Tampilkan postingan dengan label investment. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label investment. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juli 2015

Review: Capaian Resolusi 2015

Gw berencana menulis tentang review pencapaian 2015 tapi berkali2 gak sempet aja. Akhirnya baru sekarang kesampaian. Ini sebagai pengingat aja supaya gw selalu fokus ke depan, syukur2 bisa menambah lebih banyak lagi pencapaian yang positif. Kata orang ada baiknya semua tujuan yang ingin dicapai ditulis dulu, diresapi, sehingga fokus mencapainya. Entah bener atau nggak tapi sejak gw mulai menulis resolusi (fokus), rasa2nya memang lebih cepat tercapai. Tentu harus realistis, apakah kira2 bisa dilakukan apa nggak, atau cuma sekedar cita2 yang mengawang2. Resolusi 2015 gw ada di sini.

1. Lala mendapat ASIX 6 bulan (S1) dan tetap menyusu sampai umur 1 tahun (S2)
Ini adalah cita2 gw banget, dan syukurlah kesampaian, tepat di umurnya yang 1 tahun. Sampai tulisan ini dibuat, Lala masih menyusu sampai sekarang (umur 16 bulan). Semoga dia masih akan terus menyusu hingga umurnya 2 tahun (S3).
Btw, banyak lho yang melecehkan keinginan gw ini. Dibilang sok lah, dsb. Entah kenapa. Boro2 menyusui anak sampai 2 tahun, sampai periode ASIX saja banyak yang nggak sadar kalo itu penting banget. Apalagi kalo lama sampai 2 tahun, bahkan lebih. Gw masih menyusui anak gw, makannya banyak, tumbuh kembangnya normal, that's it. Urusan gw lah mau nyusuin sampe umur berapa. Sesuai anjuran WHO aja menyusui disarankan sampai umur 2 tahun. Jd kenapa pada berisik sih? Toh ASI gw juga masih ada, krn gw BELAJAR dari sumber yg bener (AIMI).

2. Indy bisa ngomong dengan jelas, gak pake diapers lagi.
Dibahas lengkap di sini. Akhirnya memang kesampaian juga. Setelah menjalani beberapa sesi terapi, baik terapi bicara maupun terapi lainnya. Setelah dia mulai bisa diajak ngomong, gw latih untuk gak pake diapers. Ini perlu perjuangan dulu, bisa aja dia ngompol dimana2 termasuk di kasur. Sampai akhirnya di bulan Mei dia bilang sendiri kalo mau pipis. Dan selama 2 hari di rumah, dia selalu bilang kalo mau pipis. Akhirnya gw bebas dari keharusan beli diapers untuk Indy! Yah masih ada masalah lain sih, dia masih pup di celana! Yang ini mudah2an akhir tahun ini bisa segera dibereskan, jadi kalo kalo buang air di kamar mandi.

3. Luna naik kelas 2
Syukurlah semester genap ini kemajuan Luna mulai berkembang. Dari yang semua pelajarannya harus her pas semester ganjil, akhirnya di semester genap (kenaikan kelas) dia nggak ada her lagi, dari mulai ulangan tengah semester hingga ujian kenaikan kelas. Seneng banget rasanya nggak menemukan nama Luna di daftar murid yang her. Mudah2an di kelas 2 nanti perkembangan Luna semakin bagus. PR yg harus dilakukan, mengurangi ketergantungan dia sama TV dan HP. Ini susah krn bapaknya yg ngasih -___-

4. Imunisasi lengkap untuk anak2 dan gw
Tahun ini 2 anak terbesar gak ada jadwal imunisasi. Hanya Lala yang masih ada jadwal imunisasi tahun ini, dan sejauh ini tinggal booster DPT Hib Polio umur 18 bulan aja yang belum (masih bulan Agustus nanti). Termasuk akhirnya Lala dapat juga dosis Varicella, secara imunisasi ini yang sangat langka, daftar tunggu banyak tapi pasokan nggak ada. Jadi lega deh akhirnya Lala bisa dapat imunisasi Varicella juga. Khusus gw, akhirnya selesai sudah penantian gw akan imunisasi Hepatitis A dewasa dosis kedua, setelah berbulan2 obatnya habis. Jadi imunisasi gw udah lengkap semuanya dong, yeeeey!! Mission accomplished. Resolusi imunisasi lengkap pun akhirnya baru kesampaian di tahun ini.

5. Dana darurat nambah.
Confirm fix hal ini gak bakal tercapai tahun ini! XD

6. Beli reksadana incaran
Akhirnya gw beli reksadana SAM Indonesian Equity Fund. Udah pernah dibahas sebelumnya di posting khusus di sini.

Sampai pertengahan tahun ini, inilah yang gw garis bawahi:
1. Berhubung laki gw alih profesi dari karyawan jadi freelancer, dana darurat gw perkuat. Stop semua autodebet investasi. Langsung masuk ke reksadana sekaligus jreng, mumpung lagi diskon. Gw alokasikan dana jamsostek dia ke beberapa pos, seperti dana darurat, investasi, bayar utang, hingga alokasi dana kesehatan dan uang sekolah anak2 selama setahun ke depan. Dan gw melakukan penghematan luar biasa di segala lini kehidupan. Namanya freelancer, kapan rejeki mau datang nggak bisa ditentukan.

2. Anak2 gw akan mulai sekolah tahun ajaran ini, Luna dan Indy. Semua biayanya sudah terbayar. Lega jelas. Karena daftar ulang 2 anak aja biayanya 1 bulan gaji gw X_X Mudah2an gw senantiasa bisa memberi yang terbaik untuk anak2

3. Tahun ini gw masuk ke investasi saham. Sempet kalap pake fasilitas margin, beli asal tubruk yg berakibat beberapa saham gw nyangkut sampai sekarang -__- Karena yg gw beli semuanya blue chip, jd gw gak cut loss, tunggu naik aja (pikiran ogah rugi). Emang sih katanya kalo belum pernah ngalamin cut loss, bukan investor saham. Hahaha tapi karena saham blue chip, ya gw biarkan saja. Gw juga beli beberapa buku tentang investasi saham, antara lain karangan Ellen May dan Desmond Wira. Namun untuk ikut trainingnya gw masih maju mundur. Karena gw mau ikut kursus Financial Planning IARFC dulu. 

4. Gw akhirnya ikut kursus terakhir dari IARFC, CLIC alias Life Insurance. Karena gw dah ikut semua trainingnya (CPMM, CMFC, CEPC), jadinya disamakan dengan Basic Financial Planning. Tapi gw masih penasaran ikut kursusnya secara keseluruhan. Ilmu kan harus dipelajari sampai tuntas. Gw emang senang belajar tentang beginian. Menurut gw gak ada yg percuma dari gw belajar ini semua.

5. Nonton konser!!!
Wah tahun ini adalah tahun yang luarrrrr biasa untuk urusan hiburan. Gw nonton 2 konser impian tahun ini, dan agak keselek krn 2 konser itu diadakan di bulan Mei, 2 minggu berturutan. Keselek beli tiketnya. Konser pertama adalah Boyzone, tanggal 22 Mei. Gw begitu tau Boyzone akan datang langsung memutuskan nonton, mbuh piye caranya ijin pulang sampai jam 10an malam, yang penting gw nonton! Tiket seharga 1 jutaan, harga presale, sektor Gold. Lumayanlah, walau spot tempatnya kurang enak menurut gw krn datang telat, dapat deket panggung, bukan ngadap panggung. Akhirnya bisa liat Ronan Keating langsung, nyanyi! Horee!
Konser kedua, ahhh my lovely handsome Tommy Page! Aaaakkk begitu diumumkan dia akan datang lagi, tanpa basa basi gw langsung beli tiket yang Platinum! Walau sempet shocked krn jadwalnya yg beda seminggu sama konser Boyzone! Maksudnya, kasian kartu kredit gw!!! Gimana cara ijinnya nanti??? Huhuhuuu... Dan dia pun juga adain meet and greet juga, di (lagi2!) Bekesyong. Demen amat ke bekesyong! Sayang seribu sayang, sial seribu sial, kali ini gw gak beruntung bisa fotoan sama dia. Kesel sebenernya. Gw merasa menyesal krn gw kali ini gak bisa total jadi groupiesnya...hehehe... Dan juga nyesel kenapa gw gak nonton sekalian konser privatnya di hari berikutnya. Tapi ah ya sudahlah... Namun walau begitu gw bersyukur banget akhirnya impian gw memeluk Tommy Page kesampaian! Pas dia nyanyi, biasanya suka jalan ke penonton. Nah di situ gw dah tau (makanya beli tiket yang platinum biar bisa peluk2!). Langsung deh gw peluk, sampe gw dihalau bodyguard. Wah kacau! Pengen tuh bodyguard gw tempelin nametag gw aja yg gambar Garuda! Wkwkwk... Wangi dia bo... hahaha... Ah cintaku... dan seperti biasa, sebulan sesudahnya gw pasti akan sering melamun indah (kadang jorok) tentangnya...wik wik wik wikkkkiwww....

