sekali ilmu2 menyusui, dan bertekad harus bisa menyusui anak gw eksklusif dan at least bisa S2 (menurut istilahnya). Ketika Indy lahir, hanya IMD singkat (15 menit) yg dilakukan selama gw diobras. Gak sampai saat dia merangkak mencari puting. Malam pertama gak bisa rooming krn gw operasi jam setengah 2 siang, masuk kamar perawatan jam 7 malam, dimana gw gak bisa bergerak semalaman itu. Besok subuh sekitar jam 5 Indy diantar ke kamar untuk disusui. Gw coba menegakkan badan dan menyusui Indy. Luar biasa, Indy langsung bisa menemukan puting dan menghisap dg kuat. Rasanya luar biasa banget, krn gw sangat bahagia, berarti doa gw yg khusus gw panjatkan di sanggah keluarga wkt gw pulang ke Bali pas hamil 3 bulan dikabulkan.
Indy menghisap, hanya sebentar sih, tp dia bisa melekat, itu sdh cukup buat gw krn gw tau ASI gak seketika langsung banyak di hari2 pertama melahirkan, lambung bayi baru lahir sampai berumur 2 hari palingan hanya seukuran gundu kecil. Kebijakan RS juga mendukung ibu untuk menyusui bayinya. Krn Indy lgsg bisa latch on, maka gw gak usah dipijat seram oleh suster. Malam itu untuk pertama kalinya Indy tidur sekamar dengan kami, permintaan rooming-in dibolehkan (di RS rooming-in blm menjadi kewajiban, tapi masih optional). Jadilah selama gw di RS 3 hari, Indy tidur di kamar kami 2 hari.
Oh ya, gw sempet dijadikan contoh oleh suster kamar bayi wkt diberikan pelatihan menyusui untuk ibu2 krn gw rooming-in, sedangkan yg lainnya nggak, mungkin gak tau kalo bisa atau gak minta. Selain itu yg lain kebanyakan masih anak pertama, gw udah anak ke-2, dikira udah pengalaman kali ya, pdhal sih ini sama aja gw belajar lg kayak baru punya anak pertama.
Karena sering dihisap Indy, lama2 PD gw bengkak, krn dia belum banyak minum, sedangkan produksi ASI mulai membanyak. Rasanya, hadeuh...ampun dah. Berasa bawa batu klo gw males pompa, alhasil gw hrs disiplin pompa minimal tiap 6 jam, krn kalo lbh dr itu kudu dimassage dulu, sakit bo. Belum lagi puting akhirnya mulai lecet, yess...akhirnya gw ngalamin juga lecet puting.
Klo gw liat sih posisi udah tepat, tapi gw tanya2 juga temen2 gw yg pny pengalaman menyusui lebih baik dr gw, dan mnrt mereka rata2 awal menyusui emang puting bakal lecet, palingan sekitar 2 minggu baru sembuh. Yawn! Alhasil tiap menyusui Indy, gw meringis menahan sakit. Hal ini sama sekali gak nyaman, saking aja krn gw pengen anak gw minum ASI ya gw tahan2lah rasa sakit itu. Mudah2an Indy mengerti perjuangan mamanya ini..hehehe...
Memang karena pengalaman dahulu yg gak punya persiapan apa2 untuk bisa menyusui, kali ini gw dah siapkan perlengkapan menyusui segera setelah dah boleh belanja2 pas kandungan masuk 7 bulan. Hal pertama yg gw cari adalah pompa ASI, gw beli Medela Swing yg harganya naujubileh itu, krn gw ingin semuanya berjalan lancar sesuai kemauan. Investasi sih ya menurut gw, dulu wkt lahiran Luna gw ga punya pompa jadi merasakan bengkak2 PD pas di RS gak enak bgt, masa dikit2 pinjem pompa sih, kan gak bisa pompa malam hari klo bengkaknya malam.
Kali ini krn gw bawa pompa sendiri, jadi gw bisa pompa kapanpun gw perlu, gak ngandelin pinjaman RS juga. Bagi gw harga mahal pompa gak seberapa dibanding khasiat ASI, investasinya seumur hidup. Kenapa gw pake Swing, krn elektrik dan suaranya gak berisik. Memang sih ktnya pompa pake tangan jauh lebih baik, but well...bisa brp lama wkt yg diperlukan kalo gw pompa pake tangan, palagi gw orgnya letoyan.
Hari ke 2 berat Indy turun, tadinya 3,3 kg jadi 3 kg, dan juga jaundice. Hati gw mencelos krn gw takuuut bgt klo Indy hrs ditambahi sufor, gw takut klo ASI gw gak cukup. Dem! Memang teorinya tidak, tp klo ngalamin sendiri tnyata gw pun berpikiran demikian! Jadi maklum deh sama ibu2 yg panik kuatir ASI kurang dan akhirnya setuju bayinya dikasih sufor. Untung RS tempat gw melahirkan gak begitu, kata dokter normal, besok dicek lagi. Ternyata besoknya berat Indy naik 1 ons jadi 3,1 kg dan bilirubinnya berkurang sedikit tp msh batas toleransi jd boleh pulang. Rasanya gw pengen nangis, brarti ASI gw cukup utk Indy, nyatanya beratnya naik.
Pesan dokter hanya susui lebih sering dan dijemur tiap pagi. Gw masih gak percaya krn gak menyangka ASI gw bisa menambah berat Indy. Sepulang dari RS total gw udah mengumpulkan 3 botol ASI @100cc, hasil perah selama 3 hari di RS. Sekali perah gw dapetin 30cc dari 2 PD, selama belum 24 jam gw satukan jadi 1 botol sampai nyampe 100cc. Selama mompa ini diiringi meringis krn PD lecet, blm ilang sakitnya Indy menyusu lg, gitu terus kiri kanan, sampe ngelupas kulit ujung putingnya T.T pernah hampir berdarah, tp semua gw tahan setahan2nya.
Ketika seminggu kemudian setelah pulang dari RS jadwal kontrol dokter pertama, ternyata berat Indy udah bertambah, masih 3.2kg, belum sampai berat lahirnya, tapi kata dokter gpp, setelah 2 minggu bayi akan mulai bertambah beratnya melebihi berat lahir. Dan memang terbukti demikian, pas gw kontrol dokter lagi utk buka perban, berat Indy udah 3.5kg. Gw seneng banget, berarti ASI gw cukup untuknya. Dan dokter kandungan pun gak meresepkan Molocco (waktu Luna dulu gw diresepkan Molocco wkt kontrol pertama). Kali ini 2x ke dokter kandungan gw selalu bawa Indy, jelas aja, kan dia minum langsung dari gentongnya! Hahaha!
Untuk mempertahankan produksi ASI gw mendisiplinkan diri utk memerah ASI 2x sehari. Gak bisa lebih dari itu. Bukan krn produksi kurang. Tp krn waktunya dah mepet bgt. Ini aja bener2 maksa spy bisa perah 2x sehari. Hari2 berlalu, dan selama 3 bulan cuti akhirnya gw bisa nyetok ASIP cukup banyak. Gw bersyukur banget krn diberi rejeki ASI yg cukup utk Indy, dan sejauh ini perkembangan berat badannya cukup baik. Akhirnya gw bisa juga merasakan menyusui anak setelah gagal total menyusui Luna. Semoga Indy bisa mendapatkan haknya akan ASI, dan bisa lulus ASI Eksklusif 6 bulan, ASI+MPASI 1 tahun dan sampai 2 tahun masih menyusu.
