Kenapa gw perlu bahas ini lebih jauh? Krn gw sangat, sangat gatal, bukan gatal di kulit, tapi gatal pengen nabok! Iya, gw pengen nabok orang2 yg ngomong (lbh tepat ngajakin sih) NABUNG aja di ASURANSI, dibanding di bank! Yg ngomong ini ndilalah kok kebanyakan agen asuransi ya?!! Mau meningkatkan literasi keuangan atau mau membodohi orang2 supaya mereka "nabung" uangnya di asuransi sehingga mereka dapat komisi besar hasil membodohi orang2 lugu? *sigh*
Maaf ya, gw yakin yg ngomong itu adalah oknum, krn msh banyak agen asuransi berdedikasi tinggi untuk mencerahkan masyarakat dengan memberi pengertian yang BENAR tentang ASURANSI, yaitu adalah produk PROTEKSI. Jadi kita BELI asuransi, kita keluar biaya. Namanya BELI ya berarti uang nggak kembali dong!
Sebenernya ada bbrp tipe asuransi, yg murni dalam artian uang tidak akan kembali, namanya asuransi berjangka (term life). Kemudian asuransi disertai dengan tabungan, bukan uang kembali namanya, itu namanya asuransi seumur hidup (whole life). Kemudian ada lagi asuransi dengan jaminan keluar sejumlah uang tunai di tahun tertentu, namanya asuransi endowment. Nah karena nilai tunai asuransi endowment dipandang kekecilan untuk tujuan keuangan, maka terbitlah yg namanya asuransi unitlink, yaitu asuransi beserta investasi dijadii satu. Jadi unitlink ini pada dasarnya produk asuransi. Produk asuransi, artinya ada biaya proteksi. Namanya biaya, ya berarti uang keluar, bukan uang kembali.
Pernah gw jabarkan di sini, sini, dan sini tentang pengalaman gw punya unitlink sampai 3 polis. Kapan2 gw akan menulis pengalaman gw punya asuransi berjangka yg sampai sekarang masih gw bayar polisnya.
Dalam pengelolaan keuangan, untuk mencapai tujuan keuangan dibutuhkan 3 hal ini, yaitu tabungan (sebagai dana darurat), asuransi (sebagai proteksi) dan produk investasi (untuk mengembangkan harta supaya nilainya tidak termakan inflasi). Produk investasi ini macam2 jenisnya, mulai kertas berharga (saham, obligasi), properti (tanah, bangunan kyk apartemen, kos2an, gudang, ruko), sampai bisnis (online atau offline). Keseluruhan investasi kan semua tujuannya sama, supaya mengembangbiakkan harta menjadi berlipat2.
Btw gw bukan ahli keuangan lho. Tapi gw hasil bny baca aja. Klo ada yg salah mohon koreksinya. Terutama di paragraf ini dimana gw udah mulai belibet jelasinnya :D
Kembali ke laptop. Jadi memang nggak pas sama sekali klo dibilang nabung di asuransi, nggak apple to apple. Salah besar. Salah kaprah yg terlalu besar. Nabung kok di produk proteksi. Ya bakal berkuranglah duitnya. Nabung kan buat ngumpulin duit, kok nabung di produk yg malah memakan duit.
Jadi ini ya kenapa banyak banget orang yg mengeluh udah nabung di asuransi kok uangnya malah berkurang. Kemudian ada yg bilang, nabung di asuransi itu harus jangka panjang, krn klo jangka pendek kan buat bayar asuransi. Lah, iya itu! BAYAR asuransi! Lho katanya tadi asuransinya udah sekalian. Yeee mana ada yg gratis di dunia ini keles. Mimpi kali yee.
Kalo nabung di reksadana? Nggak pas juga istilahnya. Reksadana kan nilainya naik turun. Misalnya akhir Maret NAB PDM 77rb sekian. Tgl 2 April NAB PDM turun berapa ratus perak. Ntar Senin naik lagi. Dan gitu terus pergerakannya. Ngikutin pasar modal. Tapi kalo jangka panjang uangnya berkembang biak mengalahkan inflasi (kalo jenisnya reksadana campuran atau saham).
Yang namanya "nabung" di asuransi alias unitlink itu, artinya premi yg lo bayar akan terbagi 2: masuk ke keranjang asuransi (BAYAR) dan masuk ke keranjang investasi (BERKEMBANG). Sampai 5 tahun (biasanya) yg masuk ke keranjang asuransi akan makin sedikit jumlahnya seiring waktu, sedangkan yg masuk ke keranjang investasi akan makin banyak.
Tapi eh tapi...kok bisa mencover sampai umur 99 tahun ya, kan katanya premi udah nggak masuk ke keranjang asuransi lagi, berarti kan gak BAYAR asuransi lagi. Ya memang bisa. Karena setelah 5 tahun, yang dipake untuk BAYAR biaya asuransi ada di keranjang satunya lagi, yaitu keranjang investasi. Jadi uang yang BERKEMBANG di keranjang investasi DIMAKAN (dipake buat BAYAR) sama biaya asuransi (Cost of Insurance atau COI). Dan inget juga, biaya asuransi ini akan makin meningkat sesuai umur. Makin banyak rider (asuransi tambahan) yg dipake, maka akan makin banyak biaya yg diperlukan, dan semuanya itu akan MEMAKAN premi yg skrg sudah seluruhnya masuk ke keranjang investasi. Apalagi klo punya rider kesehatan dan penyakit kritis, wehehehe...
Skrg ini mayoritas asuransi unitlink (yg menerbitkan perusahaan asuransi jiwa, berarti produk dasarnya asuransi jiwa) ngejual produknya sebagai asuransi kesehatan atawa investasi. Padahal semuanya sama sekali tidak benar sodara2! Yg namanya produk dasarnya asuransi jiwa ya sudah pasti produk itu adalah asuransi jiwa yang ditempelin asuransi kesehatan. Trus dijual sebagai asuransi kesehatan *gubrak* Kalo bilangnya investasi, ya sama aja, itu asuransi jiwa yg dipaket sama investasi. Tapi caranya ngejual nonjolin investasinya dengan bilang sekaligus pertanggungan jiwa seolah2 gratis. Salah cuy, kebalik. Kalo tau peraturan sih, yg ada perusahaan asuransi itu nanem duit investasinya di perusahaan manajer investasi alias reksadana. Ah ini banyak deh unsur udang di balik bakwannya.
Kesimpulannya apa? 3 hal ini semuanya penting. Tabungan, proteksi, investasi. Jadi jangan digabung! Inget aja, gak ada asuransi yg uangnya hangus yg rugi. Namanya juga beli proteksi. Proteksi itu intangible. Keuntungannya adalah, klo terjadi hal yg beresiko terhadap kita (meninggal, sakit, kecelakaan) keluarga kita nggak akan kesulitan secara finansial. Klo kitanya hidup, sehat dan selamat, kan justru bagus.
Trus juga nabung, walaupun ada resiko uangnya dimakan inflasi, sangat berfungsi sebagai dana darurat. Jangan sekali2 menaruh dana darurat di produk investasi apalagi produk proteksi!!! Huh kzl bgd krn gw pernah baca PP agen asuransi yg bilang bahwa asuransi berfungsi untuk mengumpulkan dana darurat, dana pendidikan, dana pensiun. Dasar ajaran gemblung!
Terakhir investasi. Investasi di produk investasi yg sesuai dengan kemampuan, profil resiko dan jangka waktu ya. Paling enak di reksadana, mudah dan bisa dilakukan dengan modal kecil. Silakan liat cara berinvestasi reksadana di sini, pengalaman gw beli reksadana di bank BUMN dan bank asing, serta langsung ke MI.
Mohon maaf bila saya salah menjelaskan, dikarenakan kurang banyaknya pengetahuan saya. Lebih jelas lagi silakan lihat di blog guru2 saya seperti Aidil Akbar, Ligwina Hananto, Prita Ghozie, planner saya mbak Yosephine, dan mbak Farah Dini.
Tampilkan postingan dengan label unitlink. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label unitlink. Tampilkan semua postingan
Rabu, 08 April 2015
Selasa, 21 Januari 2014
Asuransi Unitlink (bagian 3)
Setelah sekian lama tertunda, akhirnya gw sempatkan menulis bagian terakhir dari pengamalam gw punya asuransi sekaligus investasi alias unitlink, karena gw pernah punya 3 unitlink dan yang terakhir ini adalah yg terakhir gw bikin, tahun 2011 (2 lainnya gw bikin hampir bersamaan tahun 2009).
Sudah tau kan gimana gak optimalnya asuransi unitlink. Udah banyak sumber deh yg nulis. Ada yg setuju dan ada juga yg nggak. Buat gw sih tergantung pribadi masing2, ada yg merasa terbantu, nggak ribet karena selain proteksi juga dapat investasi. Ada juga yg merasa rugi karena ternyata ilustrasi tidak seindah kenyataan. Gw termasuk yang merasakan hal yang terakhir, makanya gw tutup kan. Klo gw msh merasa butuh ya ngapain juga gw tutup, gitu deh...
Gw kan udah pernah cerita di Bagian 1 dan Bagian 2 alasan2 gw mempunyai asuransi unitlink. Di postingan sebelumnya gw memberi judul Asuransi Pendidikan, karena keduanya gw buat utk tujuan menyiapkan dana pendidikan anak pertama gw Luna. Sedangkan yg ini, tujuan awalnya adalah untuk asuransi kesehatan Luna. Lho emang di asuransi unitlink yg sblmnya Luna nggak dicover? Ternyata enggak! Dan gw baru tau stlh baca polisnya (which is dikasih ke gw setelah masa dimana pemegang polis masih bisa membatalkan keikutsertaan dalam asuransi), udah terlanjur brarti gw tercatat sbg pemegang polis, yo wis lah. Polis asuransi pertama itu gw buat di agen asuransi yang merupakan kenalan SANGAT baik keluarga gw. Demikian pula asuransi unitlink ketiga gw ini.
Sebenernya gw gak bermaksud membuat asuransi lagi. Awalnya gw kemukakan ke agennya bhw gw ingin revisi polis supaya Luna bisa dimasukkan sebagai tertanggung di rider asuransi kesehatannya. Gw ulang lagi rincian polis pertama gw deh.