Kayaknya segitu dulu review tengah tahun gw. Nanti akhir tahun akan ada lagi capaian yang telah diperoleh dibandingkan dengan resolusi 2015.

Sabtu, 30 Mei 2015

Investasi Saham

Ya, belakangan ini gw lagi tertarik sama yg namanya investasi saham langsung di pasar modal. Kayaknya mungkin terlambat banget ya. Namun menurut gw gak ada kata terlambat dalam memulai suatu hal yang baik. Kenapa gw akhirnya mulai tertarik investasi saham langsung?

Awalnya adalah kata2 planner gw mba Phien (@phien13) yg menyarankan gw mulai belajar tentang investasi saham dulu, soalnya perencanaan gw di bidang keuangan dianggap cukup matang. Udah punya plan, investasi rutin di reksadana, dana darurat (walau belum sesuai komposisi ideal), proteksi sesuai kebutuhan. Jadi alangkah baiknya kalo sudah mulai melirik investasi langsung di pasar modal berupa saham langsung. Kalo reksadana kan investasi pasar modal namun melalui perantara Manjer Investasi (MI).

Kejadian itu sebenernya tahun 2014, dan saat itu gw berpikir gw belum siap, baik materi dan mental. Gw ingin baca2 referensi yang banyak dulu sebelum gw masuk investasi saham langsung. Maka gw pun beli buku yang banyak direferensikan ke gw tentang investasi saham, yaitu bukunya Ellen May (@pakarsaham). Belum sempet tuntas dibaca, gw kemudian sibuk dengan kegiatan dan urusan lainnya, walau buku Baby Steps ini tiap hari gw bawa di tas sampai wujudnya lecek krn gw pernah keujanan sampai tas gw basah.

Akhirnya tahun 2015 gw mulai mikir lebih serius lagi untuk mulai masuk ke investasi saham langsung. Memang awalnya gw patok target tahun 2016, krn di saat itu adalah genap 5 tahun gw investasi di reksadana, jadi supaya lebih matang aja. Tapi hati kecil gw berkata bahwa sepertinya gw harus lebih cepat lagi masuk ke pasar modal langsung, kayaknya harus tahun ini. Gw masih mencari2 broker (sekuritas) yang pas untuk newbie seperti gw. Ada banyak rekomendasi, tapi tiap rekomendasi itu harus difilter dulu oleh gw, krn gw gak ingin salah pilih broker.

Di sini akhirnya gw bertekad menyelesaikan baca buku Ellen itu, dan emang akhirnya kelar juga sih. Di saat bersamaan gw juga mengincar untuk mengikuti Sekolah Pasar Modal (SPM) yg diselenggarakan GRATIS oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). SPM BEI ini terdiri dari 2 level dan diselenggarakan setiap bulan setidaknya 3x. Pesertanya sungguh membeludak. Gw ikut yg Level 1 batch pertama tahun 2015. Karena batch pertama, dibuka langsung oleh Dewan Direksi BEI beserta perwakilan seluruh broker yang menjadi sponsor SPM tahun 2015.

SPM Level 1 berlangsung selalu di hari kerja, dan seharian mulai jam 9 sampai jam 4 sore. Materinya masih ringan, karena diperuntukkan untuk pemula. Selama kegiatan berlangsung, kita mendapat makan siang berupa nasi kotak (bukan catering prasmanan ya, hehe). Sesi 1 berupa penjelasan dasar dari investasi pasar modal, sesi 2 giliran broker sponsor yang mengisi acara. Waktu Level 1 broker yg mengisi sesi adalah Henan Putihrai Securities, sedangkan di Level 2 brokernya Kim Eng Maybank Securities. Tentunya semua broker ini memiliki ijin resmi dan terdaftar sebagai Anggota Bursa. Saat itu dari pihak sekuritas HP menjelaskan tentang Analisa Teknikal.

SPM Level 2 khusus hanya diperuntukkan bagi yang sudah memiliki di rekening sekuritas. Waktu itu gw sedang dlm proses buka rekening di Mandiri Sekuritas, jd gw hanya membawa salah satu statement reksadana yg gw punya, dan ini diminta oleh panitia. Materi di Level 2 lebih susah lagi dari Level 1, pantesan aja harus yg udah jadi nasabah, krn terminologinya udah pasar modal banget, klo yg belum punya atau belum pernah transaksi dijamin bengong, kayak gw hehehe. Materi yg gw tau cuma tentang ETF aja, selebihnya blank (waran, right, option, dll mbuh apalagi). Sedangkan dari pihak broker sponsor (Kim Eng) memberikan materi tentang Analisa Fundamental.

Gw akhirnya memang membuka rekening investasi saham di Mandiri Sekuritas. Pilihan gw di sini krn setelah mempelajari formulir pembukaan rekening dari kurang lebih 4 sekuritas, di Mansek udah jelas anak usaha BUMN, gw punya rekening tabungan di Mandiri, jadi kalo gw transfer dana antar rekening nggak kena biaya lagi. Oh ya, klo buka rekening di sekuritas itu kita akan dibikinin rekening namanya Rekening Dana Investor (RDI), ini akan digunakan untuk transaksi jual beli saham. Rekeningnya nggak ada bunganya, nggak ada biaya apapun juga (ATM, bulanan, dsb) dan katanya sih saldonya pun bisa 0 tergantung kebijakan banknya.

Minimal dana yang digunakan untuk buka rekening investasi dimanapun bervariasi, bahkan ada yg 100 ribu udah bisa bikin RDI. Tapi di Mansek minimal 2 juta. Tadinya memang 5 juta untuk mahasiswa, 10 juta untuk umum. Karena BEI sedang gencarnya promosi ke masyarakat untuk mulai investasi di pasar modal, maka segala macam persyaratan dibuat nggak rumit supaya banyak investor ritel lokal yang masuk ke pasar modal Indonesia, karena sekarang komposisi investor lokal dibanding investor asing masih kalah. Antara lain dengan menurunkan setoran awal di RDI.

Syarat yang dibutuhkan memang lebih advanced dibanding reksadana, dan kita diwajibkan mengisi formulir KYC lebih rinci, seperti data pasangan/ortu (NPWP, pekerjaan, penghasilan bulanan). Untuk pemegang RDI wajib punya NPWP. Yg statusnya mahasiswa melampirkan NPWP ortu, yg statusnya IRT melampirkan NPWP suami.

Bulan Mei 2011, gw mulai investasi reksadana, dengan gegap gempita gw mulai beli reksadana impian gw sesuai dgn riset amatir yg gw lakukan sebelumnya. Bulan Mei 2015, gw akhirnya mulai satu tahap baru dalam perkembangan finansial gw, yaitu mulai investasi saham langsung. Dan seperti awal waktu mulai beli reksadana, gw pun merasakan kenorakan beli berbagai macam saham incaran, sampai gw tanpa sadar udah pake fasilitas margin X_X gelooo... maklum masih baru transaksi.

Gw baru tau sistem transaksi saham ya kayak gitu itu. Klo reksadana kan tinggal tulis mau beli brp banyak, nanti besok baru ketauan besok dapat berapa unit. Nah klo saham ini satuannya lot, dan kita yg nentuin kita mau beli di harga berapa. Jadi klo pas kita kasih penawaran di harga rendah dan kemudian ada yg jual dengan harga sesuai penawaran (padahal biasanya harganya nggak serendah itu), namanya beruntung banget.