Eh taunya Januari 2011 gw hamil. HPHT 25 Desember 2010, sebulan setelahnya udah gak dapet lagi. Curiga sih hamil krn pas masa subur suami sempet kelepasan >.< (gw gak pake KB apapun selain hitungan kalender aja). Tepat di hari gw dilantik promosi jabatan, sehabis itu gw tes pake tespack n yes the result is positive!
Ya, gw mencari banyak sekali ilmu2 menyusui, dan bertekad harus bisa menyusui anak gw eksklusif dan at least bisa S2 (menurut istilahnya). Ketika Indy lahir, hanya IMD singkat (15 menit) yg dilakukan selama gw diobras. Gak sampai saat dia merangkak mencari puting. Malam pertama gak bisa rooming krn gw operasi jam setengah 2 siang, masuk kamar perawatan jam 7 malam, dimana gw gak bisa bergerak semalaman itu. Besok subuh sekitar jam 5 Indy diantar ke kamar untuk disusui. Gw coba menegakkan badan dan menyusui Indy. Luar biasa, Indy langsung bisa menemukan puting dan menghisap dg kuat. Rasanya luar biasa banget, krn gw sangat bahagia, berarti doa gw yg khusus gw panjatkan di sanggah keluarga wkt gw pulang ke Bali pas hamil 3 bulan dikabulkan.
Indy menghisap, hanya sebentar sih, tp dia bisa melekat, itu sdh cukup buat gw krn gw tau ASI gak seketika langsung banyak di hari2 pertama melahirkan, lambung bayi baru lahir sampai berumur 2 hari palingan hanya seukuran gundu kecil. Kebijakan RS juga mendukung ibu untuk menyusui bayinya. Krn Indy lgsg bisa latch on, maka gw gak usah dipijat seram oleh suster. Malam itu untuk pertama kalinya Indy tidur sekamar dengan kami, permintaan rooming-in dibolehkan (di RS rooming-in blm menjadi kewajiban, tapi masih optional). Jadilah selama gw di RS 3 hari, Indy tidur di kamar kami 2 hari.
Oh ya, gw sempet dijadikan contoh oleh suster kamar bayi wkt diberikan pelatihan menyusui untuk ibu2 krn gw rooming-in, sedangkan yg lainnya nggak, mungkin gak tau kalo bisa atau gak minta. Selain itu yg lain kebanyakan masih anak pertama, gw udah anak ke-2, dikira udah pengalaman kali ya, pdhal sih ini sama aja gw belajar lg kayak baru punya anak pertama.
Karena sering dihisap Indy, lama2 PD gw bengkak, krn dia belum banyak minum, sedangkan produksi ASI mulai membanyak. Rasanya, hadeuh...ampun dah. Berasa bawa batu klo gw males pompa, alhasil gw hrs disiplin pompa minimal tiap 6 jam, krn kalo lbh dr itu kudu dimassage dulu, sakit bo. Belum lagi puting akhirnya mulai lecet, yess...akhirnya gw ngalamin juga lecet puting.
Klo gw liat sih posisi udah tepat, tapi gw tanya2 juga temen2 gw yg pny pengalaman menyusui lebih baik dr gw, dan mnrt mereka rata2 awal menyusui emang puting bakal lecet, palingan sekitar 2 minggu baru sembuh. Yawn! Alhasil tiap menyusui Indy, gw meringis menahan sakit. Hal ini sama sekali gak nyaman, saking aja krn gw pengen anak gw minum ASI ya gw tahan2lah rasa sakit itu. Mudah2an Indy mengerti perjuangan mamanya ini..hehehe...
Memang karena pengalaman dahulu yg gak punya persiapan apa2 untuk bisa menyusui, kali ini gw dah siapkan perlengkapan menyusui segera setelah dah boleh belanja2 pas kandungan masuk 7 bulan. Hal pertama yg gw cari adalah pompa ASI, gw beli Medela Swing yg harganya naujubileh itu, krn gw ingin semuanya berjalan lancar sesuai kemauan. Investasi sih ya menurut gw, dulu wkt lahiran Luna gw ga punya pompa jadi merasakan bengkak2 PD pas di RS gak enak bgt, masa dikit2 pinjem pompa sih, kan gak bisa pompa malam hari klo bengkaknya malam.
Kali ini krn gw bawa pompa sendiri, jadi gw bisa pompa kapanpun gw perlu, gak ngandelin pinjaman RS juga. Bagi gw harga mahal pompa gak seberapa dibanding khasiat ASI, investasinya seumur hidup. Kenapa gw pake Swing, krn elektrik dan suaranya gak berisik. Memang sih ktnya pompa pake tangan jauh lebih baik, but well...bisa brp lama wkt yg diperlukan kalo gw pompa pake tangan, palagi gw orgnya letoyan.
Hari ke 2 berat Indy turun, tadinya 3,3 kg jadi 3 kg, dan juga jaundice. Hati gw mencelos krn gw takuuut bgt klo Indy hrs ditambahi sufor, gw takut klo ASI gw gak cukup. Dem! Memang teorinya tidak, tp klo ngalamin sendiri tnyata gw pun berpikiran demikian! Jadi maklum deh sama ibu2 yg panik kuatir ASI kurang dan akhirnya setuju bayinya dikasih sufor. Untung RS tempat gw melahirkan gak begitu, kata dokter normal, besok dicek lagi. Ternyata besoknya berat Indy naik 1 ons jadi 3,1 kg dan bilirubinnya berkurang sedikit tp msh batas toleransi jd boleh pulang. Rasanya gw pengen nangis, brarti ASI gw cukup utk Indy, nyatanya beratnya naik.
Pesan dokter hanya susui lebih sering dan dijemur tiap pagi. Gw masih gak percaya krn gak menyangka ASI gw bisa menambah berat Indy. Sepulang dari RS total gw udah mengumpulkan 3 botol ASI @100cc, hasil perah selama 3 hari di RS. Sekali perah gw dapetin 30cc dari 2 PD, selama belum 24 jam gw satukan jadi 1 botol sampai nyampe 100cc. Selama mompa ini diiringi meringis krn PD lecet, blm ilang sakitnya Indy menyusu lg, gitu terus kiri kanan, sampe ngelupas kulit ujung putingnya T.T pernah hampir berdarah, tp semua gw tahan setahan2nya.
Ketika seminggu kemudian setelah pulang dari RS jadwal kontrol dokter pertama, ternyata berat Indy udah bertambah, masih 3.2kg, belum sampai berat lahirnya, tapi kata dokter gpp, setelah 2 minggu bayi akan mulai bertambah beratnya melebihi berat lahir. Dan memang terbukti demikian, pas gw kontrol dokter lagi utk buka perban, berat Indy udah 3.5kg. Gw seneng banget, berarti ASI gw cukup untuknya. Dan dokter kandungan pun gak meresepkan Molocco (waktu Luna dulu gw diresepkan Molocco wkt kontrol pertama). Kali ini 2x ke dokter kandungan gw selalu bawa Indy, jelas aja, kan dia minum langsung dari gentongnya! Hahaha!
Untuk mempertahankan produksi ASI gw mendisiplinkan diri utk memerah ASI 2x sehari. Gak bisa lebih dari itu. Bukan krn produksi kurang. Tp krn waktunya dah mepet bgt. Ini aja bener2 maksa spy bisa perah 2x sehari. Hari2 berlalu, dan selama 3 bulan cuti akhirnya gw bisa nyetok ASIP cukup banyak. Gw bersyukur banget krn diberi rejeki ASI yg cukup utk Indy, dan sejauh ini perkembangan berat badannya cukup baik. Akhirnya gw bisa juga merasakan menyusui anak setelah gagal total menyusui Luna. Semoga Indy bisa mendapatkan haknya akan ASI, dan bisa lulus ASI Eksklusif 6 bulan, ASI+MPASI 1 tahun dan sampai 2 tahun masih menyusu.