Nama pemegang polis: gue
Nama tertanggung jiwa: gue
Uang pertanggungan jiwa: Rp. 100 juta
Asuransi rider: waiver premi dan asuransi kesehatan dengan sistem reimbursement tarif kamar Rp. 500rb/hari
Premi bulanan: Rp. 400rb, dimana alokasi asuransi Rp. 300rb dan alokasi investasi Rp. 100rb.
Agen gw pun menghitung2 ulang, dan katanya daripada revisi polis, kan sayang krn uang investasinya udah kebentuk, mendingan BIKIN lagi aja asuransi baru! Lalu dg cepat dia membuat skema ilustrasi. Ternyata didapat premi yang harus dibayar per bulan Rp. 400rb untuk asuransi kesehatan Luna.
Sebenernya gw udah agak berat, krn gw dah punya 2 asuransi sebelumnya, dimana masing2 gw harus menyisihkan Rp. 400rb dan Rp. 350rb per bulan, masa nambah lagi Rp. 400rb, berarti bisa diatas 1jt per bulan dong. Tapi agen gw meyakinkan gw, bahwa gw akan dapat rejeki lbh banyak lagi sehingga bisa bayar premi semua asuransi itu. Saat itu awal tahun 2011, dimana asuransi unitlink pertama gw ulang tahun polisnya tiap tanggal 17 Januari. Dan saat itu gw belum tau kalo gw hamil lagi (hitungannya masih hamil muda 1 bulan).
Akhirnya gw setuju untuk membuat asuransi kesehatan khusus buat Luna. Lagi2 gw gak tau kalo ini jenisnya unitlink, saat itu gw mana tau asuransi itu macam2 jenisnya. Gambaran polisnya adalah sebagai berikut:
Nama pemegang polis: gw
Nama tertanggung jiwa: Luna
Uang pertanggungan jiwa: Rp. 75 juta
Asuransi rider: asuransi kesehatan dengan sistem reimbursement tarif kamar Rp. 750rb/hari
Premi semesteran: Rp. 2,4 juta alias Rp. 400rb per bulan, tapi dibayar per semesteran atau 6 bulan sekali
Alokasi premi untuk asuransi Rp. 2jt dan alokasi untuk investasi Rp. 400rb (jadi Rp. 800rb per tahun untuk investasi alias sebulan cuma 66 ribuan)
Alokasi investasi 100% ke Equity, tapi ditempatkan ke dalam 4 efek equity (saham) yg berbeda2 yg diterbitkan oleh asuransi tersebut. Jadi masing2 sebesar 25%.
jadi kalo disetahunkan gw membayar premi untuk asuransi kesehatan Luna sebanyak Rp. 4,8jt dengan alokasi premi untuk asuransi Rp. 4jt dan alokasi untuk investasi Rp. 800rb.
Gw menutup polis ini bulan Juli 2012, berarti gw udah sempet bayar premi 3x. Total jumlah premi yang udah dibayar sejak buka polis sampai nutup adalah:
- Total premi dibayar: Rp. 7,2jt
- Total premi untuk alokasi asuransi: Rp. 5,2jt
- Total premi untuk alokasi investasi: Rp. 2jt
Karena gw nutup asuransi sebelum usianya 3 tahun, maka sesuai aturan (aturan darimana, gw jg gak tau, tp tercantum di polisnya sih), maka nilai investasi yang bisa ditarik harus dikurangi semacam pajak atau denda atau apalah namanya. Berdasarkan perhitungan seharusnya nilai tunai yg bisa gw dapatkan MINIMAL Rp. 2jt (jangan berharap asuransi ditutup maka seluruh uang Rp. 7,2jt itu akan balik ya, ntar perusahaan asuransinya idup dari mana dong tiap nasabah nutup polis dan gak pernah klaim minta premi dibalikin 100%, itu mimpi alias mustahil). Nyatanya gw hanya mendapatkan nilai tunai sebesar Rp. 1.129.342! Jadi selisihnya aja Rp. 870.658.
Rugi dong? Iyalah.. dari premi untuk alokasi investasi aja udah rugi bandar. Apalagi dari total premi yg udah dibayar. Katanya klo lebih dari 5 tahun unitlink bisa untung. Eits, kata siapa itu? Gw udah bikin simulasinya, selama 10 tahun pembayaran dan setelah selesai pembayaran pun gak akan pernah untung. Kalo untung itupun dikit banget gak sampe puluhan juta, itupun sebenernya kita udah rugi besar di WAKTU yang kebuang sia2 dan gak bisa balik lagi jika kita memisahkan antara proteksi dan investasi. Sayang banget yah. Yg seperti ini nih yg banyak orang gak tau. Asuransi itu pada dasarnya harus BAYAR premi, diklaim ataupun tidak diklaim, namanya juga kita beli proteksi, masa gratis sih, BPJS aja bayar premi perlindungan.
Terus dari kesalahan2 ini apa aja yg udah gw pelajari? Banyak! Salah satunya yg paling fatal banget, di polis unitlink ketiga ini tercantum bahwa nama tertanggung jiwa adalah Luna. Pdhal Luna bukan pencari nafkah, dan juga asal tau aja, kalo anak kecil dijadikan tertanggung jiwa, jika suatu saat terjadi kejadian meninggal dunia, maka uang pertanggungan yang dibayarkan tidak mencapai 100% lho. Jadi di polis ini uang pertanggungan Luna 75jt, klo terjadi meninggal dunia maka ahli waris tidak mendapat Rp. 75 juta, namun sekian persen (gw juga lupa brp, klo gak salah 50%). Miris kan? Anak kecil bukan pencari nafkah utama dijadikan tertanggung jiwa, bayar preminya full, kalo ada apa2 uang pertanggungannya nggak full krn dianggap anak kecil tidak memiliki tanggungan secara ekonomi. Lah itu aturannya gitu, trus kenapa ya banyak perusahaan asuransi yang jualan unitlink malah jor2an menjadikan anak sebagai tertanggung jiwa? Tanya deh kenapa, karena kita2 ini masih bodoh soal finansial dan cara kerja produk keuangan.
Gw buka asuransi ini bulan Februari, lalu bulan April gw baru tau kalo asuransi ginian namanya unitlink, gimana gak lemes gw! Mana agennya teman baik keluarga pula... bayangin aja 13,5jt setahun (alias lebih dari 1jt sebulan) hanya untuk bayar asuransi, yg selain nilai pertanggungannya nggak cukup, pun hasil investasinya tetap nggak akan cukup untuk biaya pendidikan Luna aja, dan pertanggungan kesehatan pun hanya untuk gw dan Luna, bukan sekeluarga. Gimana kalo gw punya anak lagi, masa bayar lagi 400rb sebulan, brarti bayar 1,5jt sebulan utk asuransi doang dong, gila! Gaji gw aja gak gede2 amat. Atau kasarnya, masa utk bayar pertanggungan yg diperlukan (kesehatan) gw juga harus bayar pertanggungan yg tdk diperlukan (khususnya utk anak2) yaitu jiwa, sebesar Rp. 400rb-500rb per bulan, klo sekeluarga ada 4 orang berarti bayar 2 juta saja dong buat asuransi, yg nilai pertanggungannya pas2an gitu.
Mudah2an gw sempet nulis tentang caranya gimana menyiapkan biaya pendidikan anak yang murah dan efisien, tentunya sesuai dengan kondisi gw, karena disini sifatnya hanya berbagi pengalaman. Kalo untuk lebih jelas tentunya tanya saja ke perencana keuangan, jadi kliennya. Oh iya, klo yg mau tau tarif jasa perencana keuangan independen, kelihatannya mahal pdhal sebenernya nggak lho, krn benefitnya lebih dari itu dan efeknya jangka panjang. Hitungannya tergantung aset lancar kita, dengan besaran harga variasi, ada yg dengan kontrak pendampingan setahun, 6 bulan atau cuma financial plan biasa saja tanpa review dan pendampingan. Kalo cuma mau bikin plan biasa saja tanpa review, ikuti saja kursus2 yg diadakan oleh perencana keuangan independen, ya harganya memang segitu, tapi kalo ikut kursus kan kita jadi bisa hitung sendiri kebutuhan kita.
Bagi yang tetep pengen terusin unitlink nya juga silakan aja, kalo merasa terbantu, misalnya untuk asuransi kesehatannya aja. Tapi please deh, penting diingat, kalo dalam polisnya tercantum nama pertanggungan jiwa adalah nama anak, itu artinya lo rugi bandar! Kalo emang gak mau repot, bikinlah atas nama pencari nafkah trus ambil rider asuransi kesehatan yg bisa mencakup 1 keluarga. Biaya lebih murah. Walau menurut gw pribadi tetep lebih murah asuransi jiwa murni+rider asuransi kesehatan yang bisa mengcover seluruh anggota keluarga, dengan tertanggung jiwa utama atas nama pencari nafkah. Misalnya bapak bekerja umur 30thnan dengan 1 istri dan 3 anak, biaya asuransinya saja paling banter semahal2nya 1 juta sebulan, mungkin gak sampai malah. Ini asuransi jiwa murni untuk si bapak ditambah asuransi kesehatan untuk sekeluarga lho, dengan biaya kamar RS Rp. 500rb per bulan, malah bisa termasuk cashless.
Semoga tulisan berseri ini bisa bantu dan memutuskan mau nutup/nerusin unitlink nya. Ketahui cara kerja produknya baik2, kalo cocok sama tujuannya silakan lanjut, nggak cocok ya ngapain terusin?
Sudah tau kan gimana gak optimalnya asuransi unitlink. Udah banyak sumber deh yg nulis. Ada yg setuju dan ada juga yg nggak. Buat gw sih tergantung pribadi masing2, ada yg merasa terbantu, nggak ribet karena selain proteksi juga dapat investasi. Ada juga yg merasa rugi karena ternyata ilustrasi tidak seindah kenyataan. Gw termasuk yang merasakan hal yang terakhir, makanya gw tutup kan. Klo gw msh merasa butuh ya ngapain juga gw tutup, gitu deh...