Pokoknya banyak keseruan tentang investasi saham yang baru gw kenal selama 1 bulan ini, dan gw masih harus belajar lebih banyak lagi, terutama tentang analisa fundamental krn gw ingin menjadi investor saham. Walau demikian gw gak menutup mata klo nantinya gw akan tertarik untuk trading saham, mungkin setelah gw siap mental dan ilmu.

Untuk referensi mengenai investasi saham langsung, gw sarankan baca dulu buku @pakarsaham (www.ellen-may.com) dan @desmondwira (www.juruscuan.com), klo twitter lupa siapa aja tapi carilah nama Satrio Utomo, Teguh Hidayat, Terus Belajar Saham, karena bahasanya mudah dimengerti oleh orang awam. Penting nih menurut gw, sebaiknya sih sebelum masuk ke investasi saham, minimal cobain investasi di reksadana saham dululah. Karena klo pas market lagi turun, nggak terlalu dag dig dug derrr. Klo di reksadana saham begitu market turun trus langsung merasa gak karu2an, ya jangan masuk dulu, soalnya investasi reksadana saham itu seperti sekolah untuk memahami bagaimana cara kerja pasar modal.

Gw yg ambil saham2 mayoritas blue chip atau LQ45 sih nggak kaget dengan naik turun harga saham. Yg gw rasakan adalah misalnya beli suatu saham di harga 5000 per lembar (1 lot=100 lembar) eh besoknya dia turun jadi 4900, walau cuma beda 10000 doang tapi rasanya rugi aja knp gw gak dapat pas harga murah :D Kurang lebih seperti itulah yg namanya investasi saham.

Jangan lupa, sebelum terjun langsung banyak2lah membaca dan berdoa :D dan terutama jangan percaya sama kata2 penjual training saham karbitan bin materialistis, kenali dulu sepak terjangnya sebelum ambil trainingnya yg mahal itu. Ada yg lbh murah dan lebih berpengalaman, ngapain ngambil yg udah mahal masih minim pengalaman pula. Gw dah menyatakan diri amatir, maka gw pun menyarankan pembaca untuk mencari referensi terpercaya.

Minggu, 03 Mei 2015

Beli reksadana di MI Samuel (SAM)

Tahun ini gw nambah lagi portofolio reksadana saham gw di MI Samuel atau yg ikrib dipanggil SAM. Nama produknya SAM Indonesian Equity Fund (SAM SIEF). Gw emang udah lama tertarik dengan produk ini, karena gw liat larinya lumayan kenceng juga. Walaupun termasuk kategori MI lokal menengah tapi AUM nya udah masuk angka triliunan. Ini cara gw pribadi menyaring MI dimana gw akan menginvestasikan dana gw. Ya iyalah, syarat kredibilitas MI menurut gw sangat penting. Trus di website nya FFS serta prosepktus pun mudah didapat, yang versi terakhir. Jadi gw gak bakal percaya tuh sama MI yang katanya sih produknya dapet award bla bla.. tapi pas gw cek websitenya, astaga, bapuk bener, gak ada FFS atau prospektus yg bisa ddownload. Mungkin kudu telpon marketingnya gitu biar bisa dikirim FFS dan prospektus terbaru. Malesin amat kan. Lupakan aja deh produk kayak gitu. Itu tuh... rekomendasi si kucing RD..hehehe...

Disclaimer: Penyebutan merk/produk bukan merupakan rekomendasi beli. Pilih reksadana yang sesuai dengan profil resiko, tujuan investasi dan jangka waktu. Kenali cara kerja reksadana dengan baik, karena investasi reksadana tidak dijamin, mengandung resiko penurunan sebagian atau seluruh modal. Semua tindakan dalam memilih produk reksadana adalah tanggung jawab pribadi investor. Tulisan ini hanya dimaksudkan untuk berbagi pengalaman pribadi penulis.

SAM SIEF udah gw denger sejak kira2 tahun 2012, awal gw mulai investasi reksadana. Tapi gw mulai mempertimbangkan untuk beli setelah melihat kinerjanya di Infovesta. Kemudian akhirnya setelah menimbang2 bbrp hal gw memutuskan beli. Nah di sini ada pertanyaan: dimana dan bagaimana beli SAM SIEF? Karena di website tidak ada agen penjual reksadana SAM (bank, sekuritas). Gw agak lama di proses ini, bingung cari tau gimana caranya. Pdhal sebenernya bisa aja telpon langsung ke kantornya, minta info. Tapi entah kenapa gak kesampaian terus.

Gw sempat berpikir untuk beli reksadana SAM pas ada acara kayak IFEF atau Pekan Reksadana. Tapi entah kenapa tiap ada acaranya selalu aja pas gw gak bisa hadir. Dan lama kelamaan tahun ini NAB SIEF udah naik aja diatas 2000. Pdhal gw udah niat itu wkt masih musim bearish tahun 2013. Gila ya lama amat.

Akhirnya baru 2015 ini gw pas sempet dan kebetulan ada dana secukupnya daripada dipake belanja perkakas dapur mulu mulai kembali cari info di websitenya. Jadi caranya begini (seperti postingan yang lalu, supaya lebih runut):

1. Download formulir di website SAM. Ada beberapa formulir, antara lain formulir untuk nasabah baru, formulir pembelian reksadana, formulir spesimen tanda tangan. Gw tidak melakukan hal ini, krn gw masih ngerasa belum jelas, jd gw minta dijelasin langkah2nya lewat email dan kemudian dikirimlah semua formulir itu ke email gw.

2. Isi formulir. Ini bisa diisi langsung (file PDF yg bisa diisi) tapi gw cenderung ngeprint dulu formulirnya, baru gw isi. Scan semua formulir yang udah diisi dan ditanda tangan.

3. Transfer dana ke rekening penampungan SAM SIEF, dalam hal ini di bank custodian di Deutsche Bank atau bisa juga ke rekening BCA nya. Oiya, kecuali SIEF, semua reksadana SAM pake custodian di CIMB Niaga, jadi kalo punya rekening di Niaga lebih gampang krn online. Oya, semua reksadana SAM tidak ada subscription fee lho. Dan kayaknya juga gak ada redeem fee. Memang di prospektus disebutkan subscription fee 2% tapi waktu gw konfirmasi ke marketing, katanya belum diberlakukan. Jadi kalo mau investasi 250 ribu (syarat minimalnya) ya transfer senilai segitu juga.

4. Kirim semua dokumen itu, yaitu formulir nasabah baru, formulir pembelian reksadana, formulir tanda tangan, bukti transfer, KTP, NPWP. Jika dikirim sebelum jam 13.00 dapat harga hari itu. Ini dilakukan supaya kita cepat dapat harga hari itu aja. Secara prosedur harus tetap kirim dokumen hard copy ke kantornya (lihat langkah berikut). Kalo mau woles, ya nggak usah. Nanti akan ada balasan bahwa formulir sudah diterima dan akan diproses hari itu juga jadi bisa dapat harga hari itu.

5. Kirim hardcopy semua dokumen tadi lewat pos tercatat/kurir (kayak JNE) ke alamat kantornya di Kuningan sono. Gw kirim pake JNE sehari sampai.

6. Sekitar 2 minggu kemudian datanglah surat konfirmasi bahwa gw sudah melakukan pembelian reksadana SAM SIEF. Hore!

Prosesnya emang agak sedikit ribet, karena SAM nggak ada layanan jemput formulir seperti MI tetangga yg juga gak jual produknya di agen penjual manapun. Jadi agak rempong di proses scan semua dokumen yang udah ditanda tangan, trus kirim lagi ke mereka, trus kirim hard copy nya. Trus tiap top up juga isi formulir lagi, transfer, kirim email, kirim hard copy. Saran gw, klo tertarik sih lebih enak autodebet, nggak ribet. Gw pribadi belum memutuskan untuk autodebet, baru beli sekian trus gw diemin aja dulu.

Btw sambil bikin tulisan ini gw liat ke website SAM eh ternyata sekarang ada fasilitas online report. Jadi kita bisa lihat portofolio kita di SAM. Wah pdhal gw baru aja beli bulan lalu, eh udah ada fasilitas ini. Mudah2an di masa mendatang bisa top up online tanpa harus kirim berkas hard copy lagi ya.

Rabu, 08 April 2015

Sekali lagi, bedakan antara menabung-investasi-proteksi!