Kamis, 29 Desember 2011
Pengalaman Menyusui (Part 1)
Kehamilan Indira, walaupun tidak terencana, tapi mau gak mau harus dihadapi dan disiapkan segala macam urusan menyambut bayi baru. Salah satunya adalah bagaimana supaya Indy bisa mendapatkan haknya, yaitu ASI. Pengalaman gagal memberi Luna ASI sangat membuat gw trauma, berasa seperti ibu yg gagal, karena hanya dalam umur beberapa hari Luna sudah full minum susu formula (sufor). Mudah2an cerita ini bisa jadi inspirasi bagi ibu2 yg mempunyai pengalaman serupa.
Dulu waktu hamil Luna, terus terang gw gak banyak cari tentang seluk beluk menyusui, hanya sekedar saja, dan tidak pula mempersiapkan perkakas yang mendukung gw untuk bisa menyusui. Gw lebih banyak cari tau ttg perlengkapan apa aja yg dibutuhkan untuk bayi baru, kayak perlu pakaian brp lusin, selimut, celana, popok, dsb. Hanya sekilas saja ada keluhan bbrp ibu yg bilang ASInya gak banyak, maka hrs ditambah sufor.
Rata2 jawaban dari berbagai keluhan itu adalah ibu jangan berpikir ASInya sedikit, krn nantinya itulah yang terjadi, ASI jadi dikit beneran. Ada juga kisah ibu yg anaknya keburu bingung puting duluan krn di RS dikasih sufor pake botol, tp dia ngotot tetep ASI, alhasil anaknya full ASIP sampe bisa eksklusif 6 bulan, ckckck hebat nian usahanya.
Tadinya gw sempet berpikir, ntar anak gw minumnya susu S aja, biar sama kyk gw dulu. Tapi kemudian gw baca2 ttg kehebatan ASI, dan memang sebaiknya bayi minum ASI krn itu adalah susu khusus manusia, bahwa bayi selama 6 bulan hanya minum ASI tanpa tambahan apapun termasuk air putih, dan selama 3 hari sejak kelahiran bayi masih menyimpan makanan dari rahim sehingga gak perlu diberi sufor jika ASI belum keluar. Akhirnya gw memutuskan akan memberikan anak gw ASI.
Ketika Luna lahir, gw tidak IMD walaupun ditawari krn gw keburu mual pengen munti efek anestesi. Masih keinget tangisan nyaringnya wkt dibawa keluar ruang operasi, kayaknya sedih bgt gitu, hikss.. maaf ya Nak, coba andai saja Mama lbh kuat menahan rasa mual itu, mgkn msh bisa IMD walau singkat. Setelah pindah ke ruang rawat (gw caesar Luna pagi hari jam setengah 6), magrib baru Luna diantar ke kamar. Dia hanya tertidur, gw juga bingung gendongnya gimana, perut msh sakit bekas dibelek. Saat itupun gw blm kenal yg namanya rooming in, gw pikir bayi ya di kamar bayi aja, biar ibunya bisa tidur pulas! Hehehe.. Jadi malam itu Luna kembali ke kamar bayi dan bobo di sana.
Besok subuh Luna sudah dimandikan dan diantar ke kamar, gw juga udah dibantu mandi sambil gemeteran krn badan msh kaku. Kemudian suster memandu gw utk mulai menyusui Luna. Tnyata Luna gak seketika itu melekat ke puting. Dia malah masih tidur aja dan sesekali nangis krn popoknya basah. Seharian itu gw coba menyusui Luna hasilnya nihil. Tp krn Luna gak rewel gw gak merasa itu sesuatu yg aneh.
Malam hari gw terus mencoba menyusui. Suster melihat pd gw dan memencet dg sadis! (walau diawali minta maaf) Memang gak keluar apapun dari pd. Solusinya yaitu dipijat. Walah, kalo ini mah, sumpah deh sakitnya bukan main, 2 suster memijat pd gw dengan tenaga full sukses bikin gw melolong. Rupanya pijatan sadis itu sukses, pd mulai mengeluarkan ASI. Kembali Luna ditempelkan ke pd supaya dia menyusu. Tapi dia gak bisa juga. Akhirnya diputuskan ASI gw dipompa saja spy gak bengkak. Hari kedua Luna kembali bobo di kamar bayi.
Sejak diurut, pd gw mulai bengkak. Sakitnya naujubileh. Kembali pd dipompa lg krn Luna msh blm bisa menyusu. Sampai hari ketiga Luna msh blm bisa juga menyusu langsung. Gw mulai panik, lbh krn bingung gmn ntar dia nyusu pas pulang nanti, bkn pas di RS krn di RS ASI gw selalu dipompa. Dan saat itu stres juga mulai datang krn suami memutuskan sepulang RS ke rmh ortunya, alasannya ari2 Luna ditanam di rumah mertua. Sejak 2 hari habis melahirkan gw mulai mellow gak jelas dan tertekan krn gw sebenernya pengen pulang ke rumah ortu gw.
Ketika di rumah mertua, Luna yg mulai haus rewel, dia hanya diam ketika digendong, sedangkan gw sangat lelah. Hari2 awal gw begitu horor, dan sialnya gw ga punya pompa untuk memerah ASI. Besoknya gw minta suami beli sufor, botol dan dot spy Luna tdk kelaparan krn gw msh bingung bgm caranya memberi ASI sementara dia belum bisa juga menyusu langsung. Gw juga minta suami membelikan pompa ASI, hny sekedar aja gw denger merk Medela bny direkomendasikan di forum ibu2.
Sejak saat itu Luna minum sufor. Kalo gw sempet pompa, barulah dia minum ASI. ASI yg gw perah sangat sedikit, sejam cuma dapat 60cc. Itupun belum tentu tiap hari gw pompa. Seinget gw, gw hanya pake pompa itu kurleb 5x, selanjutnya selain gw keasikan dg memberikan Luna sufor, juga krn secara mental gw merasa hancur, letih dan sendiri. Gw sering menangis knp gw harus pulang ke rumah mertua, dan hal yg paling menyakitkan adalah suami tidak peduli dg perasaan gw.
Ketika akhirnya kesabaran gw sudah habis, didahului dengan bersitegang dengan suami, gw memutuskan pulang ke rmh ortu secara sepihak, di saat tidak ada orang di rumah kecuali ART. Saat itu Luna umur 3 minggu dan sudah full minum sufor. Trauma dan kesedihan berkepanjangan serta miskomunikasi dengan suami menyebabkan Luna tidak pernah menyusu langsung. Padahal saat ini masih dimungkinkan untuk relaktasi dan datang ke klinik laktasi mengapa Luna tidak bisa menyusu langsung. Tapi gw udah terlanjur patah arang, butuh waktu lama sekali bagi gue untuk menyembuhkan sakit hati. Peran ortu gw sangat membantu menyembuhkan jiwa gw yg hancur krn sampai Luna umur 1,5 tahun suami masih tetap dengan egonya dan tidak memahami gw. Gw berusaha menerima kenyataan bhw Luna memang bernasib akhirnya minum sufor, pdhal ASI gw keluar.