Gw kan udah pernah cerita di Bagian 1 dan Bagian 2 alasan2 gw mempunyai asuransi unitlink. Di postingan sebelumnya gw memberi judul Asuransi Pendidikan, karena keduanya gw buat utk tujuan menyiapkan dana pendidikan anak pertama gw Luna. Sedangkan yg ini, tujuan awalnya adalah untuk asuransi kesehatan Luna. Lho emang di asuransi unitlink yg sblmnya Luna nggak dicover? Ternyata enggak! Dan gw baru tau stlh baca polisnya (which is dikasih ke gw setelah masa dimana pemegang polis masih bisa membatalkan keikutsertaan dalam asuransi), udah terlanjur brarti gw tercatat sbg pemegang polis, yo wis lah. Polis asuransi pertama itu gw buat di agen asuransi yang merupakan kenalan SANGAT baik keluarga gw. Demikian pula asuransi unitlink ketiga gw ini.
Sebenernya gw gak bermaksud membuat asuransi lagi. Awalnya gw kemukakan ke agennya bhw gw ingin revisi polis supaya Luna bisa dimasukkan sebagai tertanggung di rider asuransi kesehatannya. Gw ulang lagi rincian polis pertama gw deh.
Nama pemegang polis: gue
Nama tertanggung jiwa: gue
Uang pertanggungan jiwa: Rp. 100 juta
Asuransi rider: waiver premi dan asuransi kesehatan dengan sistem reimbursement tarif kamar Rp. 500rb/hari
Premi bulanan: Rp. 400rb, dimana alokasi asuransi Rp. 300rb dan alokasi investasi Rp. 100rb.
Agen gw pun menghitung2 ulang, dan katanya daripada revisi polis, kan sayang krn uang investasinya udah kebentuk, mendingan BIKIN lagi aja asuransi baru! Lalu dg cepat dia membuat skema ilustrasi. Ternyata didapat premi yang harus dibayar per bulan Rp. 400rb untuk asuransi kesehatan Luna.
Sebenernya gw udah agak berat, krn gw dah punya 2 asuransi sebelumnya, dimana masing2 gw harus menyisihkan Rp. 400rb dan Rp. 350rb per bulan, masa nambah lagi Rp. 400rb, berarti bisa diatas 1jt per bulan dong. Tapi agen gw meyakinkan gw, bahwa gw akan dapat rejeki lbh banyak lagi sehingga bisa bayar premi semua asuransi itu. Saat itu awal tahun 2011, dimana asuransi unitlink pertama gw ulang tahun polisnya tiap tanggal 17 Januari. Dan saat itu gw belum tau kalo gw hamil lagi (hitungannya masih hamil muda 1 bulan).
Akhirnya gw setuju untuk membuat asuransi kesehatan khusus buat Luna. Lagi2 gw gak tau kalo ini jenisnya unitlink, saat itu gw mana tau asuransi itu macam2 jenisnya. Gambaran polisnya adalah sebagai berikut:
Nama pemegang polis: gw
Nama tertanggung jiwa: Luna
Uang pertanggungan jiwa: Rp. 75 juta
Asuransi rider: asuransi kesehatan dengan sistem reimbursement tarif kamar Rp. 750rb/hari
Premi semesteran: Rp. 2,4 juta alias Rp. 400rb per bulan, tapi dibayar per semesteran atau 6 bulan sekali
Alokasi premi untuk asuransi Rp. 2jt dan alokasi untuk investasi Rp. 400rb (jadi Rp. 800rb per tahun untuk investasi alias sebulan cuma 66 ribuan)
Alokasi investasi 100% ke Equity, tapi ditempatkan ke dalam 4 efek equity (saham) yg berbeda2 yg diterbitkan oleh asuransi tersebut. Jadi masing2 sebesar 25%.
jadi kalo disetahunkan gw membayar premi untuk asuransi kesehatan Luna sebanyak Rp. 4,8jt dengan alokasi premi untuk asuransi Rp. 4jt dan alokasi untuk investasi Rp. 800rb.
Gw menutup polis ini bulan Juli 2012, berarti gw udah sempet bayar premi 3x. Total jumlah premi yang udah dibayar sejak buka polis sampai nutup adalah:
- Total premi dibayar: Rp. 7,2jt
- Total premi untuk alokasi asuransi: Rp. 5,2jt
- Total premi untuk alokasi investasi: Rp. 2jt
Karena gw nutup asuransi sebelum usianya 3 tahun, maka sesuai aturan (aturan darimana, gw jg gak tau, tp tercantum di polisnya sih), maka nilai investasi yang bisa ditarik harus dikurangi semacam pajak atau denda atau apalah namanya. Berdasarkan perhitungan seharusnya nilai tunai yg bisa gw dapatkan MINIMAL Rp. 2jt (jangan berharap asuransi ditutup maka seluruh uang Rp. 7,2jt itu akan balik ya, ntar perusahaan asuransinya idup dari mana dong tiap nasabah nutup polis dan gak pernah klaim minta premi dibalikin 100%, itu mimpi alias mustahil). Nyatanya gw hanya mendapatkan nilai tunai sebesar Rp. 1.129.342! Jadi selisihnya aja Rp. 870.658.
Rugi dong? Iyalah.. dari premi untuk alokasi investasi aja udah rugi bandar. Apalagi dari total premi yg udah dibayar. Katanya klo lebih dari 5 tahun unitlink bisa untung. Eits, kata siapa itu? Gw udah bikin simulasinya, selama 10 tahun pembayaran dan setelah selesai pembayaran pun gak akan pernah untung. Kalo untung itupun dikit banget gak sampe puluhan juta, itupun sebenernya kita udah rugi besar di WAKTU yang kebuang sia2 dan gak bisa balik lagi jika kita memisahkan antara proteksi dan investasi. Sayang banget yah. Yg seperti ini nih yg banyak orang gak tau. Asuransi itu pada dasarnya harus BAYAR premi, diklaim ataupun tidak diklaim, namanya juga kita beli proteksi, masa gratis sih, BPJS aja bayar premi perlindungan.
Terus dari kesalahan2 ini apa aja yg udah gw pelajari? Banyak! Salah satunya yg paling fatal banget, di polis unitlink ketiga ini tercantum bahwa nama tertanggung jiwa adalah Luna. Pdhal Luna bukan pencari nafkah, dan juga asal tau aja, kalo anak kecil dijadikan tertanggung jiwa, jika suatu saat terjadi kejadian meninggal dunia, maka uang pertanggungan yang dibayarkan tidak mencapai 100% lho. Jadi di polis ini uang pertanggungan Luna 75jt, klo terjadi meninggal dunia maka ahli waris tidak mendapat Rp. 75 juta, namun sekian persen (gw juga lupa brp, klo gak salah 50%). Miris kan? Anak kecil bukan pencari nafkah utama dijadikan tertanggung jiwa, bayar preminya full, kalo ada apa2 uang pertanggungannya nggak full krn dianggap anak kecil tidak memiliki tanggungan secara ekonomi. Lah itu aturannya gitu, trus kenapa ya banyak perusahaan asuransi yang jualan unitlink malah jor2an menjadikan anak sebagai tertanggung jiwa? Tanya deh kenapa, karena kita2 ini masih bodoh soal finansial dan cara kerja produk keuangan.
Gw buka asuransi ini bulan Februari, lalu bulan April gw baru tau kalo asuransi ginian namanya unitlink, gimana gak lemes gw! Mana agennya teman baik keluarga pula... bayangin aja 13,5jt setahun (alias lebih dari 1jt sebulan) hanya untuk bayar asuransi, yg selain nilai pertanggungannya nggak cukup, pun hasil investasinya tetap nggak akan cukup untuk biaya pendidikan Luna aja, dan pertanggungan kesehatan pun hanya untuk gw dan Luna, bukan sekeluarga. Gimana kalo gw punya anak lagi, masa bayar lagi 400rb sebulan, brarti bayar 1,5jt sebulan utk asuransi doang dong, gila! Gaji gw aja gak gede2 amat. Atau kasarnya, masa utk bayar pertanggungan yg diperlukan (kesehatan) gw juga harus bayar pertanggungan yg tdk diperlukan (khususnya utk anak2) yaitu jiwa, sebesar Rp. 400rb-500rb per bulan, klo sekeluarga ada 4 orang berarti bayar 2 juta saja dong buat asuransi, yg nilai pertanggungannya pas2an gitu.
Mudah2an gw sempet nulis tentang caranya gimana menyiapkan biaya pendidikan anak yang murah dan efisien, tentunya sesuai dengan kondisi gw, karena disini sifatnya hanya berbagi pengalaman. Kalo untuk lebih jelas tentunya tanya saja ke perencana keuangan, jadi kliennya. Oh iya, klo yg mau tau tarif jasa perencana keuangan independen, kelihatannya mahal pdhal sebenernya nggak lho, krn benefitnya lebih dari itu dan efeknya jangka panjang. Hitungannya tergantung aset lancar kita, dengan besaran harga variasi, ada yg dengan kontrak pendampingan setahun, 6 bulan atau cuma financial plan biasa saja tanpa review dan pendampingan. Kalo cuma mau bikin plan biasa saja tanpa review, ikuti saja kursus2 yg diadakan oleh perencana keuangan independen, ya harganya memang segitu, tapi kalo ikut kursus kan kita jadi bisa hitung sendiri kebutuhan kita.
Bagi yang tetep pengen terusin unitlink nya juga silakan aja, kalo merasa terbantu, misalnya untuk asuransi kesehatannya aja. Tapi please deh, penting diingat, kalo dalam polisnya tercantum nama pertanggungan jiwa adalah nama anak, itu artinya lo rugi bandar! Kalo emang gak mau repot, bikinlah atas nama pencari nafkah trus ambil rider asuransi kesehatan yg bisa mencakup 1 keluarga. Biaya lebih murah. Walau menurut gw pribadi tetep lebih murah asuransi jiwa murni+rider asuransi kesehatan yang bisa mengcover seluruh anggota keluarga, dengan tertanggung jiwa utama atas nama pencari nafkah. Misalnya bapak bekerja umur 30thnan dengan 1 istri dan 3 anak, biaya asuransinya saja paling banter semahal2nya 1 juta sebulan, mungkin gak sampai malah. Ini asuransi jiwa murni untuk si bapak ditambah asuransi kesehatan untuk sekeluarga lho, dengan biaya kamar RS Rp. 500rb per bulan, malah bisa termasuk cashless.