Kenapa gw perlu bahas ini lebih jauh? Krn gw sangat, sangat gatal, bukan gatal di kulit, tapi gatal pengen nabok! Iya, gw pengen nabok orang2 yg ngomong (lbh tepat ngajakin sih) NABUNG aja di ASURANSI, dibanding di bank! Yg ngomong ini ndilalah kok kebanyakan agen asuransi ya?!! Mau meningkatkan literasi keuangan atau mau membodohi orang2 supaya mereka "nabung" uangnya di asuransi sehingga mereka dapat komisi besar hasil membodohi orang2 lugu? *sigh*

Maaf ya, gw yakin yg ngomong itu adalah oknum, krn msh banyak agen asuransi berdedikasi tinggi untuk mencerahkan masyarakat dengan memberi pengertian yang BENAR tentang ASURANSI, yaitu adalah produk PROTEKSI. Jadi kita BELI asuransi, kita keluar biaya. Namanya BELI ya berarti uang nggak kembali dong!

Sebenernya ada bbrp tipe asuransi, yg murni dalam artian uang tidak akan kembali, namanya asuransi berjangka (term life). Kemudian asuransi disertai dengan tabungan, bukan uang kembali namanya, itu namanya asuransi seumur hidup (whole life). Kemudian ada lagi asuransi dengan jaminan keluar sejumlah uang tunai di tahun tertentu, namanya asuransi endowment. Nah karena nilai tunai asuransi endowment dipandang kekecilan untuk tujuan keuangan, maka terbitlah yg namanya asuransi unitlink, yaitu asuransi beserta investasi dijadii satu. Jadi unitlink ini pada dasarnya produk asuransi. Produk asuransi, artinya ada biaya proteksi. Namanya biaya, ya berarti uang keluar, bukan uang kembali.

Pernah gw jabarkan di sini, sini, dan sini tentang pengalaman gw punya unitlink sampai 3 polis. Kapan2 gw akan menulis pengalaman gw punya asuransi berjangka yg sampai sekarang masih gw bayar polisnya.

Dalam pengelolaan keuangan, untuk mencapai tujuan keuangan dibutuhkan 3 hal ini, yaitu tabungan (sebagai dana darurat), asuransi (sebagai proteksi) dan produk investasi (untuk mengembangkan harta supaya nilainya tidak termakan inflasi). Produk investasi ini macam2 jenisnya, mulai kertas berharga (saham, obligasi), properti (tanah, bangunan kyk apartemen, kos2an, gudang, ruko), sampai bisnis (online atau offline). Keseluruhan investasi kan semua tujuannya sama, supaya mengembangbiakkan harta menjadi berlipat2.

Btw gw bukan ahli keuangan lho. Tapi gw hasil bny baca aja. Klo ada yg salah mohon koreksinya. Terutama di paragraf ini dimana gw udah mulai belibet jelasinnya :D

Kembali ke laptop. Jadi memang nggak pas sama sekali klo dibilang nabung di asuransi, nggak apple to apple. Salah besar. Salah kaprah yg terlalu besar. Nabung kok di produk proteksi. Ya bakal berkuranglah duitnya. Nabung kan buat ngumpulin duit, kok nabung di produk yg malah memakan duit.

Jadi ini ya kenapa banyak banget orang yg mengeluh udah nabung di asuransi kok uangnya malah berkurang. Kemudian ada yg bilang, nabung di asuransi itu harus jangka panjang, krn klo jangka pendek kan buat bayar asuransi. Lah, iya itu! BAYAR asuransi! Lho katanya tadi asuransinya udah sekalian. Yeee mana ada yg gratis di dunia ini keles. Mimpi kali yee.

Kalo nabung di reksadana? Nggak pas juga istilahnya. Reksadana kan nilainya naik turun. Misalnya akhir Maret NAB PDM 77rb sekian. Tgl 2 April NAB PDM turun berapa ratus perak. Ntar Senin naik lagi. Dan gitu terus pergerakannya. Ngikutin pasar modal. Tapi kalo jangka panjang uangnya berkembang biak mengalahkan inflasi (kalo jenisnya reksadana campuran atau saham).

Yang namanya "nabung" di asuransi alias unitlink itu, artinya premi yg lo bayar akan terbagi 2: masuk ke keranjang asuransi (BAYAR) dan masuk ke keranjang investasi (BERKEMBANG). Sampai 5 tahun (biasanya) yg masuk ke keranjang asuransi akan makin sedikit jumlahnya seiring waktu, sedangkan yg masuk ke keranjang investasi akan makin banyak.

Tapi eh tapi...kok bisa mencover sampai umur 99 tahun ya, kan katanya premi udah nggak masuk ke keranjang asuransi lagi, berarti kan gak BAYAR asuransi lagi. Ya memang bisa. Karena setelah 5 tahun, yang dipake untuk BAYAR biaya asuransi ada di keranjang satunya lagi, yaitu keranjang investasi. Jadi uang yang BERKEMBANG di keranjang investasi DIMAKAN (dipake buat BAYAR) sama biaya asuransi (Cost of Insurance atau COI). Dan inget juga, biaya asuransi ini akan makin meningkat sesuai umur. Makin banyak rider (asuransi tambahan) yg dipake, maka akan makin banyak biaya yg diperlukan, dan semuanya itu akan MEMAKAN premi yg skrg sudah seluruhnya masuk ke keranjang investasi. Apalagi klo punya rider kesehatan dan penyakit kritis, wehehehe...

Skrg ini mayoritas asuransi unitlink (yg menerbitkan perusahaan asuransi jiwa, berarti produk dasarnya asuransi jiwa) ngejual produknya sebagai asuransi kesehatan atawa investasi. Padahal semuanya sama sekali tidak benar sodara2! Yg namanya produk dasarnya asuransi jiwa ya sudah pasti produk itu adalah asuransi jiwa yang ditempelin asuransi kesehatan. Trus dijual sebagai asuransi kesehatan *gubrak* Kalo bilangnya investasi, ya sama aja, itu asuransi jiwa yg dipaket sama investasi. Tapi caranya ngejual nonjolin investasinya dengan bilang sekaligus pertanggungan jiwa seolah2 gratis. Salah cuy, kebalik. Kalo tau peraturan sih, yg ada perusahaan asuransi itu nanem duit investasinya di perusahaan manajer investasi alias reksadana. Ah ini banyak deh unsur udang di balik bakwannya.

Kesimpulannya apa? 3 hal ini semuanya penting. Tabungan, proteksi, investasi. Jadi jangan digabung! Inget aja, gak ada asuransi yg uangnya hangus yg rugi. Namanya juga beli proteksi. Proteksi itu intangible. Keuntungannya adalah, klo terjadi hal yg beresiko terhadap kita (meninggal, sakit, kecelakaan) keluarga kita nggak akan kesulitan secara finansial. Klo kitanya hidup, sehat dan selamat, kan justru bagus.

Trus juga nabung, walaupun ada resiko uangnya dimakan inflasi, sangat berfungsi sebagai dana darurat. Jangan sekali2 menaruh dana darurat di produk investasi apalagi produk proteksi!!! Huh kzl bgd krn gw pernah baca PP agen asuransi yg bilang bahwa asuransi berfungsi untuk mengumpulkan dana darurat, dana pendidikan, dana pensiun. Dasar ajaran gemblung!

Terakhir investasi. Investasi di produk investasi yg sesuai dengan kemampuan, profil resiko dan jangka waktu ya. Paling enak di reksadana, mudah dan bisa dilakukan dengan modal kecil. Silakan liat cara berinvestasi reksadana di sini, pengalaman gw beli reksadana di bank BUMN dan bank asing, serta langsung ke MI.

Mohon maaf bila saya salah menjelaskan, dikarenakan kurang banyaknya pengetahuan saya. Lebih jelas lagi silakan lihat di blog guru2 saya seperti Aidil Akbar, Ligwina Hananto, Prita Ghozie, planner saya mbak Yosephine, dan mbak Farah Dini.

Selasa, 31 Maret 2015

Beli Reksadana di MI Panin

Ini mungkin merupakan posting yang banyak ditunggu2, apa dan gimana caranya investasi reksadana di sebuah manajer investasi yg nggak jual produknya di bank manapun, alias beli langsung sama mereka.