Setelah bisa menerima kenyataan, gw bergabung dengan AIMI dan banyak membaca informasi yang ada di webnya. Ternyata kesalahan gw banyak sekali, dan pengetahuan menyusui gw masih sangat sangat cetek!
Hal2 yang merupakan kesalahan antara lain:
1. Tidak melakukan IMD, padahal IMD memudahkan bayi untuk melekat pada payudara
2. Tidak room-in, walaupun dari pihak RS membolehkan orangtua memilih mau room-in atau tidak (belum mewajibkan)
3. Tidak menyusui bayi, walaupun belum bisa melekat benar. Mestinya yg gw lakukan adalah terus menerus skin to skin dengan Luna, sambil mengajarinya supaya bisa melekat. Ini mah boro2, Luna terus menerus gak dapet puting, ya sudah gw letakkan lagi. Ini juga supaya ASI keluar dengan sendirinya krn terus menerus dihisap bayi, gak perlu lg deh pijatan seram dari suster.
4. Tidak segera konsultasi ke konsultan laktasi! It's big mistake! Mungkin saja Luna mengalami tongue tie. Emang gw perhatikan walau minum sufor sekalipun, dia gak pernah bisa minum banyak, max 90cc sampai umur 1 tahunan.
Dulu waktu hamil Luna, terus terang gw gak banyak cari tentang seluk beluk menyusui, hanya sekedar saja, dan tidak pula mempersiapkan perkakas yang mendukung gw untuk bisa menyusui. Gw lebih banyak cari tau ttg perlengkapan apa aja yg dibutuhkan untuk bayi baru, kayak perlu pakaian brp lusin, selimut, celana, popok, dsb. Hanya sekilas saja ada keluhan bbrp ibu yg bilang ASInya gak banyak, maka hrs ditambah sufor.
Rata2 jawaban dari berbagai keluhan itu adalah ibu jangan berpikir ASInya sedikit, krn nantinya itulah yang terjadi, ASI jadi dikit beneran. Ada juga kisah ibu yg anaknya keburu bingung puting duluan krn di RS dikasih sufor pake botol, tp dia ngotot tetep ASI, alhasil anaknya full ASIP sampe bisa eksklusif 6 bulan, ckckck hebat nian usahanya.
Tadinya gw sempet berpikir, ntar anak gw minumnya susu S aja, biar sama kyk gw dulu. Tapi kemudian gw baca2 ttg kehebatan ASI, dan memang sebaiknya bayi minum ASI krn itu adalah susu khusus manusia, bahwa bayi selama 6 bulan hanya minum ASI tanpa tambahan apapun termasuk air putih, dan selama 3 hari sejak kelahiran bayi masih menyimpan makanan dari rahim sehingga gak perlu diberi sufor jika ASI belum keluar. Akhirnya gw memutuskan akan memberikan anak gw ASI.
Ketika Luna lahir, gw tidak IMD walaupun ditawari krn gw keburu mual pengen munti efek anestesi. Masih keinget tangisan nyaringnya wkt dibawa keluar ruang operasi, kayaknya sedih bgt gitu, hikss.. maaf ya Nak, coba andai saja Mama lbh kuat menahan rasa mual itu, mgkn msh bisa IMD walau singkat. Setelah pindah ke ruang rawat (gw caesar Luna pagi hari jam setengah 6), magrib baru Luna diantar ke kamar. Dia hanya tertidur, gw juga bingung gendongnya gimana, perut msh sakit bekas dibelek. Saat itupun gw blm kenal yg namanya rooming in, gw pikir bayi ya di kamar bayi aja, biar ibunya bisa tidur pulas! Hehehe.. Jadi malam itu Luna kembali ke kamar bayi dan bobo di sana.
Besok subuh Luna sudah dimandikan dan diantar ke kamar, gw juga udah dibantu mandi sambil gemeteran krn badan msh kaku. Kemudian suster memandu gw utk mulai menyusui Luna. Tnyata Luna gak seketika itu melekat ke puting. Dia malah masih tidur aja dan sesekali nangis krn popoknya basah. Seharian itu gw coba menyusui Luna hasilnya nihil. Tp krn Luna gak rewel gw gak merasa itu sesuatu yg aneh.
Malam hari gw terus mencoba menyusui. Suster melihat pd gw dan memencet dg sadis! (walau diawali minta maaf) Memang gak keluar apapun dari pd. Solusinya yaitu dipijat. Walah, kalo ini mah, sumpah deh sakitnya bukan main, 2 suster memijat pd gw dengan tenaga full sukses bikin gw melolong. Rupanya pijatan sadis itu sukses, pd mulai mengeluarkan ASI. Kembali Luna ditempelkan ke pd supaya dia menyusu. Tapi dia gak bisa juga. Akhirnya diputuskan ASI gw dipompa saja spy gak bengkak. Hari kedua Luna kembali bobo di kamar bayi.
Sejak diurut, pd gw mulai bengkak. Sakitnya naujubileh. Kembali pd dipompa lg krn Luna msh blm bisa menyusu. Sampai hari ketiga Luna msh blm bisa juga menyusu langsung. Gw mulai panik, lbh krn bingung gmn ntar dia nyusu pas pulang nanti, bkn pas di RS krn di RS ASI gw selalu dipompa. Dan saat itu stres juga mulai datang krn suami memutuskan sepulang RS ke rmh ortunya, alasannya ari2 Luna ditanam di rumah mertua. Sejak 2 hari habis melahirkan gw mulai mellow gak jelas dan tertekan krn gw sebenernya pengen pulang ke rumah ortu gw.
Ketika di rumah mertua, Luna yg mulai haus rewel, dia hanya diam ketika digendong, sedangkan gw sangat lelah. Hari2 awal gw begitu horor, dan sialnya gw ga punya pompa untuk memerah ASI. Besoknya gw minta suami beli sufor, botol dan dot spy Luna tdk kelaparan krn gw msh bingung bgm caranya memberi ASI sementara dia belum bisa juga menyusu langsung. Gw juga minta suami membelikan pompa ASI, hny sekedar aja gw denger merk Medela bny direkomendasikan di forum ibu2.
Sejak saat itu Luna minum sufor. Kalo gw sempet pompa, barulah dia minum ASI. ASI yg gw perah sangat sedikit, sejam cuma dapat 60cc. Itupun belum tentu tiap hari gw pompa. Seinget gw, gw hanya pake pompa itu kurleb 5x, selanjutnya selain gw keasikan dg memberikan Luna sufor, juga krn secara mental gw merasa hancur, letih dan sendiri. Gw sering menangis knp gw harus pulang ke rumah mertua, dan hal yg paling menyakitkan adalah suami tidak peduli dg perasaan gw.
Ketika akhirnya kesabaran gw sudah habis, didahului dengan bersitegang dengan suami, gw memutuskan pulang ke rmh ortu secara sepihak, di saat tidak ada orang di rumah kecuali ART. Saat itu Luna umur 3 minggu dan sudah full minum sufor. Trauma dan kesedihan berkepanjangan serta miskomunikasi dengan suami menyebabkan Luna tidak pernah menyusu langsung. Padahal saat ini masih dimungkinkan untuk relaktasi dan datang ke klinik laktasi mengapa Luna tidak bisa menyusu langsung. Tapi gw udah terlanjur patah arang, butuh waktu lama sekali bagi gue untuk menyembuhkan sakit hati. Peran ortu gw sangat membantu menyembuhkan jiwa gw yg hancur krn sampai Luna umur 1,5 tahun suami masih tetap dengan egonya dan tidak memahami gw. Gw berusaha menerima kenyataan bhw Luna memang bernasib akhirnya minum sufor, pdhal ASI gw keluar.