Semoga tulisan berseri ini bisa bantu dan memutuskan mau nutup/nerusin unitlink nya. Ketahui cara kerja produknya baik2, kalo cocok sama tujuannya silakan lanjut, nggak cocok ya ngapain terusin?
Kamis, 13 Juni 2013
Asuransi Pendidikan Unitlink (bagian 2)
Melanjutkan cerita gw kemarin tentang Asuransi Pendidikan Unitlink, di bagian kedua ini gw akan mengulas tentang unitlink kedua gw dari perusahaan Manusia Hidup yang dijual dengan nama panggilan Asuransi Pendidikan, serta unitlink terakhir dari Persemakmuran Hidup, yang tipe2nya sama dg unitlink pertama gw, tapi gw buat dengan tujuan asuransi kesehatan Luna.
Singkat kata, gw diprospek ama temen bos gw produk Mandup ini. Gw liat deskripsinya sesuai dg yg gw mau, yaitu keluarnya biaya2 sejumlah tertentu di saat anak mau masuk jenjang sekolah TK, SD, SMP, SMA, S1. Yaaa, pada saat itu kan definisi asuransi pendidikan ini sudah dikonstruksikan sedemikian hingga oleh mayoritas perusahaan asuransi, jadi gak heran yg ada di otak para orang tua baru itu sama dg yg gw tulis ini, pdhal secara konsep aja udah salah sodara2. Mana ada yg namanya asuransi pendidikan hayo?!
Asuransi itu kan produk proteksi, melindungi dari kemalangan atau lebih jelek lagi, kesialan (mati kan sial, eh, takdir ding, tp mati itu kan gak diharapkan terjadi di usia muda/produktif, terus kecelakaan itu baru sial, sakit itu kemalangan. Intinya, mana ada org mau kecelakaan, sakit, dan mati muda). Nah pendidikan itu kan kewajiban orang tua. Emangnya pendidikan itu merupakan kesialan? Nggak kan. Nah itu dia persepsi yang salah ttg asuransi pendidikan. Coba aja liat seluruh polis asuransi yg dijual dg embel2 asuransi pendidikan, yg dilindungi/ditanggung itu pasti JIWA, terus KESEHATAN, KECELAKAAN, SAKIT KRITIS.
Udah deh gw ngomel2 singkatnya. Sekarang gw jabarkan apa saja yg ditawarkan oleh asuransi pendidikan Mandup ini
- Premi dibayar semesteran (6 bulan) Rp. 2.015.000
- Uang Pertanggungan (UP) Rp. 15 juta... sedih yakkk :D klo gw mati normal (mksdnya bukan krn kecelakaan) anak gw cuma dikasih duit 15 juta doang...
- UP rider ADDB (mati krn kecelakaan dan cacat tetap total) Rp. 15jt juga... nah ini mksdnya klo gw dpt kecelakaan trus akibatnya amit2 meninggal keluar deh UP Rp. 30 juta (15 juta UP jiwa + 15 juta UP rider ADDB)
- Nama pemegang polis dan nama tertanggung gw sendiri
- Nama ahli waris Luna
- Alokasi 100% ke Equity (saham)
- Premi 2jt 15rb per semester itu terdiri dari premi utk BAYAR ASURANSI Rp. 1,5jt dan premi top up reguler yang masuk keranjang INVESTASI Rp. 500rb, serta premi utk rider ADDB 15rb sajahh...
Kalo disetahunkan, gw bayar premi Rp. 4.030.000, dimana duit tsb yg disetor utk BIAYA ASURANSI senilai Rp. 3jt, masuk keranjang INVESTASI Rp. 1jt dan Rp. 30rb buat bayar rider ADDB. Tereng teng teng teng... hmmh gw sbnrnya jg lg gak mood2 amat nulis nih, tp krn gw dah kebnykan utang nulis ya gw paksalah nulis juga... Sejauh ini jelas semua ya... klo gak jelas tulis aja di kolom komen, tp gatau balesnya kapan, hahaha...
Begini lho gambaran jelas tentang perkembangan hasil investasinya:
Singkat kata, gw diprospek ama temen bos gw produk Mandup ini. Gw liat deskripsinya sesuai dg yg gw mau, yaitu keluarnya biaya2 sejumlah tertentu di saat anak mau masuk jenjang sekolah TK, SD, SMP, SMA, S1. Yaaa, pada saat itu kan definisi asuransi pendidikan ini sudah dikonstruksikan sedemikian hingga oleh mayoritas perusahaan asuransi, jadi gak heran yg ada di otak para orang tua baru itu sama dg yg gw tulis ini, pdhal secara konsep aja udah salah sodara2. Mana ada yg namanya asuransi pendidikan hayo?!
Asuransi itu kan produk proteksi, melindungi dari kemalangan atau lebih jelek lagi, kesialan (mati kan sial, eh, takdir ding, tp mati itu kan gak diharapkan terjadi di usia muda/produktif, terus kecelakaan itu baru sial, sakit itu kemalangan. Intinya, mana ada org mau kecelakaan, sakit, dan mati muda). Nah pendidikan itu kan kewajiban orang tua. Emangnya pendidikan itu merupakan kesialan? Nggak kan. Nah itu dia persepsi yang salah ttg asuransi pendidikan. Coba aja liat seluruh polis asuransi yg dijual dg embel2 asuransi pendidikan, yg dilindungi/ditanggung itu pasti JIWA, terus KESEHATAN, KECELAKAAN, SAKIT KRITIS.
Udah deh gw ngomel2 singkatnya. Sekarang gw jabarkan apa saja yg ditawarkan oleh asuransi pendidikan Mandup ini
- Premi dibayar semesteran (6 bulan) Rp. 2.015.000
- Uang Pertanggungan (UP) Rp. 15 juta... sedih yakkk :D klo gw mati normal (mksdnya bukan krn kecelakaan) anak gw cuma dikasih duit 15 juta doang...
- UP rider ADDB (mati krn kecelakaan dan cacat tetap total) Rp. 15jt juga... nah ini mksdnya klo gw dpt kecelakaan trus akibatnya amit2 meninggal keluar deh UP Rp. 30 juta (15 juta UP jiwa + 15 juta UP rider ADDB)
- Nama pemegang polis dan nama tertanggung gw sendiri
- Nama ahli waris Luna
- Alokasi 100% ke Equity (saham)
- Premi 2jt 15rb per semester itu terdiri dari premi utk BAYAR ASURANSI Rp. 1,5jt dan premi top up reguler yang masuk keranjang INVESTASI Rp. 500rb, serta premi utk rider ADDB 15rb sajahh...
Kalo disetahunkan, gw bayar premi Rp. 4.030.000, dimana duit tsb yg disetor utk BIAYA ASURANSI senilai Rp. 3jt, masuk keranjang INVESTASI Rp. 1jt dan Rp. 30rb buat bayar rider ADDB. Tereng teng teng teng... hmmh gw sbnrnya jg lg gak mood2 amat nulis nih, tp krn gw dah kebnykan utang nulis ya gw paksalah nulis juga... Sejauh ini jelas semua ya... klo gak jelas tulis aja di kolom komen, tp gatau balesnya kapan, hahaha...
Begini lho gambaran jelas tentang perkembangan hasil investasinya:
Polis ini akhirnya gw tutup bulan Juli 2012, jadi gw dah bayar selama 7 semester alias 3,5 tahun dengan rincian sebagai berikut:
- Total premi dibayar Rp. 14jt
- Total premi dijadiin BIAYA ASURANSI Rp. 6.375.000
- Total premi yg masuk ke keranjang INVESTASI Rp. 7.625.000
Hasil pengembaliannya sih lumayan ya, pas nutup nilai tunai yg udah kebentuk senilai Rp. 8.485.624. Lumayan deh untung Rp. 860.624 doang... hihihi. Tapi kalo dibandingin sama total premi yg udah gw bayar sebanyak 14 juta itu ya nggak balik modal lah... Btw keliatannya disini emang balik modal, tp klo gw liat di ilustrasi dan total premi yg dibayar (termasuk biaya asuransi dan investasi) percayalah... investasi kita di unitlink GAK AKAN PERNAH break event walaupun bayar 10 tahun sekalipun... kenapa? Ya karena biaya rider itu pasti bertambah dong seiring bertambahnya usia. Bahkan kalo unitlink lo ada rider kesehatannya, jumlah nilai tunai investasi sama potongannya akan kejar2an. Gw bilang gini krn sblm nutup gw bandingkan ilustrasi dan perkiraan balik modalnya. Tentunya dengan cara bego2an, bukan cara financial planner...
Anyway berhubung thn 2012 itu gw merasa beraaaaaat banget klo setahun harus bayar sekitar 13,5 juta buat asuransi campuran investasi aka unitlink yg nggak maksimal gini, maka gw memutuskan menutup semua unitlink gw yang ada 3 itu *nangis berlumuran darah di pojokan nisan*
Di tulisan mendatang gw akan bercerita kenapa akhirnya gw tobat finansial dan menyadari bahwa 13,5jt yg gw bayar selama ini bisa dikata 80% sia2, yg ada malah gw yg nombok. Sori cuy, gw blm cerita ttg asuransi unitlink ketiga gw dari asuransi Persemakmuran Hidup yg gw buat dg tujuan ASURANSI KESEHATAN Luna yaaa... tp intinya, sejak gw hamil Indy, gw menyadari bhw nambah anak = nambah alokasi saving buat biaya pendidikan anak n then I realize that my way is not the right way... bayangin aja 3 tahun bayar premi buat 2 unitlink, gmn gak nangis bengek looo... :D makasiiiih banget buat tmn gw Dina dan Eva yg tulisan sepintas mereka menyadarkan gw betapa ruginya unitlink itu...