Disclaimer:Penyebutan merk bukan merupakan rekomendasi atas pembelian produk dimaksud, namun sebagai cara mempermudah pembaca untuk mengerti apa yg gw tulis berdasarkan pengalaman gw pribadi. Produk reksadana tidak dijamin LPS dan mengandung resiko penurunan modal investasi. Kenali profil resiko sampeyan sebelum memutuskan membeli.

1. Karena semua reksadana Panin nggak ada yg dijual di agen penjualan (baik bank maupun sekuritas), maka untuk membelinya harus menghubungi RO-nya (Relationship Officer). RO ini pasti dong udah punya sertifikasi WAPERD. Mereka bisa kasih penjelasan rinci tentang investasi reksadana, kalo kita masih sangat lugu dan awam reksadana. Gw dikasih nomor kontak RO nya sama temen gw, dan ternyata temen gw ngasih nomor gw ke sang RO, dan gak lama kemudian ROnya menghubungi gw. RO ini bisa kita panggil datang ke lokasi kita untuk jemput formulir. Formulir akan dibawakan oleh mereka untuk kita isi. Kebetulan krn kantor gw dan kantor RO nggak jauh, dia cepet datang ke kantor gw gak pake lama. Untuk keterangan lebih jelas tentang MI Panin silakan intip link ini.

2. Syarat beli reksadana Panin gak ribet, bahkan udah bisa tanpa NPWP dan nggak perlu harus umur 21 tahun, yang penting punya KTP. Minimal pembelian awal dan pembelian selanjutnya rata2 250 ribu. Sub fee 2% jika beli biasa, 1% klo autodebet. Lumayan terjangkau kan.

3. Produk2 Panin rata2 menggunakan Bank Capek Antri sebagai bank kustodiannya, jd alangkah baiknya klo kita punya rekening di BBCA ini. Namun kita bisa autodebet dari beberapa bank selain BBCA, yg gw tau selain itu adalah BMRI, BBRI, BNGA (lah... knp gw jd pake kode emiten gini..wkwkwk...). Dulu sih kita akan diberikan nomor rekening penampungan dana di BBCA, tapi sejak akhir tahun lalu Panin sudah memberlakukan nomor Virtual Account di BBCA atas nama kita, sesuai reksadana yg kita beli. Misalnya gw mau beli reksadana Panin Dana Maxima (PDM), setelah formulir disubmit, kita akan dikasih nomor VA khusus PDM di BBCA atas nama kita sendiri, jadi ketika melakukan transfer ke rekening VA tersebut, secara otomatis BBCA akan mencatat bahwa kita yang beli PDM tersebut dengan nominal tertentu. Ngerti gak mksd gw? Soalnya sebelum ada sistem ini, PDM punya nomor rekening penampungan sendiri di BBCA atas nama PDM (bukan atas nama MI lho ya). Jd klo kita mau beli PDM, sesudah transfer kita harus konfirmasi ke RO bahwa kita udah transfer dana sebesar sekian, dan bukti transfer itu difoto kemudian diemail/BBM ke RO. Kalo nggak gitu, Panin nggak akan tau kita yg transfer dana buat beli, jadi mungkin aja nggak kecatat beli hari itu. Jadi sistem VA ini udah otomatis mencatat bahwa kita yg beli. Dah ah, jd belibet gini jelasinnya :)))

4. Transfer dana ke rekening VA sebelum jam 13.00 maka akan memakai harga pembelian hari itu. Udah tau ya tentang ini, kan juga udah ada di sini ulasannya. Nanti kita akan dapat notifikasi di SMS dan email bahwa status pembelian on progress, dan setelah sudah dinyatakan efektif (biasanya besok hari, kalo masih hari kerja) kita dpt SMS dan email lagi.

5. Gw suka bgt fasilitas autodebet dari Panin ini, krn secara rutin Panin akan mengingatkan kita utk sedia dana di rekening yg akan di autodebet melalui SMS dan telepon jadi nggak kelupaan untuk mengisi dananya (OOT, gw seringan keabisan dana sblm waktunya autodebet LOL tp nggak pernah gagal debet sih). Keliatannya emang ganggu, apalagi gw yg sedang punya autodebet di Panin sebanyak 5 reksadana sekaligus. Untuk autodebet, maka kita harus beli perdana dulu, dan autodebet Panin hanya bisa tanggal 1 atau 16, gak bisa tanggal lain.

Ok, karena gw bikin ini di malam hari dan sambil ngantuk, mudah2an bisa memberikan kejelasan. Kalo ada yg mau ditanya ttg beli reksadana di Panin, silakan telepon aja di link yg gw kasih tadi.

BTW RDS PDM merupakan RDS yang NAB nya paling tinggi se Indonesia... tapi ini nggak ngefek ya. Jgn anggap mentang2 NAB tinggi lalu bilang klo lbh baik beli Panin Dana Prima krn lbh murah. Sama aja keles. Cuma beda di banyaknya unit yg didapat aja, selebihnya sama. Yang penting dalam investasi reksadana: Kinerja RD yg ingin dibeli. NAB murah tp kinerja dodol godol ya ngapain juga dibeli. Tingginya NAB mencerminkan (selain umur), produk ini growth nya cukup pesat.

Jumat, 05 Desember 2014

Beli reksadana di Bank Commonwealth

Lanjut lagi cerita tentang gimana cara beli reksadana. Based on pengalaman pribadi juga. Sebelumnya gw udah pernah bikin tulisan di sini tentang cara investasi reksadana yang benar dan di sini tentang beli reksadana di bank plat merah yang warna dasarnya dominan biru logonya pita emas.

Bank Persemakmuran ini udah tenar banget dikenal sebagai supermarket reksadana yang jualannya lebih banyak daripada Mandi-ri dan caranya pun sungguh nggak ribet karena punya fasilitas beli dan jual online. Dulunya malah untuk beli reksadana pertama kali bisa lewat online, tapi kira2 sejak tahun lalu untuk beli pertama kali harus datang langsung ke bank, selanjutnya baru bisa top up online. Top up itu artinya beli lanjutannya yak.


Disclaimer: Penyebutan merk di sini sekedar untuk memudahkan saja, bukan rekomendasi untuk dibeli. Kalo mau tau gimana kinerja RD yg gw sebut, silakan ke website Infovesta, disana lengkap banget reviewnya, dan putuskan sendiri mau beli RD apa.


1. Cek ke websitenya, Persemakmuran jual reksadana apa aja. Persemakmuran punya suatu MI afiliasi, tapi dia juga jual reksadana dari MI lain yang bisa dianggap sebagai MI sejuta umat (yg tenar kan biasanya MI asing kayak Schroder atau BNP Paribas atau Manulife). Saat ini gw memutuskan, sebagai contoh, reksadana saham dari Schroder yang namanya Schroder Dana Istimewa (SDI) (baca yeee klausul Disclaimer gw di atas!!!) Btw kenapa gw pilih, karena setelah gw liat review reksadana ini berpotensi lumayan. Suka-suka dong. Selain si SDI ini, gw juga beli RD Schroder lainnya, dan juga RD dari MI lainnya. FFS dan prospektus SDI bisa ditemukan di sini. Tapi biasanya bank agen penjual mempunyai kebijakan sendiri berapa jumlah minimal pembelian dan auto invest. Saat itu gw memutuskan investasi sebesar nilai minimalnya rutin setiap bulan.


2. Pergi ke cabang Persemakmuran dimanapun. Karena ini bank asing, kantor cabangnya agak jarang. Monggo bisa liat di sini. Mantapnya, semua CS sudah punya sertifikat WAPERD. CS sangat ramah membantu. Prosedurnya sama kayak beli RD dimanapun, mengisi kuesioner profil resiko, menyerahkan deposit.


3. Karena debet otomatis rekening, jadinya harus sudah jadi nasabahnya dong! Jadi awalnya mengisi formulir untuk membuka tabungan biasa, kemudian mengisi kuesioner profil resiko, memilih reksadana yg akan dibeli, apakah mau sekali beli aja atau auto invest. Jangan lupa bawa KTP dan NPWP. Walaupun NPWP bukan mandatory tapi sampai sekarang aturan mau investasi reksadana harus punya NPWP belum dicabut ya, kelak katanya syarat ini mau dihapuskan. Oh iya, bisa juga pake NPWP suami atau orang tua, sertakan juga KK (kartu keluarga, bukan kartu kredit). Btw, sebenernya bikin NPWP itu mudah lho, nggak nyusahin. Gw nggak tau jenis tabungan gw yg mana, kalo nggak salah namanya Comm Save, jadi nggak ada buku tabungannya, cuma dikasih kartu ATM sama token internet banking.