Setelah bisa menerima kenyataan, gw bergabung dengan AIMI dan banyak membaca informasi yang ada di webnya. Ternyata kesalahan gw banyak sekali, dan pengetahuan menyusui gw masih sangat sangat cetek!
Hal2 yang merupakan kesalahan antara lain:
1. Tidak melakukan IMD, padahal IMD memudahkan bayi untuk melekat pada payudara
2. Tidak room-in, walaupun dari pihak RS membolehkan orangtua memilih mau room-in atau tidak (belum mewajibkan)
3. Tidak menyusui bayi, walaupun belum bisa melekat benar. Mestinya yg gw lakukan adalah terus menerus skin to skin dengan Luna, sambil mengajarinya supaya bisa melekat. Ini mah boro2, Luna terus menerus gak dapet puting, ya sudah gw letakkan lagi. Ini juga supaya ASI keluar dengan sendirinya krn terus menerus dihisap bayi, gak perlu lg deh pijatan seram dari suster.
4. Tidak segera konsultasi ke konsultan laktasi! It's big mistake! Mungkin saja Luna mengalami tongue tie. Emang gw perhatikan walau minum sufor sekalipun, dia gak pernah bisa minum banyak, max 90cc sampai umur 1 tahunan.
Selasa, 27 Desember 2011
Introduce my 2nd daughter: Indira
Akhirnya 2011 akan segera berakhir, dan tahun ini gw mendapatkan kepercayaan dari Tuhan utk merawat bayi lagi. Kehamilan ini datang di saat yg bersamaan dg menyelesaikan kuliah sekaligus menyusun tesis. Rasanya luar biasa capek, tapi jujur aja anehnya kok gw mampu dan nekat menyelesaikan kuliah sambil hamil, sesuatu yg jauh dari bayangan gw krn hamil ini terus terang tidak direncanakan alias kebobolan.
Selama menjalani kehamilan, gw bertekad spy hamil ini lebih baik drpd hamil Luna dulu yg males bgt ngapa2in, maunya cuma tidur di kantor dan internetan gak jelas. Krn kali ini gw sambil kuliah dan nyusun tesis, mau gak mau gw harus aktif setiap Sabtu pergi ke kampus, kuliah sampai siang, cari buku referensi ke berbagai toko buku, ketemu dosen pembimbing yg rumahnya naujubileh jauh binong di Cimanggis sono.
Walau gitu selama 2 bulan pertama gw diserang kemabokan yg lumayan menguras stamina, pulang kantor gw dah kecapekan, tidur aja, sampai2 bokap yg mengambil alih ngurusin Luna spt mandiin, nyuapin makan, bobo juga, hahaha... Tapi gw mendadak segar bugar (maksa lbh tepat) wkt ikut dinas luar ke Bali pas hamil 3 bulan, gw memohon sama atasan spy gw bisa berangkat krn gw ingin skalian pulang kampung, mohon restu atas kelancaran menjalani kehamilan dan menyelesaikan kuliah.
Trimester 2 gw mulai kuat nggak mual2 lagi, maka segera ngebut mulai menulis tesis dari mulai bab 1, 2, 3 abis itu mandeg sebulan, hehehe... kemudian mulai maksa nulis lg pas masuk trimester 3, dan akhirnya sidang dan lulus pas umur kehamilan 8 bulan. Proses revisi tesis memakan waktu 1 bulan krn ada liburan Lebaran, dan semua proses menyusun tesis ini selesai hanya seminggu sebelum jadwal gw melahirkan.
Karena dulu gw gagal total menyusui Luna (Luna gak pernah menyusu langsung ke gw sama sekali, dia hny sempet minum ASIP pas di RS, dan di rumah paling2 cuma 2-3x pompa, selebihnya full sufor), gw bertekad anak kedua ini gw HARUS bisa menyusui, paling nggak bisa eksklusif. Mulai dari ikut kelas edukasi AIMI (penting nih, ilmunya banyak dan terbukti bermanfaat semua), ikut twitter AIMI, banyak tanya, banyak baca, beli perlengkapan perang menyusui jauh2 hari segera setelah masuk umur kehamilan 7 bulan yg katanya dah boleh belanja2. Pokoknya persiapannya lebih baik untuk bisa menyusui. Untuk perlengkapan2 bayi gw malah gak beli banyak krn msh ada bekas Luna dulu.
Karena Luna dulu lahir SC maka anak kedua pun diperkirakan SC juga, walau bny yg bilang knp gak coba VBAC aja. Walau gitu gw ngotot gak mau menentukan tanggal, sempet agak kenceng2an sama nyokap krn nyokap minta gw ngomong ke dokter pilih tanggal 15 September yg diyakini baik, sedangkan dokter gw gak mau kalo umur blm 38 minggu.
Dan akhirnya memang dokter menyarankan SC, disuruh pilih tanggal sesudah tgl 17 September. Gw tadinya mau tgl 25, pas 39 minggu, tp krn stlh dicek janin terlilit tali pusar, diminta sblm tgl 25. Akhirnya gw pilih tgl 19, hari Senin. Gw masih periksa kehamilan di RSIA YPK Menteng, RSnya Dian Sastro melahirkan juga itu lho... hihihi...
Tapi memang itu cuma rencana aja, tetap saja Tuhan yg menentukan. Tadinya gw rencana mulai cuti tgl 19, pas barengan SC itu. Krn denyut jantung janin wkt kontrol terakhir agak susah nyarinya, sementara menunggu tgl 19 utk SC gw disuruh cuti sama suami pas tgl 12. Tanggal 16 gw udah mulai merasa pegel2 pinggang dan kontraksi. Gw berusaha ajak anak gw ngomong spy lahirnya jangan tgl 16 alias Jumat Pahing, tapi hari Sabtu atau Minggu aja, kalo dia gak mau lahir tgl 19 (Senin).
Setelah tgl 16 (Jumat) mulai beranjak malam, baru gw lega, krn in case gw hrs segera ke RS, hari sudah berganti ke tgl 17. Pas gw bangun pagi jam 5 mau ke kamar mandi, ada flek merah muda, persis wkt jelang melahirkan Luna dulu. Gw bangunin suami spy dia segera siap2 krn berarti pagi ini hrs berangkat ke RS. Sehari seblmnya gw udah siapin tas isi pakaian gw dan bayi kalo sewaktu2 hrs ke RS.
Akhirnya gw brkt dr rumah jam setengah 8 pagi, berdua suami. Tadinya Luna mau diajak, tp krn dia belum sarapan, diputuskan Luna ke RS bareng pekak omanya aja. Saat itu kontraksi mulai terasa setiap 15 menit sekali dan pelan, blm separah wkt kontraksi sblm Luna lahir. Jalan lumayan macet pagi itu, sampai RS sejam kemudian gw lgsg ke ruang persiapan (kala I) utk CTG. Ternyata kontraksi gw udah teratur. Kebetulan dokter gw praktek tiap hari, dan saat itu jam prakteknya.
Jam 11 siang suster menyampaikan bahwa dokter memutuskan SC dipercepat jadi hari itu juga jam 1 siang habis dokter kelar praktek. Pemeriksaan dalam menunjukkan bahwa gw udah bukaan 1. Wah gw paling benci periksa dalam ini, sakitnya sinting banget. Gw bersyukur bhw gw gak usah periksa2 dalam lagi, krn ini cuma buat bahan laporan ke dokter aja kalo emang udah ada bukaan dan kontraksi. Selama di ruang kala I itu sambil nunggu waktu kerjaan gw BBMan sama temen2 grup kuliah dan baca2 twitter aja, sampe suami gw geleng2 kepala krn BB gak pernah lepas dari tangan gw, waktu gw CTG, kecuali pas periksa dalam aja (hehehehe).