Rabu, 12 Juni 2013
Asuransi Pendidikan Unitlink (bagian 1)
Gara2 kemarin dan tadi pagi gw ngomel2 sama agen asuransi unitlink sejuta umat yg asal mention twit gw, dah gitu salah pula argumennya, kayaknya gw perlu nulis tentang hal ini. Asuransi pendidikan, produk nggateli yang jujur aja tujuan dibuat dan isinya udah nggak nyambung sama sekali. Kalo mau lebih kasar lagi, produk ini adalah produk pembodohan yang paling parah dari segala macam produk unitlink lainnya. Tapi yg mau gw bahas dulu adalah kebodohan gw dahulu yg pernah membuka asuransi investasi alias unitlink, asuransi pendidikan dan asuransi kesehatan yang ternyata juga unitlink.
Tahun 2009, saat Luna berumur 6 bulan gw mulai memikirkan utk membuka asuransi pendidikan yang TUJUANNYA untuk mengumpulkan DANA PENDIDIKAN Luna dari mulai TK sampai kuliah S1. Jujur aja gw juga gak tau binatang apa asuransi pendidikan ini. Cara kerjanya gak tau, fasilitasnya gak tau, samar2 yg gw tau adl nabung di asuransi pendidikan hasilnya bisa lebih gede dari nabung di tabungan. Nah! Kejadian yang sangat umum kan? Orang tua macam gw inilah yg jd sasaran empuk penjual asuransi pendidikan. Gw sama sekali gak tau produk keuangan selain tabungan dan deposito, asuransi tau dikit tp gak tau cara kerja asuransi itu gimana dan apa manfaatnya. Yg gw tau ya asuransi kalo gak diklaim rugi... makanya mendingan punya asuransi yg ada nilai tunainya. Demikian pikiran lugu polos dan bodoh gw saat itu.
Bulan Januari 2009 gw membuka asuransi investasi unitlink ini di bank kuning yg skrg terkenal sebagai bank supermarket reksadana terbesar di Indonesia. Agennya ya teman baik keluarga gw sendiri, dan sangat disayangkan sekali, gw bny berhutang budi kepadanya. Kemudian bulan Maret 2009 seorang teman dari atasan gw yg katanyaaa alumni HMI (penting ya diinfokan disini? Hihihi... #abaikan) memprospek gw asuransi pendidikan dari perusahaan Kanada bernama Manusia Hidup. Ah, artikan saja sendiri ya :p
Gw merasa produk dari Mandup (nama disamarkan) ini lebih memenuhi kebutuhan gw akan asuransi pendidikan, krn jls2 disebutkan tujuannya utk menyiapkan dana pendidikan. Dalam ilustrasi juga dijelaskan di tahun2 tertentu gw bisa menarik dana senilai sekian, yang mana di ilustrasi unitlink cap kuning itu gak ada penjelasannya ttg narik dana di tahun2 tertentu. Nama produknya Tautan Belajar (silakan terjemahkan sendiri :p).
Jadilah tahun 2009 gw memiliki sekaligus 2 polis unitlink dari 2 perusahaan berbeda. Bahkan tahun itu pula gw sebenernya agak kepincut dg produk serupa yg ditawarkan bancass nya Bank Mandi Sendiri... cuma entah knp kok nggak jadi, gw lupa sebabnya... oh iya, krn gw baca sebaiknya jgn beli produk dari perusahaan joint venture gitu, krn klo mrk pecah kongsi bakal susah ke depannya. Ok, gw mengurungkan beli unitlink Aksa Mandi Sendiri ini...
Nah, sekarang gambaran preminya yah... siap2 jantung copot pemirsahhh...
Untuk unitlink warna kuning, yang namanya Persemakmuran Hidup...
- Premi sebulan Rp. 400.000
- Uang Pertanggungan Rp. 100 juta... hmm kecil yah, nyawa gw cuma dihargain 100jt doang
- Ada rider waiver premi dan rider kesehatan
- Nama pemegang polis dan nama tertanggung gw sendiri
- Nama ahli waris Luna
- Alokasi 50% ke Equity (saham) 50% ke Balanced Aggresive (campuran)
- Dari premi asuransi sebulan Rp. 400.0o0 itu terdiri dari premi utk BAYAR asuransi 300rb dan top up reguler 100rb (bahasa bodohnya premi INVESTASI deh)
Jadi kalo disetahunkan... gw bayar premi Rp. 4,8 jt yg disetor utk bayar asuransi 3,6jt, utk investasi 1,2jt dg UP nyawa 100jt saja ditambah jaminan kesakitan kamar sehari 500rb dll dsb banyak bgt penjelasan rider kesehatannya. Jelas ya??? *wink* Eh iya, ini gak ada rider kecelakaan dan penyakit kritis lho ya.
Note: gw tutup polis ini per Agustus 2012 dg rincian sbb:
- Total premi dibayar selama 44 bulan = Rp. 400.000 x 44 = Rp. 17,6jt
- Total premi utk BIAYA ASURANSI = Rp. 6.660.000
- Total premi utk INVESTASI = Rp. 10.940.000
Sedangkan hasil pengembaliannya HANYA senilai Rp. 8.291.196. Dibandingin sama premi buat INVESTASI aja udah rugi Rp. 2.648.804 tuh... pdhal namanya investasi kan mestinya naik yah... apalagi kalo dibandingin ama total premi yg udah bayar yg Rp.17,6 jt, jauuuuuh benerrrr. Makanya klo ada agen yg blg unitlink lbh menguntungkan, pengen gw bacok tuh orang, liat angkanya meeeen jgn asal jeplak doang. Eh jd emosi deh gw... hikhikhik...
Berikut ini gambaran lbh jls ttg alokasi premi dari tahun ke tahun mulai gw buka ampe gw nutup... janjinya sih 5 tahun udah gak ada potongan biaya akuisisi lagi. Tp gw udah ndak sabar, begitu nih duit gw masukin reksadana lgsg hasilnya melesatttt bagaikan meteor garden, eh bagaikan komet deh...
Nah silakan cermati hasil kalkulasi tersebut. Semua info ini gw dapatkan dari polis. Makanya baca deh tuh polis baik2, disana semua perjanjian ada, and once you've signed the application it means that you agree with all terms and conditions, ngga peduli lo udah dijlsin apa blm ama agen ttg biaya2 siluman atau demit atau apa kek. Yg ada di statement gw yaitu biasa akuisisi, biaya administrasi, biaya asuransi yg semuanya makanin unit investasi.
Okeh, berhubung suami gw dah pulang n gw dah ngantuk, gw memutuskan tulisan ini dijadikan bersambung dulu... ingatkan gw klo gw lupa bikin sambungannya. Kayaknya gw prnh bikin tulisan yg blm ada sambungannya sampe skrg sih... kapan2 deh klo gw inget gw tulis sambungannya...
Tahun 2009, saat Luna berumur 6 bulan gw mulai memikirkan utk membuka asuransi pendidikan yang TUJUANNYA untuk mengumpulkan DANA PENDIDIKAN Luna dari mulai TK sampai kuliah S1. Jujur aja gw juga gak tau binatang apa asuransi pendidikan ini. Cara kerjanya gak tau, fasilitasnya gak tau, samar2 yg gw tau adl nabung di asuransi pendidikan hasilnya bisa lebih gede dari nabung di tabungan. Nah! Kejadian yang sangat umum kan? Orang tua macam gw inilah yg jd sasaran empuk penjual asuransi pendidikan. Gw sama sekali gak tau produk keuangan selain tabungan dan deposito, asuransi tau dikit tp gak tau cara kerja asuransi itu gimana dan apa manfaatnya. Yg gw tau ya asuransi kalo gak diklaim rugi... makanya mendingan punya asuransi yg ada nilai tunainya. Demikian pikiran lugu polos dan bodoh gw saat itu.
Bulan Januari 2009 gw membuka asuransi investasi unitlink ini di bank kuning yg skrg terkenal sebagai bank supermarket reksadana terbesar di Indonesia. Agennya ya teman baik keluarga gw sendiri, dan sangat disayangkan sekali, gw bny berhutang budi kepadanya. Kemudian bulan Maret 2009 seorang teman dari atasan gw yg katanyaaa alumni HMI (penting ya diinfokan disini? Hihihi... #abaikan) memprospek gw asuransi pendidikan dari perusahaan Kanada bernama Manusia Hidup. Ah, artikan saja sendiri ya :p
Gw merasa produk dari Mandup (nama disamarkan) ini lebih memenuhi kebutuhan gw akan asuransi pendidikan, krn jls2 disebutkan tujuannya utk menyiapkan dana pendidikan. Dalam ilustrasi juga dijelaskan di tahun2 tertentu gw bisa menarik dana senilai sekian, yang mana di ilustrasi unitlink cap kuning itu gak ada penjelasannya ttg narik dana di tahun2 tertentu. Nama produknya Tautan Belajar (silakan terjemahkan sendiri :p).
Jadilah tahun 2009 gw memiliki sekaligus 2 polis unitlink dari 2 perusahaan berbeda. Bahkan tahun itu pula gw sebenernya agak kepincut dg produk serupa yg ditawarkan bancass nya Bank Mandi Sendiri... cuma entah knp kok nggak jadi, gw lupa sebabnya... oh iya, krn gw baca sebaiknya jgn beli produk dari perusahaan joint venture gitu, krn klo mrk pecah kongsi bakal susah ke depannya. Ok, gw mengurungkan beli unitlink Aksa Mandi Sendiri ini...
Nah, sekarang gambaran preminya yah... siap2 jantung copot pemirsahhh...
Untuk unitlink warna kuning, yang namanya Persemakmuran Hidup...
- Premi sebulan Rp. 400.000
- Uang Pertanggungan Rp. 100 juta... hmm kecil yah, nyawa gw cuma dihargain 100jt doang
- Ada rider waiver premi dan rider kesehatan
- Nama pemegang polis dan nama tertanggung gw sendiri
- Nama ahli waris Luna
- Alokasi 50% ke Equity (saham) 50% ke Balanced Aggresive (campuran)
- Dari premi asuransi sebulan Rp. 400.0o0 itu terdiri dari premi utk BAYAR asuransi 300rb dan top up reguler 100rb (bahasa bodohnya premi INVESTASI deh)
Jadi kalo disetahunkan... gw bayar premi Rp. 4,8 jt yg disetor utk bayar asuransi 3,6jt, utk investasi 1,2jt dg UP nyawa 100jt saja ditambah jaminan kesakitan kamar sehari 500rb dll dsb banyak bgt penjelasan rider kesehatannya. Jelas ya??? *wink* Eh iya, ini gak ada rider kecelakaan dan penyakit kritis lho ya.