4. Jika semua proses ini selesai di bawah jam 12.00, maka harga NAB RD yg dipake adalah NAB hari itu. Tapi kalo diatas jam 12.00 maka pake harga besoknya. Memang biasanya cut off beli RD jam 13.00, tapi banyak bank yg kalo kita beli manual (bukan online) hanya bisa sampai jam 12.00 krn abis itu mrk harus proses lagi urusan ke MInya.


5. Selesai semua, maka kira2 1-2 minggu setelah melakukan pembelian awal reksadana ini, akan tiba surat konfirmasi pembelian reksadana dikirim ke alamat rumah. Di situ akan tercantum beli reksadana apa, dapat NAB berapa, berapa jumlah unit didapat. Walaupun kita nggak top up, kita tetap mendapat surat konfirmasi kepemilikan.


6. Untuk top up internet banking, justru sangat mudah sekali sodara2! Yang penting nggak gatek ya. Masuk ke login internet banking, klik di reksadana mana yang mau dibeli (kalo cuma punya 1 ya yg muncul cuma 1 nama, kebetulan gw beli banyak reksadana di Persemakmuran, jadi gw tinggal milih mau reksadana mana yg gw top up), masukkan nominal pembelian (subscribe), klik klik klik aja, jadi deh kita beli. Seperti biasa, kalo dibawah jam 13.00 kita dapat NAB hari ini, setelah jam 13.00 dapat NAB besok.


Enaknya di Persemakmuran, kita bisa pilih tanggal debet kapanpun, dan kalo mau top up nggak usah ke kantor cabangnya. Hal ini yg nggak dimiliki oleh bank plat merah itu. Sayang ya. Hari gini beli reksadana nggak bisa online? Hadeh...


In my opinion, sampai sejauh ini gw merupakan fans berat SDI. Menurut gw performanya stabil, waktu turun kemarin nggak terlalu anjlok, naiknya pun seimbang sama IHSG sebagai pembandingnya. Pokoknya gw suka banget beli reksadana lewat Persemakmuran ini!

BTW tolong ya tolong... gw nyebut2 nama SDI bukan berarti lo bisa ngikutin langkah gw dengan mentah2. Nggak lucu lo mau masukin semua duit lo di SDI yg merupakan reksadana saham utk dipake buat biaya kawin tahun depan! Liat produk, liat tujuan, liat jangka waktu. Itu 3 hal yg harus selalu diingat sblm investasi di produk investasi apapun. Khusus reksadana, cek kredibilitas MI antara lain dgn cari tau brp AUM nya. Di bawah 25M lewat aja deh. Kalo bisa sih yg AUM diatas 100M.

Mudah2an tulisan (yg udah diedit) ini membantu utk yg mau investasi reksadana. Krn gw geram td masih aja menemukan orang yg tanya2 investasi reksadana ke orang yg nggak tepat! Gw juga nggak sih (gak punya ijin WAPERD), tapi kan gw sharing, bukan membuka kelas belajar dgn mengutip biaya untuk belajar reksadana, padahal siapa deh looo (masih ada hubungannya ama tulisan gw yg dulu, hehehe), atau jualan (diulang: JUALAN) e-book... pdhal yg ahli reksadana kayak Lisa Soemarto juga gratis ngasih e-book reksadananya... :p duile... segitunya amat serakah cari duit...

Rabu, 05 Februari 2014

Beli reksadana di Bank Mandiri

Kebetulan ada ide tulisan menarik, ya gw tulis aja. Gw nulis dgn judul ini base on pengalaman pribadi aja ya. Tahun 2011 setelah mulai kenal produk investasi reksadana, gw memberanikan diri beli reksadana. Gw bny diajarin temen gw Dina reksadana bisa beli di bank mana aja, nah dari situlah gw cari info.

Disclaimer: Penyebutan merk di sini sekedar untuk memudahkan saja, bukan rekomendasi untuk dibeli. Kalo mau tau gimana kinerja RD yg gw sebut, silakan ke website Infovesta, disana lengkap banget reviewnya, dan putuskan sendiri mau beli RD apa.


Bank pertama yg gw datengin adalah Mandi-ri. Gw kesini dulu krn gw punya rekening di sini, pikiran gw biar gak terlalu ribet. Begini langkah2nya:


1. Cek ke websitenya, Mandi-ri ini jual reksadana apa aja. Kan reksadana banyak tuh jenisnya. Krn gw pengen beli reksadana saham, gw cek ke web, dan gw memutuskan beli RDS yang dikeluarkan MI Mandi-ri juga, namanya Mandi-ri Investa Atraktif (Mitra). Namanya juga coba2 kan ya. Gw baca di Fund Fact Sheet si Mitra ini, kayaknya ok deh. Saat itu Mitra bisa dibeli dengan pembelian awal minimal Rp. 500rb dan pembelian berkala selanjutnya minimal Rp. 100rb. Dan seinget gw, gak ada biaya subscription fee.


2. Pergi ke cabang Mandi-ri di manapun. Sebaiknya ke cabang yg agak gede dikit. Karena sesuai aturan OJK, yg boleh melayani penjualan reksadana adalah CS yg udah punya ijin WAPERD, nah lho apa itu? Singkatannya Wakil Agen Penjual Efek Reksa Dana. Gak semua cabang Mandi-ri punya CS yg berijin WAPERD. Banyakan malah adanya Financial Advisor yg jualan unitlink Aksa Mandi Sendiri, hihihi... :p tanya kenapa!! CS ini akan menjelaskan dengan detail tentang seluk beluk reksadana dan terutama resiko investasi di reksadana (sesuai SOP). Memang begitu yg bener. Gak kayak FA-nya yg bnykan ngibulin nasabah buat nabung yg bisa dpt asuransi dan hasilnya lebih besar dari deposito (tapi boong). OOT, temen gw ada yg udah kena kibul, rugi setoran pertama 500rb. Dia misuh2 krn niatan awal dia mau buka TRM. Ya begitulah kalo kejepit target dan menghalalkan segala cara. Gw bilang, tutup rekening Mandi-rinya, jgn diisi2 lagi! Pindah ke bank lain aja! Atau cabang lain.

(Update: Pengalaman bbrp hari lalu nganterin temen yg mau investasi reksadana, sampai harus dtg ke 3 cabang Mandi-ri baru bisa buka krn di 2 cabang pertama yg pegang lisensi WAPERD lagi gak ada di tempat. CS Mandi-ri emang gak semuanya punya WAPERD. Beda sama bank asing warna kuning tuh...)

3. Harus udah jadi nasabah Mandi-ri. Krn kalo mau beli RD berkala, uangnya akan didebet dari rekening tabungan. Kalo belum, ya jadi nasabahnya dulu atuh! Bawa KTP, buku tabungan, ATM, NPWP. Nanti kita akan dibukain rekening khusus reksadana (bukan rekening tabungan biasa).


4. Di rekening (kalo udah punya) harus ada isinya sebesar minimal nominal pembelian pertama reksadana yang mau dibeli. Krn gw beli Mitra yg syarat minimal pembelian perdana Rp. 500rb, jadi rekening gw didebet sebesar gopek itu. Oh iya gw memutuskan beli berkala si Mitra ini, dan katanya Mandi-ri untuk pembelian berkala hanya bisa otomatis setahun tapi setelahnya bisa diperpanjang, jadi gw jajal beli berkala selama setahun dulu.


5. Jika semua proses ini selesai di bawah jam 12.00, maka harga NAB RD yg dipake adalah NAB hari itu. Tapi kalo diatas jam 12.00 maka pake harga besoknya. Memang biasanya cut off beli RD jam 13.00, tapi banyak bank yg kalo kita beli manual (bukan online) hanya bisa sampai jam 12.00 krn abis itu mrk harus proses lagi urusan ke MInya. Kebetulan saat itu gw dateng ke bank jam 10 dan jam 11 udah kelar, jd gw dapat NAB hari itu juga.