Jam 12 mulailah datang kontraksi yang tidak bersahabat itu dan 5 menit sekali...saat itu gw pamitan ke temen2 grup kuliah krn gw dah mulai ngerasa kesakitan. BB gw taro di tas, gw dah mulai gak konsen browsingan krn sakit kontraksi ini mirip sama sakit kontraksi pas mau melahirkan Luna dulu. Tadinya maunya tes nyali gitu, hayooo msh inget gak ya dg kontraksi melahirkan dulu, coba dulu kuat gak ya kalo skrg ngerasain lg. Dan hasilnya pala gw cenat cenut nahan sakit, pdhal jadwal operasi msh 1 jam lagi, yg artinya gw mesti tersiksa selama sejam kedepan, sambil kontraksi sambil nunggu masuk kamar operasi. Tiap kontraksi datang, gw maunya ngebungkuk, tp susah juga, wong perut gw gendut gmn caranya ngebungkuk.
Jam 1 belum ada tanda2 dokter datang. Gw mulai gelisah dan panggil suster knp dokter lama banget, pdhal kan udah jam 1. Kontraksi makin lama makin sakit. Hampir mau nangis rasanya. Saat itu ortu gw udah datang sama Luna, kemudian suami ajak Luna keluar. Mertua juga udah dateng, bareng2 sama ipar2. Dipikir2 cuma kakak n adik gw aja ya yg gak hadir di saat mereka akan ketambahan keponakan. Adik gw lagi diluar kota, kakak gw lg kerja.
Jam 13.30 akhirnya dokter datang dan langsung diminta masuk ruang operasi. Ruang operasinya dingin banget. Dulu waktu melahirkan Luna, setahun kemudian RS YPK direnovasi, dan ini di gedung baru.
Setelah mulai dianestesi, pasang kateter (yg prosesnya lebih menyeramkan dibanding wkt melahirkan Luna dulu, hiiiii), 12 menit kemudian tepat jam 13.42 lahirlah anak kedua gw, bayi perempuan lagi adiknya Luna, dg berat 3,34 kg dan panjang 49 cm, lebih panjang dan jauh lbh berat daripada Luna yg dulu 2,98 kg dan 47 cm. Tangisannya awal mula hampir2 lbh mirip jeritan, sampe dlm hati gw bilang "Hah, kok mirip suara kucing sih!" <- toyorrr!!! Setelah dicek dan dilap sebentar, kemudian diletakkan di dada gw, dah pake topi merah dan diselimuti punggungnya. Eh malah tidur aja dia! Kali ini gw menguatkan diri spy gak ngantuk atau mau muntah kyk waktu lahiran Luna dulu.
Walau bukan IMD sesuai protap yg seharusnya, krn cuma 15 menit (instead of minimal 1 jam), kemudian anak gw diambil, dibawa keluar ruangan, saat itu gw dah selesai diobras -> saat ini gw dah lupa kalo gw bawa kamera buat mengabadikan kelahiran anak kami. Dasar dodol! Nyesel banget sih dipikir2 udah bawa2 senjata kok gak dipake! Proses operasi berlangsung selama 1 jam, seinget gw jam setengah 3 gw mulai dibawa ke ruang pemulihan.
Perasaan gw selama menjalani rangkaian proses kelahiran ini menguatkan tekad gw bahwa cukup sudah anak gw 2 orang aja, haiyah, bener juga kata orang2 bahwa SC kedua lbh mendebarkan dibanding SC pertama... bukan nakut2in lho tp emang lbh menyeramkan, hahaha... apalagi waktu di ruang pemulihan gw menggigil sampe 2 jam lamanya, katanya sih krn pengaruh anestesi, tp waktu Luna dulu gak kerasa apa2, yg ada di ruang pemulihan gw celingak celinguk mati gaya krn gak pegang HP, sedangkan pasien seberang sibuk telp kesana kemari ngabarin kelahiran anaknya, hihihi...
Jam 7 malam gw dipindah ke ruang rawat inap, suami lagi sibuk mengubur ari2, sementara ortu gw dah pulang sama Luna, gw ditungguin mertua dan ipar. Akhirnya gw merasakan lagi melahirkan anak yang umurnya beda 3 tahun 2 bulan sama kakaknya. Dan perempuan lagi. Walau gw gak dikasih anak cowok tp gw bersyukur krn anak gw sehat, lengkap dan normal. Malam itu gw minta rooming in sbnrnya tp suster bilang gw perlu pemulihan, sementara anak gw diletakkan di inkubator. Gw manut sajalah, krn jujur aja klo mlm itu hrs rooming in gw juga bingung siapa yg stand by, papanya Luna agak kaku ngadepin bayi gitu, hehehe. Jam 10 mertua pulang, aplusan sama bokap gw yg balik lg ke RS.
Akhirnya jam setengah 12 suami datang, dan bokap gw pulang. Saat itu gw belum menemukan mau dikasih nama apa anak kedua kami. Gw juga bingung, namanya apa ya...dodol! Yg ada sebelum melahirkan nyokap gw mengusulkan nama Pratista kalo yg lahir perempuan (walau selama periksa kehamilan mulai bulan ke 6 dah ketauan kalo anak gw cewek). Malam itu gw bukannya istirahat malah browsing nama2 bayi perempuan Hindu/Sanskerta! Hihihi... Akhirnya gw menemukan nama yg gw anggap bagus dan artinya pun baik, yaitu Indira.
Besok pagi gw bilang sama suami kalo antara nama Indira atau Sonia mana yg dia pilih, dia pilih Indira. Jadilah nama anak kami Indira Pratistha. Versi awal Pratista, tp kata suami Pratista gak ada artinya, yg bener Pratistha. Yasud gw manut, jadi lengkapnya Ni Made Indira Pratistha dg panggilan Indy. Dan emang gw baru inget dulu gw sempet membayangkan akan memberi nama anak Indira kalo punya anak perempuan. Indira adalah istri Dewa Wisnu yang bijaksana, Pratistha artinya keunggulan. Kurang lebih gitulah, hehehe. Dan inilah wajah malaikat mungilku yang kedua, yang mudah2an bakal jadi bontot keluarga kami hehehe...
Selama menjalani kehamilan, gw bertekad spy hamil ini lebih baik drpd hamil Luna dulu yg males bgt ngapa2in, maunya cuma tidur di kantor dan internetan gak jelas. Krn kali ini gw sambil kuliah dan nyusun tesis, mau gak mau gw harus aktif setiap Sabtu pergi ke kampus, kuliah sampai siang, cari buku referensi ke berbagai toko buku, ketemu dosen pembimbing yg rumahnya naujubileh jauh binong di Cimanggis sono.
Walau gitu selama 2 bulan pertama gw diserang kemabokan yg lumayan menguras stamina, pulang kantor gw dah kecapekan, tidur aja, sampai2 bokap yg mengambil alih ngurusin Luna spt mandiin, nyuapin makan, bobo juga, hahaha... Tapi gw mendadak segar bugar (maksa lbh tepat) wkt ikut dinas luar ke Bali pas hamil 3 bulan, gw memohon sama atasan spy gw bisa berangkat krn gw ingin skalian pulang kampung, mohon restu atas kelancaran menjalani kehamilan dan menyelesaikan kuliah.