Note: gw tutup polis ini per Agustus 2012 dg rincian sbb:
- Total premi dibayar selama 44 bulan = Rp. 400.000 x 44 = Rp. 17,6jt
- Total premi utk BIAYA ASURANSI = Rp. 6.660.000
- Total premi utk INVESTASI = Rp. 10.940.000
Sedangkan hasil pengembaliannya HANYA senilai Rp. 8.291.196. Dibandingin sama premi buat INVESTASI aja udah rugi Rp. 2.648.804 tuh... pdhal namanya investasi kan mestinya naik yah... apalagi kalo dibandingin ama total premi yg udah bayar yg Rp.17,6 jt, jauuuuuh benerrrr. Makanya klo ada agen yg blg unitlink lbh menguntungkan, pengen gw bacok tuh orang, liat angkanya meeeen jgn asal jeplak doang. Eh jd emosi deh gw... hikhikhik...
Berikut ini gambaran lbh jls ttg alokasi premi dari tahun ke tahun mulai gw buka ampe gw nutup... janjinya sih 5 tahun udah gak ada potongan biaya akuisisi lagi. Tp gw udah ndak sabar, begitu nih duit gw masukin reksadana lgsg hasilnya melesatttt bagaikan meteor garden, eh bagaikan komet deh...
Nah silakan cermati hasil kalkulasi tersebut. Semua info ini gw dapatkan dari polis. Makanya baca deh tuh polis baik2, disana semua perjanjian ada, and once you've signed the application it means that you agree with all terms and conditions, ngga peduli lo udah dijlsin apa blm ama agen ttg biaya2 siluman atau demit atau apa kek. Yg ada di statement gw yaitu biasa akuisisi, biaya administrasi, biaya asuransi yg semuanya makanin unit investasi.
Okeh, berhubung suami gw dah pulang n gw dah ngantuk, gw memutuskan tulisan ini dijadikan bersambung dulu... ingatkan gw klo gw lupa bikin sambungannya. Kayaknya gw prnh bikin tulisan yg blm ada sambungannya sampe skrg sih... kapan2 deh klo gw inget gw tulis sambungannya...
Sabtu, 05 Januari 2013
Resolusi 2013
Mumpung 2013 masih baru dimulai, rasanya perlu review capaian2 yang sudah gw dapatkan di 2012 dan apa harapan gw di 2013 atau lebih tepat resolusi.
Capaian 2012:
1.Gw berhasil menyusui Indy eksklusif alias lulus S1 ASIX, bulan Maret 2012. Bagi gw ini luar biasa, krn selain gw kerja, jujur aja lingkungan rumah gak sepenuhnya mendukung proses menyusui Indy. Mulai dari percaya mitos2 sampai MPASI dini. Dan gw bertahan menolak itu semua. Susah tau! Blom lagi nyokap gw keukeuh maunya ngasih ASIP pake dot. Untungnya Indy sendiri yang menolak dot jenis apapun dan maunya pake sendok. Pun jadinya dia gak tlalu banyak minum ASIP, yg bikin stok gw jd banyak banget di kulkas. Pokoknya gw bersyukur banget krn akhirnya bisa mematahkan tradisi dalam keluarga gw dimana dipercaya ASI para perempuan di keluarga gw dikit jadinya nggak bisa menyusui. Nyatanya gw bisa kok, dan bisa nyetok sampai kurleb 180 botol selama gw cuti. Akhirnya emang tekad dan semangat yg diperlukan supaya berhasil menyusui, selain memperkaya diri dengan ilmu menyusui yang benar.
2. Setelah S1 ASIX, tepat di ulang tahun pertama Indy juga lulus S2 ASI. Gw makin senang! Krn tantangan makin banyak! Yaitu memberi MPASI instan dan Rational Using Medicine. Susah! Krn alasannya seperti di atas. Yah, bisa dikata gw bekerja sendirian melawan mitos yg berkembang, jadi Indy sempat 1-2x makan MPASI instan. Gara2 ini gw rela datang terlambat ke kantor tiap hari demi supaya membuat makanan dulu untuk Indy, setiap hari. Dah bodo amat sama absen dan RB, gw gak peduli. Sayangnya ini ulang bulan terakhir Indy nyusu langsung, krn tepat di usia 1 tahun 2 minggu dia mengalami breast refusal, menolak menyusu langsung, sampai sekarang. Gw males bahas krn akan membuka luka lama...
3. Gw punya asuransi kesehatan pribadi non ASKES dari kantor. Hanya utk gw dan anak2 krn stlh gw pelajari, papanya Luna dicover full dari kantor sedangkan kami hanya 75%. Jadi sifat askes swasta ini tembelan. ASKES PNS lebih gw fungsikan kalo utk sakit darurat. Mudah2an ya tetep, sehat walafiat. Oiya, askes ini tempelan alias rider di asuransi jiwa yg gw punya. Premi lumayan dg coveran yg cukup memadai, dan sifatnya murni alias hangus.
4. Lanjutan di atas, sebagai tindak lanjut resolusi keuangan, gw memutuskan menambah porsi investasi gw setelah sebelumnya mendapat free check up kondisi keuangan dari AFCnya bang Aidil Akbar. Jadi total investasi saja mencapai 10% penghasilan bulanan. Lumayanlah. Masalah cukup atau enggak, urusan belakangan. Dan, nah ini dia, setelah menimbang2 dengan matang, gw memutuskan menutup semua asuransi unitlink gw. Rugi dah pasti, apalagi salah satunya blm 3 tahun. Tapi drpd menggerogoti keuangan gw lebih lanjut dan gw itung2 blm tentu BEP selama 10 tahun, diliat dari ilustrasi return terbesar yg 15% pun masih rugi, mending gw close semua. Ruginya gw anggap saja sebagai biaya pertanggungan selama 3 tahun yg emang seharusnya hangus.
5. Akhirnya punya plan perhitungan dana pendidikan, buat Indy, dari AFC. Mumpung ada diskon, dan krn dananya hanya tersedia utk 1 anak maka gw buatkan plan itu. Dari sini gw banyak belajar ttg investasi dan kemudian tau gmn cara hitung2an investasi dari target, hehehe. Mayanlah. Ooo ternyata begitu caranya bikin plan...
Sekarang bagian dari tekad gw selama 2013:
1. Belajar nyetir mobil. Ya gw gak bisa nyetir emang. Makanya tahun ini gw ingin mulai belajar. Syukur2 tahun ini dah bisa bawa mobil sendiri ke kantor, target gw itu aja sih.
2. Ikut pelatihan membuat financial plan di QM Financial milik Ligwina Hananto, mulai Level 1 dan Level 2. Gw tertarik banget krn emang rencana gw mau bikin plan pribadi, ada bbrp tujuan keuangan yg menurut gw seharusnya dibikin plan secara komprehensif, apalagi gw pny khayalan utk beli apartemen buat disewakan dan beli rumah di daerah Jakarta Barat utk kelak ditinggali, spy lebih dekat dg kantor dan calon sekolah anak2.
3. Naik jemputan kantor lagi demi menghemat rupiah :p ya krn mulai thn 2013 ini gw melipatgandakan porsi investasi gw, dan utk itu emang diperlukan extra kerja keras. Gak lucu sebulan gw ngabisin 1,5jt doang utk taxian dari kantor! Usaha lain, utk bepergian sebisa mungkin banyakan pake public transport yg irit biaya.
4. Melengkapi jumlah dana darurat, penting banget ini! Apalagi banyak kemungkinan tak diduga2 di tahun mendatang, rasanya selama msh bisa gw berusaha mengirit2 pengeluaran yg bisa diirit.
5. Ini optional, tapi gw berminat mengikuti pelatihan Konselor Laktasi. Niatnya untuk memperbanyak ilmu, syukur2 bisa mengamalkannya. Krn gw merasa masih banyak bgt calon ibu yg blm melek ttg ilmu laktasi, dan gw adalah salah satu dari mereka dulunya sehingga pernah gagal menyusui. Setelah merasakan sendiri bagaimana persiapan menyusui yang benar dan akhirnya berhasil menyusui full selama 1 tahun, gw ingin jangan sampai pengalaman gw dialami oleh calon ibu lainnya.
Apalagi yah? Kayaknya itu doang deh. Mudah2an gw bisa mengingatnya.
Capaian 2012:
1.Gw berhasil menyusui Indy eksklusif alias lulus S1 ASIX, bulan Maret 2012. Bagi gw ini luar biasa, krn selain gw kerja, jujur aja lingkungan rumah gak sepenuhnya mendukung proses menyusui Indy. Mulai dari percaya mitos2 sampai MPASI dini. Dan gw bertahan menolak itu semua. Susah tau! Blom lagi nyokap gw keukeuh maunya ngasih ASIP pake dot. Untungnya Indy sendiri yang menolak dot jenis apapun dan maunya pake sendok. Pun jadinya dia gak tlalu banyak minum ASIP, yg bikin stok gw jd banyak banget di kulkas. Pokoknya gw bersyukur banget krn akhirnya bisa mematahkan tradisi dalam keluarga gw dimana dipercaya ASI para perempuan di keluarga gw dikit jadinya nggak bisa menyusui. Nyatanya gw bisa kok, dan bisa nyetok sampai kurleb 180 botol selama gw cuti. Akhirnya emang tekad dan semangat yg diperlukan supaya berhasil menyusui, selain memperkaya diri dengan ilmu menyusui yang benar.