6. Gimana tau kalo kita sudah berhasil beli reksadana? Sekitar 2 minggu kemudian biasanya akan datang surat konfirmasi pembelian RD ke alamat kita. Disitu tercantum kita beli RD apa, tanggal berapa, NAB berapa waktu beli, dapat berapa unit penyertaan. Surat ini walau kopnya atas nama MI tapi yg menerbitkan bank kustodian. Pokoknya tiap beli RD pasti dapat surat konfirmasi ini. Boleh disimpan boleh dibuang, tapi sebaiknya simpan surat konfirmasi yg paling akhir. Kalo gw pribadi, surat ini dipake jadi mainan ama anak2 gw -__-


7. Ini sisi buruk Mandi-ri menurut gw. Kalo kita mau top up, ya harus manual, dateng lagi ke bank, beli lewat CS, debet uangnya, dst. Sejauh ini beli RD di Mandi-ri tidak bisa online. Kalo mau beli RD di Mandi-ri, sebaiknya pake sistem beli berkala (DCA). Kecuali mau repot2 antri di CS yg luama banget itu utk top up RD, misalnya mau nungguin duit banyak dulu.


Oh iya, ini murni pendapat dan keputusan gw pribadi. Setelah berjalan 1 tahun dan otomatis berakhir, gw memutuskan tdk memperpanjang beli Mitra secara berkala, krn gw liat jalannya lelet kayak keong! Di saat bersamaan gw juga buka rekening pembelian RD di bank asing lain (kapan2 gw cerita di blog), selain lebih enak karena bisa top up online, RDS jualannya pun lebih banyak, dan RDS yg gw beli disana lebih kinclong sinarnya dibanding Mitra. Ada sih bbrp RD yg dijual di Mandi Sendiri yg juga dijual di bank asing itu (sebagai contoh, selain Mitra, gw juga beli BNP Paribas Ekuitas di Mandi-ri, cuma Rp. 500rb dan nggak berkala, sedangkan di bank asing itu gw juga beli BNP Paribas Ekuitas dg sistem beli berkala bulanan), tp krn gw merasa sistemnya lebih enak di bank asing, ya udah gak gw terusin beli RD di Mandi-ri.


Kelebihan Mandi-ri ini ya jelas, karena cabangnya lebih banyak, jadi teorinya bisa beli reksadana di Mandi-ri manapun juga, yang penting di cabang itu ada personel yg punya ijin WAPERD utk jelasin tentang RD, titik.


Tambahan, berdasarkan poin nomor 4 di cabang gw beli RD, mereka hanya bisa autodebet selama 1 tahun dan selanjutnya diperpanjang nggak otomatis alias harus datang lagi utk minta perpanjang. Tp di cabang adik gw beli RD, gak ada kata2 ini, alias bisa seterusnya, kecuali kalo mau brenti baru datang ke cabang minta berenti autodebet. Nah mungkin aja tiap cabang beda2 prosedurnya (padahal sama2 bank yg sama ya, aneh). Namun demikian kelemahan utama Mandi-ri memang belum ada mekanisme online utk top up RD.

(Update: temen gw juga udah membuktikan ternyata autodebet bisa lebih dari setahun! Berarti gw yg gak beruntung, dibilang hanya boleh autodebet setahun)

Minggu, 19 Januari 2014

Cara Investasi Reksadana (yang bener dan sesuai peraturan!)

Gara2 kemarin di timeline twitter gw rame ttg investasi reksadana melalui jasa titip, gw jadi ikut2an gerah bikin tulisan di blog. Jarang2 nih gw nulis, sekalinya nulis serius banget. Karena ini persoalan serius! Gw adalah investor reksadana yang masih terhitung baru, sejak 2011, dan sampai saat ini gw masih terus belajar dan belajar. Sumber acuan gw rata2 dari blog dan twitternya para independent financial planner seperti Aidil Akbar, Lisa Sumarto, Ligwina Hananto, Prita Ghozie, dan lainnya. Juga ada beberapa teman gw yg pernah belajar langsung sama mereka (walau akhirnya tahun 2013 gw juga belajar langsung dari mereka dengan ikut trainingnya). Gak melulu tentang reksadana, tapi intinya adalah belajar pengelolaan keuangan, minimal skala pribadi dulu. Karena ternyata pengetahuan tentang pengelolaan dan perencanaan keuangan itu WAJIB diketahui oleh SEMUA orang, bukan cuma lulusan ekonomi doang, bukan cuma orang2 yang kerja di industri finansial doang. Ibu rumah tangga, pelajar, mahasiswa, karyawan, bahkan pekerja informal wajib tau ttg pengelolaan keuangan yg baik, sebab ini cikal bakal Indonesia sejahtera. Bukan cuma melulu hanya untuk orang yg duitnya kelebihan, juga bahkan wajib untuk orang2 yg ngakunya penghasilannya selalu gak cukup setiap bulan.

Oke, kalo dibahas tentang perencanaan keuangan secara lebih luas maka tulisan ini akan bisa ngalor ngidul kemana-mana. Sekarang topiknya tentang reksadana dan seorang yang katanya sih terkenal, religius, yang menawarkan pembelian reksadana secara titip dengan pembagian 70:30. Ok..gw manggut2 melihatnya. Eh salah. Gw melongo kayak orang dongo membacanya. Gak salah nih??


Reksadana adalah SALAH SATU produk investasi yang bisa dimiliki dengan modal minim, bahkan cuma 100 ribu sekalipun. Salah satu ya, berarti investasi itu gak cuma lewat reksadana, bisa aja dengan cara beli emas perhiasan, logam mulia, properti, tanah, usaha kos2an, obligasi, saham, surat berharga dan usaha. Oh iya krn pengetahuan gw minim jadi gw menjelaskan dg bahasa gw aja ya.


Nah kalo bentuk investasi kan pasti perlu modal lumayan besar tuh. Beli logam mulia 1 gram (500 ribu) cuma bisa di kantor pusat Antam krn kalo di toko emas biasa udah pasti susah nyarinya. Beli properti apalagi, modalnya harus ratusan bahkan miliaran. Gak usah percaya dg kata2 yg bilang beli properti tanpa utang atau perlu duit cuma dikit, itu cuma ilusi dan khayalan aja, kalopun bener pasti ngelanggar aturan.


Sekali lagi, reksadana bisa dibeli dengan uang 100 ribu doang. Wah asyik dong. Emang asyik. Gw waktu baru pertama kali tau tentang reksadana aja nyesel bgt kenapa baru tau produk ini tahun 2011, itu pas gw lagi hamil anak kedua. Padahal reksadana udah ada di Indonesia sejak gw SMA-kuliah, yaitu tahun 1995an gitu. Tapi saat itu mungkin RD hanya dijual ke pemilik dana yg banyaknya sealaihim gitu, istilahnya sekarang nasabah prioritas, yang isi rekeningnya bisa miliaran. Gw juga gak tau mulai tahun berapa RD bisa dijual secara ketengan dengan jumlah cuma ratus ribu aja, mungkin sekitar tahun 2000an. Maaf ya, gak bantu :) googling sendiri aja deh.


Reksadana ada 4 jenis:

1. Reksadana saham, isinya kumpulan saham2 yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Return nya paling tinggi, tapi resikonya juga gede banget. Makanya disarankan hanya dipake untuk tujuan jangka panjang, klo profil resiko kamu adalah tipe yg ngeri dg duit yg nilainya turun, disarankan dipake diatas 10 tahun, misalnya buat biaya anak masuk kuliah, dana pensiun.

2. Reksadana campuran, isinya sebagian kumpulan saham2 dan juga kumpulan obligasi, yaitu surat utang. Return lebih dikit dan resikonya juga lebih rendah dari reksadana saham.


3. Reksadana pendapatan tetap, isinya banyakan obligasi swasta ataupun pemerintah. Resiko dan return lebih rendah lagi dari reksadana campuran.


4. Reksadana pasar uang, isinya instrumen investasi pasar uang kayak deposito, dengan jatuh tempo dibawah 1 tahun. Ini resikonya rendah banget, karena itu return nya mirip sama tabungan atau deposito, beda tipis deh, paling cuma beda 1-2% aja. Cocok dipake buat tujuan 1-2 tahun untuk yg profil resikonya konservatif alias suka parnoan kalo duitnya berkurang banyak. Tapi inget ya untuk dipake dengan jangka waktu sependek mungkin. Mungkin cocok kalo tujuannya buat biaya kawin tahun depan, buat DP beli rumah/mobil 1-2 tahun lagi, buat ngumpulin dana liburan keluar negeri tahun depan, atau biaya umroh 1-2 tahun depan. Pokoknya yg jangka waktunya pendek2 gitu deh.