Trimester 2 gw mulai kuat nggak mual2 lagi, maka segera ngebut mulai menulis tesis dari mulai bab 1, 2, 3 abis itu mandeg sebulan, hehehe... kemudian mulai maksa nulis lg pas masuk trimester 3, dan akhirnya sidang dan lulus pas umur kehamilan 8 bulan. Proses revisi tesis memakan waktu 1 bulan krn ada liburan Lebaran, dan semua proses menyusun tesis ini selesai hanya seminggu sebelum jadwal gw melahirkan.
Karena dulu gw gagal total menyusui Luna (Luna gak pernah menyusu langsung ke gw sama sekali, dia hny sempet minum ASIP pas di RS, dan di rumah paling2 cuma 2-3x pompa, selebihnya full sufor), gw bertekad anak kedua ini gw HARUS bisa menyusui, paling nggak bisa eksklusif. Mulai dari ikut kelas edukasi AIMI (penting nih, ilmunya banyak dan terbukti bermanfaat semua), ikut twitter AIMI, banyak tanya, banyak baca, beli perlengkapan perang menyusui jauh2 hari segera setelah masuk umur kehamilan 7 bulan yg katanya dah boleh belanja2. Pokoknya persiapannya lebih baik untuk bisa menyusui. Untuk perlengkapan2 bayi gw malah gak beli banyak krn msh ada bekas Luna dulu.
Karena Luna dulu lahir SC maka anak kedua pun diperkirakan SC juga, walau bny yg bilang knp gak coba VBAC aja. Walau gitu gw ngotot gak mau menentukan tanggal, sempet agak kenceng2an sama nyokap krn nyokap minta gw ngomong ke dokter pilih tanggal 15 September yg diyakini baik, sedangkan dokter gw gak mau kalo umur blm 38 minggu.
Dan akhirnya memang dokter menyarankan SC, disuruh pilih tanggal sesudah tgl 17 September. Gw tadinya mau tgl 25, pas 39 minggu, tp krn stlh dicek janin terlilit tali pusar, diminta sblm tgl 25. Akhirnya gw pilih tgl 19, hari Senin. Gw masih periksa kehamilan di RSIA YPK Menteng, RSnya Dian Sastro melahirkan juga itu lho... hihihi...
Tapi memang itu cuma rencana aja, tetap saja Tuhan yg menentukan. Tadinya gw rencana mulai cuti tgl 19, pas barengan SC itu. Krn denyut jantung janin wkt kontrol terakhir agak susah nyarinya, sementara menunggu tgl 19 utk SC gw disuruh cuti sama suami pas tgl 12. Tanggal 16 gw udah mulai merasa pegel2 pinggang dan kontraksi. Gw berusaha ajak anak gw ngomong spy lahirnya jangan tgl 16 alias Jumat Pahing, tapi hari Sabtu atau Minggu aja, kalo dia gak mau lahir tgl 19 (Senin).
Setelah tgl 16 (Jumat) mulai beranjak malam, baru gw lega, krn in case gw hrs segera ke RS, hari sudah berganti ke tgl 17. Pas gw bangun pagi jam 5 mau ke kamar mandi, ada flek merah muda, persis wkt jelang melahirkan Luna dulu. Gw bangunin suami spy dia segera siap2 krn berarti pagi ini hrs berangkat ke RS. Sehari seblmnya gw udah siapin tas isi pakaian gw dan bayi kalo sewaktu2 hrs ke RS.
Akhirnya gw brkt dr rumah jam setengah 8 pagi, berdua suami. Tadinya Luna mau diajak, tp krn dia belum sarapan, diputuskan Luna ke RS bareng pekak omanya aja. Saat itu kontraksi mulai terasa setiap 15 menit sekali dan pelan, blm separah wkt kontraksi sblm Luna lahir. Jalan lumayan macet pagi itu, sampai RS sejam kemudian gw lgsg ke ruang persiapan (kala I) utk CTG. Ternyata kontraksi gw udah teratur. Kebetulan dokter gw praktek tiap hari, dan saat itu jam prakteknya.
Jam 11 siang suster menyampaikan bahwa dokter memutuskan SC dipercepat jadi hari itu juga jam 1 siang habis dokter kelar praktek. Pemeriksaan dalam menunjukkan bahwa gw udah bukaan 1. Wah gw paling benci periksa dalam ini, sakitnya sinting banget. Gw bersyukur bhw gw gak usah periksa2 dalam lagi, krn ini cuma buat bahan laporan ke dokter aja kalo emang udah ada bukaan dan kontraksi. Selama di ruang kala I itu sambil nunggu waktu kerjaan gw BBMan sama temen2 grup kuliah dan baca2 twitter aja, sampe suami gw geleng2 kepala krn BB gak pernah lepas dari tangan gw, waktu gw CTG, kecuali pas periksa dalam aja (hehehehe).
Jam 12 mulailah datang kontraksi yang tidak bersahabat itu dan 5 menit sekali...saat itu gw pamitan ke temen2 grup kuliah krn gw dah mulai ngerasa kesakitan. BB gw taro di tas, gw dah mulai gak konsen browsingan krn sakit kontraksi ini mirip sama sakit kontraksi pas mau melahirkan Luna dulu. Tadinya maunya tes nyali gitu, hayooo msh inget gak ya dg kontraksi melahirkan dulu, coba dulu kuat gak ya kalo skrg ngerasain lg. Dan hasilnya pala gw cenat cenut nahan sakit, pdhal jadwal operasi msh 1 jam lagi, yg artinya gw mesti tersiksa selama sejam kedepan, sambil kontraksi sambil nunggu masuk kamar operasi. Tiap kontraksi datang, gw maunya ngebungkuk, tp susah juga, wong perut gw gendut gmn caranya ngebungkuk.
Jam 1 belum ada tanda2 dokter datang. Gw mulai gelisah dan panggil suster knp dokter lama banget, pdhal kan udah jam 1. Kontraksi makin lama makin sakit. Hampir mau nangis rasanya. Saat itu ortu gw udah datang sama Luna, kemudian suami ajak Luna keluar. Mertua juga udah dateng, bareng2 sama ipar2. Dipikir2 cuma kakak n adik gw aja ya yg gak hadir di saat mereka akan ketambahan keponakan. Adik gw lagi diluar kota, kakak gw lg kerja.
Jam 13.30 akhirnya dokter datang dan langsung diminta masuk ruang operasi. Ruang operasinya dingin banget. Dulu waktu melahirkan Luna, setahun kemudian RS YPK direnovasi, dan ini di gedung baru.
Setelah mulai dianestesi, pasang kateter (yg prosesnya lebih menyeramkan dibanding wkt melahirkan Luna dulu, hiiiii), 12 menit kemudian tepat jam 13.42 lahirlah anak kedua gw, bayi perempuan lagi adiknya Luna, dg berat 3,34 kg dan panjang 49 cm, lebih panjang dan jauh lbh berat daripada Luna yg dulu 2,98 kg dan 47 cm. Tangisannya awal mula hampir2 lbh mirip jeritan, sampe dlm hati gw bilang "Hah, kok mirip suara kucing sih!" <- toyorrr!!! Setelah dicek dan dilap sebentar, kemudian diletakkan di dada gw, dah pake topi merah dan diselimuti punggungnya. Eh malah tidur aja dia! Kali ini gw menguatkan diri spy gak ngantuk atau mau muntah kyk waktu lahiran Luna dulu.