2. Setelah S1 ASIX, tepat di ulang tahun pertama Indy juga lulus S2 ASI. Gw makin senang! Krn tantangan makin banyak! Yaitu memberi MPASI instan dan Rational Using Medicine. Susah! Krn alasannya seperti di atas. Yah, bisa dikata gw bekerja sendirian melawan mitos yg berkembang, jadi Indy sempat 1-2x makan MPASI instan. Gara2 ini gw rela datang terlambat ke kantor tiap hari demi supaya membuat makanan dulu untuk Indy, setiap hari. Dah bodo amat sama absen dan RB, gw gak peduli. Sayangnya ini ulang bulan terakhir Indy nyusu langsung, krn tepat di usia 1 tahun 2 minggu dia mengalami breast refusal, menolak menyusu langsung, sampai sekarang. Gw males bahas krn akan membuka luka lama...
3. Gw punya asuransi kesehatan pribadi non ASKES dari kantor. Hanya utk gw dan anak2 krn stlh gw pelajari, papanya Luna dicover full dari kantor sedangkan kami hanya 75%. Jadi sifat askes swasta ini tembelan. ASKES PNS lebih gw fungsikan kalo utk sakit darurat. Mudah2an ya tetep, sehat walafiat. Oiya, askes ini tempelan alias rider di asuransi jiwa yg gw punya. Premi lumayan dg coveran yg cukup memadai, dan sifatnya murni alias hangus.
4. Lanjutan di atas, sebagai tindak lanjut resolusi keuangan, gw memutuskan menambah porsi investasi gw setelah sebelumnya mendapat free check up kondisi keuangan dari AFCnya bang Aidil Akbar. Jadi total investasi saja mencapai 10% penghasilan bulanan. Lumayanlah. Masalah cukup atau enggak, urusan belakangan. Dan, nah ini dia, setelah menimbang2 dengan matang, gw memutuskan menutup semua asuransi unitlink gw. Rugi dah pasti, apalagi salah satunya blm 3 tahun. Tapi drpd menggerogoti keuangan gw lebih lanjut dan gw itung2 blm tentu BEP selama 10 tahun, diliat dari ilustrasi return terbesar yg 15% pun masih rugi, mending gw close semua. Ruginya gw anggap saja sebagai biaya pertanggungan selama 3 tahun yg emang seharusnya hangus.
5. Akhirnya punya plan perhitungan dana pendidikan, buat Indy, dari AFC. Mumpung ada diskon, dan krn dananya hanya tersedia utk 1 anak maka gw buatkan plan itu. Dari sini gw banyak belajar ttg investasi dan kemudian tau gmn cara hitung2an investasi dari target, hehehe. Mayanlah. Ooo ternyata begitu caranya bikin plan...
Sekarang bagian dari tekad gw selama 2013:
1. Belajar nyetir mobil. Ya gw gak bisa nyetir emang. Makanya tahun ini gw ingin mulai belajar. Syukur2 tahun ini dah bisa bawa mobil sendiri ke kantor, target gw itu aja sih.
2. Ikut pelatihan membuat financial plan di QM Financial milik Ligwina Hananto, mulai Level 1 dan Level 2. Gw tertarik banget krn emang rencana gw mau bikin plan pribadi, ada bbrp tujuan keuangan yg menurut gw seharusnya dibikin plan secara komprehensif, apalagi gw pny khayalan utk beli apartemen buat disewakan dan beli rumah di daerah Jakarta Barat utk kelak ditinggali, spy lebih dekat dg kantor dan calon sekolah anak2.
3. Naik jemputan kantor lagi demi menghemat rupiah :p ya krn mulai thn 2013 ini gw melipatgandakan porsi investasi gw, dan utk itu emang diperlukan extra kerja keras. Gak lucu sebulan gw ngabisin 1,5jt doang utk taxian dari kantor! Usaha lain, utk bepergian sebisa mungkin banyakan pake public transport yg irit biaya.
4. Melengkapi jumlah dana darurat, penting banget ini! Apalagi banyak kemungkinan tak diduga2 di tahun mendatang, rasanya selama msh bisa gw berusaha mengirit2 pengeluaran yg bisa diirit.
5. Ini optional, tapi gw berminat mengikuti pelatihan Konselor Laktasi. Niatnya untuk memperbanyak ilmu, syukur2 bisa mengamalkannya. Krn gw merasa masih banyak bgt calon ibu yg blm melek ttg ilmu laktasi, dan gw adalah salah satu dari mereka dulunya sehingga pernah gagal menyusui. Setelah merasakan sendiri bagaimana persiapan menyusui yang benar dan akhirnya berhasil menyusui full selama 1 tahun, gw ingin jangan sampai pengalaman gw dialami oleh calon ibu lainnya.
Apalagi yah? Kayaknya itu doang deh. Mudah2an gw bisa mengingatnya.
Label:
breastfeeding,
financial,
Indy,
insurance,
plan,
resolution,
unitlink
Kamis, 12 Januari 2012
Keuangan Keluarga dan Dana Pendidikan
Sebenernya tergolong telat, krn gw baru aware dg keuangan keluarga setelah 4 tahun married. Hahaha, bayangkan! Kemane aje loe selama ini?!! Berkeluarga dg gaya koboi kayak gw (kamu disana, aku disini) memang menjadikan kami berdua, sampai saat ini, gak tau penghasilan masing2, pengeluaran masing2. Ah gile lo, kok bisa? Nah itu dia, gw juga bingung, kok bisa ya?
Sebelum menikah, kami berdua mendiskusikan bbrp hal yg akan menjadi konsekuensi pernikahan. Dan kesepakatan kami antara lain, gw tetap bisa bekerja tp posisi gw adalah komplementer, dalam artian bukan berarti penghasilan gw hak gw doang tapi bisa berpengaruh thdp kebutuhan keluarga kecil kami. Walau demikian suami akan sebisa mungkin memenuhi kebutuhan gw dan anak2 kami kelak. Dan pengelolaan penghasilan diserahkan masing2, dalam artian gw ngelola penghasilan gw sendiri, suami juga demikian.
Waktu masih serumah, praktis semua pengeluaran selama berjalan sama suami adalah pengeluaran dia. Gw cuma keluar duit klo gw lagi jalan sendiri, misal pulang kantor mampir belanja, nah itu gw yg bayar. Demikian juga ongkos dan makan gw di kantor, berasal dari gaji gw. Suami gak kasih gw semacam uang pegangan utk operasional. Kami berdua masing2 punya tanggung jawab lain juga, seperti gw yg membayar pengeluaran rutin rumah ortu utk bayar listrik dan telpon, demikian juga suami.
Semua berjalan sampai akhirnya lahir anak pertama, Luna. Biaya kontrol kandungan dan melahirkan jelas tanggungan suami dong, secara dia dapat ganti dari kantornya. Demikian juga biaya imunisasi. Karena gw stay di rumah ortu gw dan suami stay di rumah ortunya, sedangkan Luna adalah peminum sufor, tentu ada biaya yang LUMAYAN BANYAK harus dikeluarkan setiap bulan. 3 bulan magabut (kan cuti hamil, jadi cuma dapet gaji thok dong, tunjangan kagak bo, wkt itu sistemnya kalo cuti nggak dapat tunjangan) gaji gw lumayan terkuras beli perkakas bayi macam diapers dll (untungnya Luna pake popok jadi pake diapers klo lg diajak keluar aja). Karena masa2 ini hubungan gw masih panas2nya (bukan panas arti sensual ya :P tapi lg "Siaga I" atau "Awas" klo ikutin status gunung berapi) gw gak minta duit sama suami. Gengsi ceritanya! Tapi kobol2 juga lama2. Dan akhirnya memang suami memberikan salah 1 kartu ATMnya utk gw bawa, yang sejak itu diperuntukkan utk biaya operasional gw dan Luna. Jadi tiap bulan abis gajian dia transfer sejumlah sekian utk kebutuhan Luna (dan gue). Nah baru deh keuangan gw longgar kembali, gak sesek napas.
Berada dalam kondisi yang tidak menentu membuat gw berpikiran, bahwa apapun yang terjadi gw tidak boleh 100% tergantung siapapun, gw harus siap mental dan finansial klo sesuatu yg terburuk terjadi (waktu itu hubungan kami cukup buruk utk ukuran suami istri), dan terutama gw harus bisa survive, selain utk diri sendiri juga utk anak gw in case terjadi hal yg tidak diinginkan (oh yeah, gw pun merasakan hal ini dan bisa mengerti dan memahami mengapa artis2 itu gampang sekali bercerai, stlh gw merasakan momen2 dimana kami berdua bener2 tidak bisa memahami satu sama lain, pdhal dah jalan bareng 6,5 tahun lamanya).
Nasihat nyokap gw di sini adalah: gak boleh boros sama duit! Maka gw pun mencari cara gimana supaya kelak gw bisa menyekolahkan anak gw, gimana dg duit yg ditransfer rutin sama suami itu gak lenyap begitu aja tp bisa gw sisihkan untuk dana pendidikannya kelak. Kalo utk kebutuhan hidup sih gw masih bisa penuhi.
Karena gw gak punya bayangan sama sekali ttg pengelolaan duit ini, secara sederhana gw hanya ikut tabungan rencana dari bank plat merah terbesar setelah gw dilamar dg jumlah setoran bulanan 200rb. Ketika jatuh tempo (gw ikut thn 2007 dg jatuh tempo 2 tahun) gw perpanjang lagi sampai tahun 2014 dg jumlah setoran tetap, sesuai dengan perkiraan umur Luna masuk SD (6 tahun). Gw percaya klo cuma nabung doang gak bakalan kekejar dana pendidikan Luna krn ada inflasi dsb. Maka gw pun tertarik dg asuransi pendidikan.
Waktu itu gw sama sekali gak tau produk2 utk perencanaan dana pendidikan. Yg sering gw denger adalah asuransi pendidikan. Tp cara kerjanya kayak apa juga gw gak tau. Kebetulan teman akrab orangtua kami adalah agen asuransi cap kuning. Dia menawarkan produk asuransi investasi (yg kemudian gw tau namanya unitlink). Krn gw ga tau spesifik produknya, gw iya2in aja, gw percaya sepenuhnya. Walau gw agak bingung, soale setau gw asuransi pendidikan itu biasanya di ilustrasi ada gambarannya klo umur anak 4 thn dapat berapa, 6 thn dpt berapa, 12 thn, 15 thn, 18 thn.