Perhatian sekali lagi! Karena gw masih cupu jelasin tentang teori, mending cari referensi tentang reksadana di sumber lain. Saran gw, pergi ke www.infovesta.com, www.portalreksadana.com, www.aidilakbar.com, www.qmfinancial.com, dan lainnya. Inget, jangan cari di website punya agen asuransi, apalagi orang yg ngaku2 pakar itu hehehe... Itu sumber kredibel. Bisa juga sih di web yg udah tau pasti penulisnya punya sertifikat Wakil Agen Penjual Efek Reksadana (WAPERD). Selain itu, skip aja deh...


Cara beli reksadana. Nah ini dia. Sebenernya banyak bank yang jualan reksadana. Misalnya BCA, Mandiri, BNI, BRI, Commonwealth, Citibank, HSBC, Niaga, dll. Tapi sependek pengetahuan gw sampai saat ini, dan ini juga berdasarkan pengalaman gw, bank yang memasarkan reksadana dengan modal secuil cuma ratus ribu kayak kita2 ini dan dijual ke nasabah ritel, bukan nasabah prioritas itu Bank Mandiri dan Commonwealth Bank. Gw tidak dibayar sama kedua bank tersebut, tapi gw punya rekening pembelian reksadana di kedua bank itu.


Selain lewat bank, reksadana juga bisa dibeli di kantor Manajer Investasi (MI). Apa itu MI? MI adalah penerbit reksadana. MI ini banyak banget, sama aja kayak bank yang banyak banget. Ada Manulife Asset (bukan Manulife Asuransi ya), Mandiri Investasi, Schroder Investment, BNP Paribas, Panin Asset, Bahana, Batavia, Danareksa, dll. Untuk lebih lengkap silakan cek lagi di www.infovesta.com, disana ada berbagai macam2 nama reksadana, dari situ aja udah ketauan siapa MI penerbit reksadananya. Sebagai contoh, gw beli reksadana lewat MI langsung yaitu reksadana dari Panin Asset, karena MI ini gak ada kerjasama dengan bank2 dimana gw punya rekening reksadana.


Jadi langkah2 beli reksadana adalah sebagai berikut:

1. Tentukan tujuan investasi reksadana (buat ngumpulin biaya kawin, buat ngumpulin biaya sekolah anak, buat ngumpulin dana pensiun)
2. Tentukan kapan uang yang diinvestasikan itu mau dipake. Jangka pendek, menengah, panjang. Beda waktu, beda juga reksadana yang dibeli. Gak bisa asal beli aja.
3. Ketahui profil resiko. Biasanya waktu kita mau beli reksadana, akan disuruh isi kuesioner jadi kita bisa tau profil resiko kita apaan. Apakah konservatif, moderat, agresif. Beda profil bisa beda produk.
4. Punya KTP.
5. Umur minimal 21 tahun.
6. Punya NPWP. Ini sering jadi pertanyaan, gimana kalo belum punya NPWP. Bikinlah, kan gampang! Tapi sebenernya bisa juga, misalnya masih mahasiswa belum punya penghasilan, pake aja NPWP orangtua. Nanti harus melampirkan KK yang menyatakan bahwa masih 1 domisili sama pemilik NPWP dan mengisi formulir pernyataan tidak punya NPWP. Atau ibu rumah tangga bisa pake NPWP suaminya, kan di KK udah pasti tertera nama suami dan istri.
(Update: keponakan gw yg msh di bawah umur akhirnya juga investasi reksadana, dan mrk gak pake NPWP. Katanya MI Panin dimana mereka beli, aturan terbaru gak mencantumkan syarat NPWP utk beli reksadana)
7. Punya duitnya dong!

Setiap reksadana itu diterbitkan oleh MI. Udah paham dong. Nah MI itu wajib memuat prospektus dari sebuah RD. Apa itu prospektus? Prospektus adalah dokumen yang memuat segala sesuatu tentang RD tersebut. Misalnya Panin Asset Management (PAM), sebuah MI menerbitkan reksadana saham yang namanya Panin Dana Maksima (PDM). Maka PAM harus memuat prospektus mengenai PDM di websitenya, umumnya berupa PDF file. Di prospektus dicantumkan apa komposisi dari PDM, berapa jumlah minimal setoran awal, berapa jumlah minimal pembelian selanjutnya, baik berupa pembelian berkala maupun yang tidak berkala, berapa besar subscription fee (biaya pembelian), berapa besar redemption fee (biaya penjualan, biasanya dikenakan jika umur pembelian dari sejak pertama belum 1 tahun), siapa bank kustodiannya (bank yang menampung dana pembeli RDS PDM), siapa nama pengelola investasinya, latar belakang masing2 personil pengelola investasi, dan sebagainya.


Karena gw memakai contoh produk reksadana saham Panin Dana Maksima, jadi gw analogikan begini aja ya. Jumlah minimal pembelian perdana PDM adalah sebesar 250 ribu. Cukup murah kan? Dengan subs fee sebesar 2% jadi dibutuhkan dana sebesar 255 ribu untuk mulai berinvestasi reksadana. Gak besar kan? Pembelian selanjutnya bisa dimulai senilai 250 ribu. Malah jika melakukan pembelian berkala, subs fee hanya sebesar 1%. Tidak ada biaya admin 200 ribu! Tidak perlu bagi2 hasil dengan skema 70:30 seperti yang diumumkan si pakar kucing reksadana! Semua uang dan hasil investasi ini 100% milik kita! Dan minimal pembelian pertama kali pun hanya 250 ribu, bukan 2 juta apalagi 20 juta! Coba, mirip kan dengan kita buka rekening bank di Bank Mandiri, yang bahkan harus memasukkan dana sebesar Rp. 500 ribu.


Lho, katanya reksadana bisa dimulai dengan biaya 100 ribu? Memang. Ini tergantung produk reksadananya. Karena contoh yg gw pake dalam hal ini PDM mensyaratkan pembelian 250 ribu, itu tercantum dalam prospektus. Lalu mana yang bisa mulai 100 ribu doang? Silakan intip di website Commonwealth Bank di bagian sini. Ini adalah bank supermarket reksadana, disana jual segala macam reksadana berbagai jenis dan merk. Nah disitu tertera lengkap reksadana jenis apa, berapa minimal pembelian awal, berapa minimal kalo autodebet bulanan. Ada kan yang 100 ribu? Memang sih untuk pembelian awal nggak ada yg 100 ribu. Tapi untuk investasi bulanan ada lho. Eng ing eng... Tapi sekali lagi, sebelum memutuskan akan beli reksadana yang mana, cocokkan dulu dengan profil resikonya ya, dan juga jangka waktu mau berapa lama investasinya, lihat prospektusnya, dan lebih baik lagi kalo intip kinerjanya, bisa dilihat di Bloomberg, Infovesta, Kontan, Bisnis Indonesia. Jadi gak mutung kalo hasil investasi beda dengan proyeksi.


Ingat ya, reksadana itu produk investasi, artinya bisa untung bisa rugi. Nggak dijamin LPS, nggak bakal ada yg namanya lembaga penjamin hasil investasi. Kenali, pahami caranya berinvestasi. Seperti slogan di logo reksadana, Pahami, Nikmati. Rajin baca kesana kemari. Dan putusan untuk investasi dengan segala resikonya merupakan tanggung jawab pribadi sendiri. Gak usah pake titip2 beli reksadana! Itu analoginya sama aja kayak lo nitipin duit gaji lo ditransfer ke rekening orang lain, dan tiap bulan dia tinggal ngasih duit ke lo sesuai permintaan lo, tapi dia minta fee 30% atas pengelolaan duit lo. Gak mau kan? Duit milik sendiri kok dititip ke orang lain yang bukan siapa2, bank aja cuma ngutip admin fee 12rb sebulan buat pelihara rekening dan ATM lo.


Update:

Ini semua pengalaman gw investasi reksadana di beberapa tempat sbb
Beli reksadana di Bank Mandiri, sini
Beli reksadana di Bank Commonwealth, sini
Beli reksadana Panin Asset Management, sini
Beli reksadana SAM Aset Manajemen, sini