Walau bukan IMD sesuai protap yg seharusnya, krn cuma 15 menit (instead of minimal 1 jam), kemudian anak gw diambil, dibawa keluar ruangan, saat itu gw dah selesai diobras -> saat ini gw dah lupa kalo gw bawa kamera buat mengabadikan kelahiran anak kami. Dasar dodol! Nyesel banget sih dipikir2 udah bawa2 senjata kok gak dipake! Proses operasi berlangsung selama 1 jam, seinget gw jam setengah 3 gw mulai dibawa ke ruang pemulihan.
Perasaan gw selama menjalani rangkaian proses kelahiran ini menguatkan tekad gw bahwa cukup sudah anak gw 2 orang aja, haiyah, bener juga kata orang2 bahwa SC kedua lbh mendebarkan dibanding SC pertama... bukan nakut2in lho tp emang lbh menyeramkan, hahaha... apalagi waktu di ruang pemulihan gw menggigil sampe 2 jam lamanya, katanya sih krn pengaruh anestesi, tp waktu Luna dulu gak kerasa apa2, yg ada di ruang pemulihan gw celingak celinguk mati gaya krn gak pegang HP, sedangkan pasien seberang sibuk telp kesana kemari ngabarin kelahiran anaknya, hihihi...
Jam 7 malam gw dipindah ke ruang rawat inap, suami lagi sibuk mengubur ari2, sementara ortu gw dah pulang sama Luna, gw ditungguin mertua dan ipar. Akhirnya gw merasakan lagi melahirkan anak yang umurnya beda 3 tahun 2 bulan sama kakaknya. Dan perempuan lagi. Walau gw gak dikasih anak cowok tp gw bersyukur krn anak gw sehat, lengkap dan normal. Malam itu gw minta rooming in sbnrnya tp suster bilang gw perlu pemulihan, sementara anak gw diletakkan di inkubator. Gw manut sajalah, krn jujur aja klo mlm itu hrs rooming in gw juga bingung siapa yg stand by, papanya Luna agak kaku ngadepin bayi gitu, hehehe. Jam 10 mertua pulang, aplusan sama bokap gw yg balik lg ke RS.
Akhirnya jam setengah 12 suami datang, dan bokap gw pulang. Saat itu gw belum menemukan mau dikasih nama apa anak kedua kami. Gw juga bingung, namanya apa ya...dodol! Yg ada sebelum melahirkan nyokap gw mengusulkan nama Pratista kalo yg lahir perempuan (walau selama periksa kehamilan mulai bulan ke 6 dah ketauan kalo anak gw cewek). Malam itu gw bukannya istirahat malah browsing nama2 bayi perempuan Hindu/Sanskerta! Hihihi... Akhirnya gw menemukan nama yg gw anggap bagus dan artinya pun baik, yaitu Indira.
Besok pagi gw bilang sama suami kalo antara nama Indira atau Sonia mana yg dia pilih, dia pilih Indira. Jadilah nama anak kami Indira Pratistha. Versi awal Pratista, tp kata suami Pratista gak ada artinya, yg bener Pratistha. Yasud gw manut, jadi lengkapnya Ni Made Indira Pratistha dg panggilan Indy. Dan emang gw baru inget dulu gw sempet membayangkan akan memberi nama anak Indira kalo punya anak perempuan. Indira adalah istri Dewa Wisnu yang bijaksana, Pratistha artinya keunggulan. Kurang lebih gitulah, hehehe. Dan inilah wajah malaikat mungilku yang kedua, yang mudah2an bakal jadi bontot keluarga kami hehehe...
Selasa, 12 Oktober 2010
Lama gak mainan MP
Dah lama bgt gw nengok2 MP lg, cuma sekilap info doang, itupun lwt , so pasti mana sempat posting2 lg. Dah kelewat rempong ama SPJ, SPJ dan SPJ, blm lagi asyik bgt sama kebun mayaku di FV, cukup sudah deh, hahaha.
Tapi yg nyata dan benar adalah emang gw dah gak pny waktu lg utk santai. Semua krn kerjaan kantor yg luar biasa banyaknya sampai2 kedodoran ngerjain tugas kuliah. Berangkat pagi jam 05.45 pulang jam 19.00 kdg lebih krn macet yg gila abis akhir2 ini, numpang jemputan biar bisa ngirit (honestly I hate public transportation except taxi). Itu semua hrs ditebus dg minim waktu sama anak. Skitar 2 jam main sama Luna per hari kerja, dah cukup buat gw teler seteler2nya, kadang gak tau siapa yg bobo duluan, gw atau Luna, krn jam setengah 10 mlm gw dah tepar di tpt tidur, Luna msh melek, ngoceh, main, dll, dia gak tau kali mamanya dah teler duluan. Dan itu berlangsung setiap hari. Jadi mana sempat gw kerjain tugas kuliah? Sambil mikir gmn gw buat tesis semester dpn kalo kerjaan msh kyk gini polanya.
Apa yg menghibur gw di saat hectic kyk gini? Ya cuma FarmVille seorang, hehehe. Makanya level gw kan lumayan tinggi, dah 81. Cuma klak klik doang apa susahnya sih, gw pun pake strategi juga, jd level gw cpt naik. Sayang buka MLM, klo iya kan itu sama artinya duit gw makin bny krn level dah tinggi, hehe.
Sampai akhir tahun aja gw mau jungkir balik gini, thn dpn berhubung gw mau tesis gw ogah mengerjakan SPJ-SPJ lagi. FV gw juga kemungkinan dah khatam, hehe..jd pindah ke account papanya Luna.
Mudah2an gw bisa lulus tahun depan, dan menteri gw cepet kek diganti (lho?) Hehehe...
Tapi yg nyata dan benar adalah emang gw dah gak pny waktu lg utk santai. Semua krn kerjaan kantor yg luar biasa banyaknya sampai2 kedodoran ngerjain tugas kuliah. Berangkat pagi jam 05.45 pulang jam 19.00 kdg lebih krn macet yg gila abis akhir2 ini, numpang jemputan biar bisa ngirit (honestly I hate public transportation except taxi). Itu semua hrs ditebus dg minim waktu sama anak. Skitar 2 jam main sama Luna per hari kerja, dah cukup buat gw teler seteler2nya, kadang gak tau siapa yg bobo duluan, gw atau Luna, krn jam setengah 10 mlm gw dah tepar di tpt tidur, Luna msh melek, ngoceh, main, dll, dia gak tau kali mamanya dah teler duluan. Dan itu berlangsung setiap hari. Jadi mana sempat gw kerjain tugas kuliah? Sambil mikir gmn gw buat tesis semester dpn kalo kerjaan msh kyk gini polanya.
Apa yg menghibur gw di saat hectic kyk gini? Ya cuma FarmVille seorang, hehehe. Makanya level gw kan lumayan tinggi, dah 81. Cuma klak klik doang apa susahnya sih, gw pun pake strategi juga, jd level gw cpt naik. Sayang buka MLM, klo iya kan itu sama artinya duit gw makin bny krn level dah tinggi, hehe.
Sampai akhir tahun aja gw mau jungkir balik gini, thn dpn berhubung gw mau tesis gw ogah mengerjakan SPJ-SPJ lagi. FV gw juga kemungkinan dah khatam, hehe..jd pindah ke account papanya Luna.
Mudah2an gw bisa lulus tahun depan, dan menteri gw cepet kek diganti (lho?) Hehehe...
Label:
blackberry,
Luna,
motherhood,
myself,
work
Langganan:
Postingan (Atom)