Singkat kata akhirnya polis gw keluar, bulan Januari 2009, tertanggung adalah gw dg ahli waris Luna. Uang Pertanggungan 100jt, premi 400rb per bulan, masa pembayaran selama 10thn. Dilengkapi dengan rider kesehatan dan waiver. Wah, gw ga tau deh istilah2nya saat itu, yg gw minta cuma spy klo masuk RS bisa klaim ganti biaya. Karena pikir gw, biasanya anak kecil kan pasti sering sakit2, siapa tau aja harus masuk RS.
Di saat bersamaan, temen atasan gw di kantor juga prospek gw utk ikutan asuransi pendidikan dari perusahaan warna hijau. Gw liat di ilustrasinya, tnyata yg seperti itu yg (tadinya) gw inginkan, bener2 asuransi pendidikan. Jadi di umur2 masuk tingkatan sekolah kita mendapatkan dana sekian. Asuransi itu sama juga jenisnya, unitlink, menggabungkan asurans dan investasi. Setelah revisi premi karena gw hny sanggup 4jt per tahun, maka dibuatlah ilustrasi, sampai akhirnya gw setuju dan polis dibuat. Saat itu Maret 2009. Jadi gw memiliki 2 polis unitlink. Tertanggung gw, UP 15jt, premi 4jt15rb per tahun yg dibayar semesteran, ridernya ADDB. Di polis sih gw liat masa pembayaran terus menerus... Gw pikir, ya sudahlah ntar kan bisa nego lagi spy masa bayarnya cukup 10 tahun aja.
Untuk kedua produk diatas, gw sama sekali gak ikut menentukan akan dimasukkan kemana saja dana investasinya. Unitlink cap kuning 50% saham 50% dana berimbang, unitlink hijau 100% saham. Ini yg menentukan para agen, gw sama sekali gak tau apa itu masuk ke saham apa itu dana berimbang. Sekilas aja gw pelajari polisnya, tp gw tetep gak tau maknanya apa (gw baca polisnya sampai habis lho).
Jadi total gw memiliki 2 polis unitlink, 1 tabungan rencana, deposito berjangka dan tabungan biasa. Dalam hati gw berpikir, setiap melihat gambaran ilustrasi di polis2 itu, wah enak banget ya cuma bayar sekian di masa depan duit kita bisa berkembang jadi sekian ratus juta. Gw pun sempat berpikir utk diversifikasi aset dg membuat unitlink lagi di bank pemerintah. Namun akhirnya gw batalin rencana itu krn gw mikir gimana bayar preminya ntar.
Sebelum menikah, kami berdua mendiskusikan bbrp hal yg akan menjadi konsekuensi pernikahan. Dan kesepakatan kami antara lain, gw tetap bisa bekerja tp posisi gw adalah komplementer, dalam artian bukan berarti penghasilan gw hak gw doang tapi bisa berpengaruh thdp kebutuhan keluarga kecil kami. Walau demikian suami akan sebisa mungkin memenuhi kebutuhan gw dan anak2 kami kelak. Dan pengelolaan penghasilan diserahkan masing2, dalam artian gw ngelola penghasilan gw sendiri, suami juga demikian.
Waktu masih serumah, praktis semua pengeluaran selama berjalan sama suami adalah pengeluaran dia. Gw cuma keluar duit klo gw lagi jalan sendiri, misal pulang kantor mampir belanja, nah itu gw yg bayar. Demikian juga ongkos dan makan gw di kantor, berasal dari gaji gw. Suami gak kasih gw semacam uang pegangan utk operasional. Kami berdua masing2 punya tanggung jawab lain juga, seperti gw yg membayar pengeluaran rutin rumah ortu utk bayar listrik dan telpon, demikian juga suami.
Semua berjalan sampai akhirnya lahir anak pertama, Luna. Biaya kontrol kandungan dan melahirkan jelas tanggungan suami dong, secara dia dapat ganti dari kantornya. Demikian juga biaya imunisasi. Karena gw stay di rumah ortu gw dan suami stay di rumah ortunya, sedangkan Luna adalah peminum sufor, tentu ada biaya yang LUMAYAN BANYAK harus dikeluarkan setiap bulan. 3 bulan magabut (kan cuti hamil, jadi cuma dapet gaji thok dong, tunjangan kagak bo, wkt itu sistemnya kalo cuti nggak dapat tunjangan) gaji gw lumayan terkuras beli perkakas bayi macam diapers dll (untungnya Luna pake popok jadi pake diapers klo lg diajak keluar aja). Karena masa2 ini hubungan gw masih panas2nya (bukan panas arti sensual ya :P tapi lg "Siaga I" atau "Awas" klo ikutin status gunung berapi) gw gak minta duit sama suami. Gengsi ceritanya! Tapi kobol2 juga lama2. Dan akhirnya memang suami memberikan salah 1 kartu ATMnya utk gw bawa, yang sejak itu diperuntukkan utk biaya operasional gw dan Luna. Jadi tiap bulan abis gajian dia transfer sejumlah sekian utk kebutuhan Luna (dan gue). Nah baru deh keuangan gw longgar kembali, gak sesek napas.
Berada dalam kondisi yang tidak menentu membuat gw berpikiran, bahwa apapun yang terjadi gw tidak boleh 100% tergantung siapapun, gw harus siap mental dan finansial klo sesuatu yg terburuk terjadi (waktu itu hubungan kami cukup buruk utk ukuran suami istri), dan terutama gw harus bisa survive, selain utk diri sendiri juga utk anak gw in case terjadi hal yg tidak diinginkan (oh yeah, gw pun merasakan hal ini dan bisa mengerti dan memahami mengapa artis2 itu gampang sekali bercerai, stlh gw merasakan momen2 dimana kami berdua bener2 tidak bisa memahami satu sama lain, pdhal dah jalan bareng 6,5 tahun lamanya).
Nasihat nyokap gw di sini adalah: gak boleh boros sama duit! Maka gw pun mencari cara gimana supaya kelak gw bisa menyekolahkan anak gw, gimana dg duit yg ditransfer rutin sama suami itu gak lenyap begitu aja tp bisa gw sisihkan untuk dana pendidikannya kelak. Kalo utk kebutuhan hidup sih gw masih bisa penuhi.
Karena gw gak punya bayangan sama sekali ttg pengelolaan duit ini, secara sederhana gw hanya ikut tabungan rencana dari bank plat merah terbesar setelah gw dilamar dg jumlah setoran bulanan 200rb. Ketika jatuh tempo (gw ikut thn 2007 dg jatuh tempo 2 tahun) gw perpanjang lagi sampai tahun 2014 dg jumlah setoran tetap, sesuai dengan perkiraan umur Luna masuk SD (6 tahun). Gw percaya klo cuma nabung doang gak bakalan kekejar dana pendidikan Luna krn ada inflasi dsb. Maka gw pun tertarik dg asuransi pendidikan.
Waktu itu gw sama sekali gak tau produk2 utk perencanaan dana pendidikan. Yg sering gw denger adalah asuransi pendidikan. Tp cara kerjanya kayak apa juga gw gak tau. Kebetulan teman akrab orangtua kami adalah agen asuransi cap kuning. Dia menawarkan produk asuransi investasi (yg kemudian gw tau namanya unitlink). Krn gw ga tau spesifik produknya, gw iya2in aja, gw percaya sepenuhnya. Walau gw agak bingung, soale setau gw asuransi pendidikan itu biasanya di ilustrasi ada gambarannya klo umur anak 4 thn dapat berapa, 6 thn dpt berapa, 12 thn, 15 thn, 18 thn.
Singkat kata akhirnya polis gw keluar, bulan Januari 2009, tertanggung adalah gw dg ahli waris Luna. Uang Pertanggungan 100jt, premi 400rb per bulan, masa pembayaran selama 10thn. Dilengkapi dengan rider kesehatan dan waiver. Wah, gw ga tau deh istilah2nya saat itu, yg gw minta cuma spy klo masuk RS bisa klaim ganti biaya. Karena pikir gw, biasanya anak kecil kan pasti sering sakit2, siapa tau aja harus masuk RS.
Di saat bersamaan, temen atasan gw di kantor juga prospek gw utk ikutan asuransi pendidikan dari perusahaan warna hijau. Gw liat di ilustrasinya, tnyata yg seperti itu yg (tadinya) gw inginkan, bener2 asuransi pendidikan. Jadi di umur2 masuk tingkatan sekolah kita mendapatkan dana sekian. Asuransi itu sama juga jenisnya, unitlink, menggabungkan asurans dan investasi. Setelah revisi premi karena gw hny sanggup 4jt per tahun, maka dibuatlah ilustrasi, sampai akhirnya gw setuju dan polis dibuat. Saat itu Maret 2009. Jadi gw memiliki 2 polis unitlink. Tertanggung gw, UP 15jt, premi 4jt15rb per tahun yg dibayar semesteran, ridernya ADDB. Di polis sih gw liat masa pembayaran terus menerus... Gw pikir, ya sudahlah ntar kan bisa nego lagi spy masa bayarnya cukup 10 tahun aja.
Untuk kedua produk diatas, gw sama sekali gak ikut menentukan akan dimasukkan kemana saja dana investasinya. Unitlink cap kuning 50% saham 50% dana berimbang, unitlink hijau 100% saham. Ini yg menentukan para agen, gw sama sekali gak tau apa itu masuk ke saham apa itu dana berimbang. Sekilas aja gw pelajari polisnya, tp gw tetep gak tau maknanya apa (gw baca polisnya sampai habis lho).
Jadi total gw memiliki 2 polis unitlink, 1 tabungan rencana, deposito berjangka dan tabungan biasa. Dalam hati gw berpikir, setiap melihat gambaran ilustrasi di polis2 itu, wah enak banget ya cuma bayar sekian di masa depan duit kita bisa berkembang jadi sekian ratus juta. Gw pun sempat berpikir utk diversifikasi aset dg membuat unitlink lagi di bank pemerintah. Namun akhirnya gw batalin rencana itu krn gw mikir gimana bayar preminya ntar.
Langganan:
Postingan (Atom)


